
"Kak, udah boleh buka mata belum?"
Tanyaku pada Gerald. Mataku ditutup sapu tangannya saat masih berada di dalam mobil
"Iya boleh"
Gerald mengizinkankanku dan membuka ikatan di kepalaku perlahan.
Aku membuka mata dan terdiam, tak mengerti maksud Gerald membawaku ke dalam rumah kosong.
"Saya bangun rumah ini untuk kita nanti setelah menikah Mil. Gimana kamu suka?"
Tanya Gerald meminta pendapatku.
"Ahhhh.. terimakasih kak , aku suka. Tapi kenapa benar-benar kosong kak?"
Kataku senang namun bingung dengan kehampaan ruangan ini.
"Nah karena itu Mil, lusa izin cuti ya. Saya mau ngajak kamu pilih furniture buat rumah kita."
Kata Gerald padaku
"Kenapa gak sekalian pake jasa desain interior kak?"
Tanyaku bingung karena rumah ini sudah elegan, kalau dicampur tanganku .Bisa jadi mungkin tak seindah ini lagi.
"Gak mau Mil. Aku sengaja milih kamu untuk atur semua interior desain rumah kita dengan seleramu. Biar kamu betah di rumah."
Jawab Gerald yang meluluhlantahkan hatiku.
"Oh oke baiklah sayangku"
Aku mencubit pipinya dan berlalu melihat-lihat semua sisi rumah ini.
Aku melihat kamarku dan Gerald. Terlihat sangat besar, kemudian terdapat koridor yang menyambungkan ruang tidur kami ke ruangan lainnya.
"Ini ruangan apa kak? kenapa tersambung dengan kamar kita?"
Tanyaku.
"Ruang tidur anak kita nanti."
Jawab Gerald yang membuatku tak mampu berkata.
__ADS_1
"How lucky we are to have you."
Kataku
"We?"
Tanyanya bingung.
"Iya aku dan calon anakmu yang akan menempati kamar ini."
Kataku yang mendapat kecupan hangat darinya di kepalaku.
**
Aku dan Gerald mengambil cuti di hari yang sama. Kami sampai di salah satu furniture store terkenal di kota ini.
Aku mulai memilih tempat tidur, sofa, meja makan, dan perabotan lainnya sesuai seleraku.
"Mil, apa kamu gak salah tadi beli Gorden, Bedcover set, sarung bantal sofa dan handuk semua warnanya soft blue?"
Tanya Gerald.
"Enggak. Kan katamu seleraku."
"Baiklah. untung selera kita sama. kalau tidak, mungkin aku yang tidak betah"
Gerald menggerutu pelan.
"Aku denger. Beneran deh aku denger."
Protesku pada Gerald.
"Kak, aku boleh beli itu?"
Aku bertanya dan menunjuk pajangan dinding berwarna soft blue lagi.
"Anything."
Jawabnya agar aku tak bertanya lagi.
Aku sudah selesai memilih dan Gerald melakukan pembayaran.
"Tabungan berapa tahun tuh kak?"
__ADS_1
Tanyaku menggoda.
"Bisa dicari lagi. Tapi perempuan kaya kamu, susah dicarinya."
Gerald menggombaliku.
"Habis ini makan yaa"
Mintaku.
"Iya tapi jangan terlalu banyak ya, gaun mu tak bisa kita ubah lagi ukurannya"
Gerald mengingatkanku.
"Oke oke."
Jawabku kesal.
Kami berjalan sampai ke resto terdekat. Aku dan Gerald memesan 2 piring ayam goreng mentega dan tak lupa jus tomat.
"Ini nasinya untukmu, kemarin kan jas mu sedikit kelonggaran"
Kataku sambil memindahkan nasi milikku ke piringnya.
"Kamu makanlah sedikit nasi. Tadi kita banyak buang tenaga mengikuti gerakan lincahmu kesana kemari."
Kata Gerald sambil memberikan kembali separuh dari nasi yang tadi kuberikan.
"Baiklah, tapi nanti jangan salahkan aku kalau gaunku sobek."
Jawabku mengancam.
"Ohh kamu ngambek?"
Tanya Gerald sambil menertawakanku.
Selesai makan kami langsung pulang, Gerald mengantarku terlebih dahulu. Di dalam mobil, kami banyak bermimpi tentang masa depan.
"Mil, saya beruntung memilikimu."
Ucap Gerald padaku.
"Aku lebih beruntung"
__ADS_1
Balas ucapku padanya.