(Im)Perfect

(Im)Perfect
Dugaan Mami


__ADS_3

Tring, tring..


Ponselku berdering, kulihat di layar tertera nama oma Edward yang berarti mami Gerald.


"Halo Mi, ada apa?"


"Mami bingung, kok data-data yang jadi tanggungjawab Gerald update terus ya tiap hari?"


Tanya mami.


"Itu mily mi yang kerjain"


Jawabku.


"Kok kamu ngerti semua?"


Tanya mami lagi.


"Iya, Gerald sudah mengajarkan semua ke mily kalau terjadi apa-apa dengannya, Mily bisa bantu mami."


Jawabku mengingat tiap pesan Gerald.


"Kok aneh mil? Gerald kaya tau dia bakal pergi?"


Tanya mami yang membuatku ikut berpikir.


"Mungkin Gerald ingat masa kecilnya di tinggal papi, lalu mami mengurus semua dengan baik. Gerald ingin Mily seperti mami. Mungkin mi"


Jawabku ragu-ragu.


"Mami kenal betul Gerald pikirannya ke depan dan rencananya selalu matang , mungkin gak sih Mil ada sesuatu yang mengancam Gerald sehingga dia harus pergi?"


Tanya mami membuatku mengingat kejadian hari itu, ketika ada seseorang yang mendorongku begitu kuat sehingga aku terjatuh.


"Mily belum tau Mi soal itu, Gerald gak pernah cerita persoalan semacam itu."


Jawabku tak mau menduga-duga.


Lalu kami memutuskan sambungan telepon.


Aku mulai sibuk dengan pekerjaanku, aku harus mencari biaya untuk hidup bersama Edward, walaupun Gerald sudah memberikan kami kecukupan dengan ia memberikan tabungannya dan pemasukan bulanan dari perusahaan mami, tapi aku harus menggunakan kaki ku untuk berdiri.


Aku sudah mencari pengasuh untuk Edward, sudah ku training selama beberapa hari, jadi aku cukup tenang meninggalkannya.


"Mil, kamu udah makan?"


Tanya Bu Lea padaku, aku kembali bekerja ditempat ini pada posisi yang sama.

__ADS_1


"Saya bawa bekel bu."


Jawabku.


"Apa tuh mil?"


Bu Lea ingin tahu isi bekalku.


"Nasi goreng seafood"


Jawabku.


"Siang-siang makan nasi goreng?"


Tanya bu Mily tertawa.


"Gerald setiap di rumah minta di masakkin ini bu."


Jawabku mengingat semua tentang Gerald.


Membuat Bu Lea berhenti tertawa.


"Oke Mil, saya makan diluar dulu ya."


Bu Lea pamit kepadaku.


Tring tring..


Pengasuh Edward melakukan panggilan tatap muka denganku. Ini sudah menjadi kegiatan rutin kami selama sebulan ini.


"Halo jagoan mama"


Aku menyapa Edward yang sudah berusia enam bulan, dia cukup paham jika aku berbicara padanya.


"Mah"


Edward memanggilku. hanya itu kata yang ia bisa ucapkan saat ini.


Setelah lima belas menit kami melakukan panggilan tatap muka, kuminta pengasuhku untuk menidurkan Edward.


*Bip bip


M, gue ada disini, nanti pulang gue jemput.


Dion mengirim pesan padaku.


Aku tak habis pikir apa yang Dion lakukan kembali kesini. Setelah ia pulang dua bulan lalu, kini ia kembali ada disini.

__ADS_1


Dion membunyikan klakson mobilnya, menandakan keberadaannya yang menungguku.


"M, mampir makan dulu yuk"


Ajaknya


"Enggak deh Yon langsung balik aja gue kangen Ed"


Jawabku menolak.


"Oke"


Dion setuju.


Lalu kami berlalu tanpa singgah dimanapun.


"Kalo gue boleh tau, lu kenapa disini lagi?"


Tanyaku.


"Gue minta mutasi kesini"


Jawab Dion.


"Terus usaha keluarga lu gimana?"


Tanyaku.


"Gue buka cabang disini, jadi gue bakal menetap disini"


Jawab Dion menjelaskan.


"Serius? Istri lu ikut?"


Tanyaku lagi.


"Iya, dia nyusul dua minggu lagi"


Jawab Dion.


"Temuin gue ya, gue kan belum pernah kenalan."


Mintaku pada Dion.


"Hmmm"


Dion menjawab dengan malas.

__ADS_1


__ADS_2