
Aku melihat foto Gerald. Aku mengucapkan permintaan maaf karena tak dapat menahan diriku sendiri. Malam ini aku tertidur dengan memeluk fotonya kembali. Sepertinya aku sulit melupakannya. Aku terlalu mencintainya.
**
Tadi pagi sekali Edward sudah dijemput ayah dan ibuku, katanya mereka rindu dan meminta Edward menginap disana. Mba Susan kutambahkan liburnya sampai Ed kembali.
Aku hendak berangkat bekerja ketika Eric memaksa masuk ke rumah.
"Lu udah buat gue marah Mil."
Ucap Eric.
"Salah gue apa sama lu?"
Tanya ku yang tak mengerti keinginan Eric.
Eric mulai memukul pipiku, lanjut memukuliku tanpa belas kasihan.
"Ampun Ric. Sadar Ric"
Aku mengaduh meminta ampunan darinya.
Namun seketika aku tak sadar apa yang terjadi, kepalaku tertiban sesuatu dari rak yang tersenggol. Kemudian, ketika aku sadar sudah berada di ranjang rumah sakit.
"M, maafin gue datang telat."
Dion berbicara padaku.
Aku memeluk Dion, aku sungguh ketakutan.
"Eric mana?"
Tanyaku.
"Di kantor polisi."
Jawabnya.
"Siapa yang bawa gue kemari Yon?"
Tanyaku pada Dion.
"Supir taksi mba"
Jawab perawat padaku.
__ADS_1
"Mana orangnya?"
Tanyaku pada suster.
"Baru saja pergi mba, pas mas ini datang."
Katanya sembari menunjuk Dion.
"Saya kira orang yang sama hanya ganti baju."
Ucap perawat membuatku bingung.
Lukaku tak parah, maka aku diizinkan pulang, sebelum pulang aku pergi menemui Eric di kantor polisi tempatnya ditahan.
Aku memang takut menemuinya, tapi aku ingin tahu apa ia melihat supir taksi tersebut dengan jelas.
Eric datang dengan wajah yang lebam dan bibirnya sobek.
"Siapa yang buat lu begini Ric?"
Tanyaku menyeka darah kering di bibirnya
"Apa-apaan sih M, udah disakitin masih peduli."
Dion kesal terhadapku.
Jawab Eric yang membuatku yakin malam itu aku tak salah lihat.
"Maksudnya?"
Tanya Dion.
"Nanti aja gue jelasin di jalan, yon"
Mintaku pada Dion.
Aku mencabut berkas tuntutan Eric, kami akan menyelesaikan secara kekeluargaan.
"Makasih Mil, gue minta maaf sedalam-dalamnya."
Kata Eric seraya meninggalkan aku dan Dion.
"Lu kenapa sih M kok dibebasin?"
Tanya Dion heran mendengar keputusanku.
__ADS_1
"Karena dia udah dapat balasan setimpal malah lebih parah."
Jawabku sambil berjalan menuju mobil Dion.
"Lalu tadi maksud Eric apa?"
Tanyanya
"Semalam gue ngintip dari balik jendela, taksi yang selalu berada di depan gerbang rumah. Kemudian Seorang laki-laki keluar dari kursi kemudi sesaat setelah lu pulang. Gue gak liat mukanya, tapi postur tubuhnya dan caranya berdiri mirip sama Gerald".
Aku menjelaskan.
"Makanya tadi perawat ngomong begitu?"
Tanyanya ikut menyatukan tiap potongan puzzle.
"Iya, lu sama Gerald punya bentuk dan tinggi tubuh yang sama. Makanya perawat bilang begitu."
Jawabku puas dengan analisaku, jika ia kembali aku akan bertanya alasannya meninggalkan kami.
Aku meminta Dion mengantarkanku pulang, hari ini sungguh hari yang panjang untukku.
"Gue anter ke rmh orangtua lu aja ya?"
Dion memberi saran sekaligus bertanya.
"Jangan, nanti orangtua gue malah kuatir liat memar gue"
Jawabku.
Aku sampai di rumah pukul 20.00, kami sempat mampir di jalan untuk makan.
"Tidurlah M, Gue pulang setelah lu tidur"
Perintah Dion padaku.
"Lu disini aja Yon, gue takut Eric dateng lagi."
Minta ku.
"Ya, kenapa lu bebasin kalo lu masih takut?"
Protesnya.
"Oh ya sudah kalo gak mau temenin gue."
__ADS_1
Ancamku yang membuatnya tak berani berbicara lagi.