
"Halo Mil, gue jemput ya?"
Jero menelponku dan bertanya.
"Oke"
Aku menyetujuinya.
Aku naik keatas motor sport milik Jero dan memeluknya.
"Tumben belum disuruh udah meluk"
Godanya.
"Gak boleh? ya udah gue lepas."
Aku melepaskan pelukanku dari pinggang Jero.
Aku melakukan ini hanya agar Sisca melihat. Dan Gerald melupakanku.
"Mil, pertanyaan gue kemarin udah seminggu ,lu gak..."
Jero belum menuntaskan kalimatnya.
"Iya gue terima."
Kataku penuh keterpaksaan.
Maafin gue Jer.
Aku menyesal di dalam hati memasukkan Jero dalam permainan ini.
"Mil ikut gue ke tongkrongan ya"
Ajak Jero.
"Oke"
Jawabku singkat.
Sesampainya disana, aku dikenalkan dengan teman-teman Jero termasuk Arysa.
Sepertinya aku tak berdosa-berdosa amat. Aku paham maksud Jero membawaku kesini. Walaupun ia tak jujur, tapi aku tau tatapannya pada Arysa.
Kami sama-sama memiliki kepentingan.
Ia hanya ingin membuat Arysa cemburu dan kembali padanya.
Arysa melihatku dengan tatapan sinis. Jujur aku sama sekali tak takut, bahkan dengan Sisca pun aku bisa saja membalasnya hari itu. Tapi tak kulakukkan karena Sisca memiliki mental yang lemah.
"Tumben Jer selera lu begini?"
Ia bertanya pada Jero lebih tepatnya mencemooh.
"Kenapa Emang Rys?"
__ADS_1
Tanya Jero pada Arysa.
"Gak apa-apa sih"
Jawab Arysa yang tak memiliki jawaban. Hanya sedang cemburu.
Aku berbaur dengan teman-teman Jero, aku lebih sering mendengarkan ketika mereka membicarakan soal mesin motor.
"Mil, bisa tolong ambilin gue minum?"
Minta Jero pada saat ia sedang membuka mesin motor salah satu temannya.
"Oke"
Aku ke belakang dan mengambilkan Jero minum.
"Sejak kapan lu kenal Jeremy?"
Tanya seorang wanita yang tak lain adalah Arysa.
"Sekitar 4 tahun belakangan ini"
Jawabku.
"Kok dia gak pernah cerita soal lu?"
Tanyanya makin ingin tahu.
"Kenal emang udah 4 tahun tapi deket baru beberapa bulan ini"
"Jero, nih"
Aku menyodorkan gelas berisi air dingin untuknya.
"Asikkk Jero"
Ledek teman-temannya.
"Iya, Panggilan sayang Emily buat gue"
Katanya bangga, membuat Arysa semakin kesal.
"Aduuuhh duh"
Teriakku kesakitan. Aku rasa Arysa sengaja menumpahkan kopi panas ke tanganku.
"Lu gak apa-apa Mil?"
Tanya Jero panik
"Gak apa-apa gimana? panas ini"
Jawabku sewot.
Jero mencuci tangannya yang kotor lalu mengobati lukaku dengan salep luka bakar.
__ADS_1
"Lu gimana sih Rys?"
Jero terlihat marah pada Arysa.
"Ya maaf, dia nya ngehalangin jalan gue"
Kata Rysa tak merasa bersalah.
"Pulang yuk Mil ke rumah gue dulu. Biar Olin obatin luka lu"
Ajak Jero.
"Kerumah lu? Olin? Emang dia udah sedeket apa sama keluarga lu?"
Tanya Rysa yang membuatnya makin terlihat cemburu.
"Gue sama Olin? nihhh"
Aku menautkan telunjuk kiri dan telunjuk kananku. Menandakan eratnya hubunganku dengan Olin.
Di perjalanan pulang, Jero terus meminta maaf padaku. Merasa bersalah atas perbuatan Rysa.
"Maaf ya Mil gue gak nyangka dia senekat itu"
Kata Jero.
"Gak apa Jer.. tapi lu seneng kan liat dia cemburu?"
Tanyaku padanya
"Maksud lu Mil?"
Dia balik bertanya.
"Udah jujur aja, lu nembak gue dan bawa gue ketongkrongan lu emang sengaja pengen liat reaksi Rysa kan?"
Kataku
"Sory Mil, gue akuin iya awalnya niat gue gitu. Tapi gue malah jadi ilfeel sama tindakan Rysa tadi"
Jawabnya jujur.
"Ya balikanlah Jer. Buat apa lu bohongin perasaan lu?"
Aku memberi saran.
" Kita baru resmi jadian tapi lu malah nyuruh gue balikan sama Rysa?"
Tanyanya bingung atas sikapku.
"Iya, sebelum terlalu jauh dan sakit mendingan dari sekarang."
Kataku mendukungnya.
"Gak Mil. Gue sadar sekarang, Lu lebih susah gue taklukkin daripada Rysa."
__ADS_1
Katanya yang membuatku heran atas perubahan misinya yang mendadak.