(Im)Perfect

(Im)Perfect
Di ujung perpisahan


__ADS_3

Canggung yang kurasakan saat ini. Perkataan Dion semalam membuatku aneh. Aku bingung harus bersikap bagaimana.


Aku memilih duduk di kursi Lana dan Lana dikursiku.


Aku sengaja berbohong pada Dion, kubilang aku akan diantar ayah ke sekolah. Nyatanya tidak. Aku hanya masih bingung bagaimana nanti bersikap bila berdua diatas motor setelah obrolan tadi malam. Jujur aku tak mau melanjutkan. Aku mau kami seperti biasanya saja.


bip..bip.. Ponselku bergetar. Ku intip ada pesan dari Dion. Aku membacanya di kolong meja, takut terlihat Pak Rudi yang sedang mengajar.


Kenapa duduk disitu? Lu marah?


isi pesan dari Dion.


Bukan, Gue tadi minta contekan sama Grace.Terus Pak Rudi masuk sebelum gue tukeran duduk lagi sama Lana.


Aku membalas pesannya dengan berbohong.


Sebenarnya tadi malam sudah kuselesaikan PR Fisika ku. Setelah Dion menutup teleponnya semalam, aku tak dapat tidur. Jadi kuputuskan mengerjakan tugas dari Pak Rudi. Ada manfaat baiknya juga ternyata aku tak dapat tidur.


Oh gitu, nanti selesai pelajaran tambahan, pulang bareng gue ya.


Dion membalas pesanku dengan ajakkan.


Tuhan, aku menghindarinya tapi ia malah semakin dekat.


Aku berbicara pada Tuhan dalam hati.


Kalau aku menghindar, nanti Dion malah merubah sikapnya padaku. Aku juga takut kehilangannya.


Di atas motor ia bercerita tentang Mel. Tak biasanya ia membahas Mel. Tapi aku jadi mengerti mungkin maksud perkataannya tadi malam adalah hanya ingin memiliki jodoh yang paham dirinya. Kebetulan contohnya adalah aku. Kalau Grace atau Lana yang mengerti tentang Dion,pasti juga yang jadi contoh adalah mereka.


Akhirnya aku bisa bersikap biasa saja.


Ku akui, aku sangat mengerti keinginan Dion. Tanpa dia perlu bicara, cukup dia menatap saja aku sudah tau maunya.

__ADS_1


Karena sudah banyak yang Dion bagikan padaku, masalahnya, pandangannya, dan dirinya sendiri.


Sedikit banyak aku paham tentangnya.


Dion tidak suka banyak bicara. Dikelaspun jika ada perdebatan di luar pelajaran, Dion hanya menatapku dan aku mewakilinya berbicara.


"M, gak langsung pulang yah"


Dion memutarbalikkan stang motornya.


"Mau kemana?"


Tanyaku


"Mau makan laper. Temenin"


Pintanya padaku


"Oh yaudah. Aku kabari orang rumah dulu"


Bu, Aku pulang telat ya. Jam 7 nanti baru sampe rumah. Aku mau makan dulu sama temen.


Aku mengirim pesan pada ibu.


Ini masih ada lauk di rumah. Pulang aja kalo laper.


Ibuku melarang.


Yah bu udah puter balik. Nanti kubawain serabi mang Ari deh pas pulang. Oke?


Aku bernego dengan ibu.


Yaudah awas lama.

__ADS_1


Akhirnya ibuku menyetujui dengan sedikit ancaman.


"Gimana? Boleh? Kalo gak diizinin gue puter balik lagi nih"


Tanya Dion padaku.


"Boleh. Tapi nyogok"


Jawabku


"Nyogok pake apaan?"


Dion bingung.


"Pulangnya aku harus bawain serabi mang Ari"


Aku memberitau hasil negosiasi alotku dengan ibu.


"Dimana tuh?"


Dion bertanya letak kios yang kumaksud.


"Itu depan Walikota loh Yon"


Jawabku lagi.


"Oh yaudah nanti kita baliknya lewat situ."


Seru Dion bersemangat.


Dalam waktu 15 menit aku dan Dion sampai di kafe yang kami tuju. Jalanan begitu macet, banyak para pegawai kantoran pulang jam segini.


Dion memesan nasi goreng seafood dan Jus Jambu. Sedangkan aku memesan kentang goreng dan Jus tomat.

__ADS_1


Dion menyuruhku makan bersamanya. Aku suap ke mulutku 3 suapan nasi goreng miliknya. Aku masih kenyang, karena ketika tadi jam pelajaran tambahan berlangsung aku membawa gorengan yang aku cemili diam-diam bersama Lana.


__ADS_2