(Im)Perfect

(Im)Perfect
Kesadaran Dion


__ADS_3

"Papa Yon, ayo main cama Ed."


Rengek Edward di samping Dion yang masih koma.


"Papa Dion bobo sayang. Jangan berisik."


Ucapku pada Ed yang mulai rewel karena Dion tak juga bangun.


"NO, Papa Yon bangun plis. Ed mau main."


Tangis Edward memohon Dion bangun.


"Ed mainnya sama papa Gerald dulu ya, nanti kalo papa Dion bangun baru main sama papa Dion lagi."


Bujukku agar Edward tidak menangis.


Ketika Gerald hendak menggendong Edward, Edward menggenggam kencang tangan Dion yang ternyata memberi kekuatan pada Dion untuk bangun dari tidur panjangnya.


"Edd"


Ucap Dion lirih.


"Papaaaaa"


Edward kembali ke samping Dion dan memeluknya.


"Diooonn"


Aku pun ikut memeluknya.


Kami bertiga melepas rindu yang teramat. Takut kehilangan satu sama lain. Gerald pun keluar dari ruangan meninggalkan kami.


"Dion, maafin aku."


Ucapku tersedu.


"Ya M, itu kecelakaan."


Ucap Dion sambil mengelus kepala ku.


Aku segera memanggil dokter yang menangani Dion untuk melihat keadaan Dion yang baru sadar.


"Mujizat ya pak Dion bisa sadar dengan cepat."


Ucap dokter pada Dion.


Dion semangat untuk sembuh, sampai tiba ia hendak menggerakkan kakinya namun tak dapat ia lakukan.


"Kaki saya kenapa ya Dok?"

__ADS_1


Tanyanya panik.


"Kita periksa dulu ya Pak. Bisa jadi masih lemas karena efek obat."


Ucap dokter menenangkan kami.


Dion menjalani beberapa tes pemeriksaan. Aku menunggunya di ruang perawatanku dengan penuh harap dan doa.


"Kak, aku mau ke kamar Dion."


Ucapku pada Gerald.


"Besok ya Mil, ini udah malem."


Jawabnya menolak keinginanku.


Aku menurutinya dan terus melanjutkan doa yang terbaik untuk Dion.


Keesokan harinya kulihat tak ada Gerald di samping ku, maka ku putuskan untuk menemui Dion sendiri.


"Yon, gimana hasilnya?"


Tanyaku pada Dion yang sedang terbaring lemah.


"Belum, M. Katanya hari ini. Kamu disini ya."


Mintanya padaku.


Ucapku sambil saling menggenggam.


"Mil..."


Gerald membuka pintu ruangan mencariku.


"Ya kak?"


Tanyaku terkejut karena dia terlihat panik.


"Oh saya kira kamu dimana. Ya sudah saya keluar."


Ucap Gerald sembari menutup pintu.


"Itu Gerald?"


Dion ikut terkejut.


"Iya."


Jawabku.

__ADS_1


"Terus dia bilang kemana selama ini?"


Tanyanya sambil menahan sakit di dadanya akibat benturan saat kecelakaan.


"Gak, aku juga belum tanya soal itu."


Jawabku atas pertanyaannya.


"Kenapa? bukannya kamu waktu itu bilang pengen tau?"


Tanyanya lagi.


"Belum tepat Dion, yang terpenting dia selamat dan kamu juga selamat."


Ucapku sambil menyuapi sepotong apel ke mulutnya.


"Pak Dion, gimana udah enakkan?"


Tanya seorang perawat perempuan.


"Iya lumayan sus."


Dion menjawab sekaligus memberikan pergelangan tangannya untuk di cek tekanan darah.


"Oh syukurlah kalo begitu, pak. Dokter sebentar lagi mau menjelaskan hasil pemeriksaan pak Dion kemarin ya."


Ucap perawat sambil merapikan kembali peralatan medisnya.


Lalu ia keluar dan bergantian dengan salah seorang dokter spesialis saraf yang masuk untuk memberikan resume.


"Pak Dion, saya bacakan ya. Pak Dion mengalami kerusakan saraf motorik yang menyebabkan berkurangnya kekuatan motorik dari derajat ringan sampai berat bahkan bisa terjadi kelumpuhan total motorik."


Ucap Dokter menjelaskan.


"Jadi saya lumpuh gitu dok? Bisa sembuh?"


Tanyanya penuh kesedihan di raut wajahnya.


"Pemulihan atau kesembuhan tergantung dari derajat kerusakannya. Sistem saraf dapat dirangsang dengan cara latihan-latihan fisik, pak."


Ucap dokter yang membuat Dion makin terpukul.


Ku peluk tubuhnya yang lemah. Aku yakin ia dapat sembuh kembali.


"Mil, aku lumpuh. Urusin diriku sendiri aja aku pasti butuh bantuan orang lain. Gimana cara aku jaga kamu dan Edward?"


Ucapnya yang membuatku menitikan air mata.


"Dion kamu pasti sembuh, dokter kan bilang bisa dengan terapi. Ayo kita berjuang sama-sama."

__ADS_1


Ajakku menguatkannya.


.


__ADS_2