(Im)Perfect

(Im)Perfect
Kembali pada Gerald


__ADS_3

Gerald menginjak gas mobilnya. Ia meninggalkan Jero dan Sisca yang mematung melihat kepergian kami.


"Ini katamu saling menjaga dari jauh?"


Gerald meminta jawabanku.


"Saya tanya!! ini yang kamu bilang menjaga?"


Gerald berteriak padaku.


Aku masih diam tak menggubris apapun. Ia menepikan mobilnya.


"Emily, Siapa yang menyakitimu sampai kau seperti ini?"


Tanyanya penasaran.


"Aku, Aku sendiri"


Kataku dengan tatapan nanar.


"Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi, Mil"


Janji Gerald sambil memelukku.


"Terimakasih, tapi aku mau pulang."


Kataku pada Gerald.


Gerald mengantarku sampai rumah dan segera berpamitan dengan orangtuaku. Namun dicegah ibuku.


"Ger, temani Emily dulu. Kami mau ada acara mungkin pulang larut. Emily semenjak pulang kemarin seperti itu, Ibu takut dia kenapa-napa"


Ibu berkata pada Gerald.

__ADS_1


"Baik bu, saya temani Emily sampai ibu pulang."


Jawab Gerald menyetujui ibuku.


Aku masuk ke dalam kamar dan memilih berbaring di kasur meninggalkan Gerald. Aku tidak dapat merasakan apapun saat ini kecuali ketakutan yang besar.


Kemudian aku tertidur dan bermimpi tentang air besar yang menenggelamkan ku.


"Mil, bangun. Saya disini"


Gerald membangunkanku dan memelukku. Menurutnya aku mengiggau hingga saat tidur.


"Jangan tinggalin aku kak. Aku takut"


Aku berkata tanpa ingat janjiku pada Sisca. Aku lebih takut hal ini daripada ancaman Sisca.


Aku memeluk Gerald sekencangnya.


"Iya Mil, tidak akan lagi. Saya yang salah. Seharusnya dari awal tidak terjebak dengan Sisca."


"Mil, saya akan menyelesaikan semua masalah sekarang. Saya minta nomer handphone Jeremy. Saya akan meminta maaf dan meminta ia mengembalikanmu pada saya."


Kata Gerald yang tak kutanggapi. Lalu ia mengambil ponsel dari dalam tas ku dan ia menghubungi Jero.


Gerald mengajakku menemui Jero. Mereka berbicara empat mata, aku disuruh menunggu di mobil. Kemudian mereka menghampiriku, entah apa yang sudah dikatakan Gerald. Jero memintaku membuka kaca mobil dan berkata


"Gue minta maaf sekali lagi membawa lu masuk kedalam kekacauan ini. Gue emang belum pantes jaga lu. Mulai sekarang kita udahin hubungan ini Mil. kita berteman aja. Terimakasih "


Aku menarik bahu Jero dan berkata


"Maafin gue juga Jer. Semoga lu bahagia."


Kami berpisah dengan cara yang baik. Kemudian Gerald membawaku kembali ke suatu tempat dan ternyata ada Sisca di dalamnya.

__ADS_1


Gerald membicarakan perasaannya yang sebenarnya pada Sisca.


"Mau kamu berusaha sekeras apapun, hati saya tetap memilih Emily. Maaf Sis"


Sisca menangis dan berlari.


"Kak, kejar Sisca. Nanti kalau dia memilih mengakhiri hidupnya lagi gimana?"


Aku mengingatkan Gerald.


"Tidak usah Mil. Ia sangat mencintai dirinya sendiri, jadi tak mungkin ia melakukan itu."


Kata Gerald meyakinkanku.


Kami kembali pulang dan ia melihat cincin darinya yang masih melingkar di jariku.


"Nanti saya tambah satu lagi ya"


Katanya seraya memegang tanganku dan kemudian menciumnya.


Berbulan-bulan hubungan kami terjalin kembali.


Tanpa gangguan Sisca, kami tak tau keberadaan Sisca semenjak hari itu. Bahkan Richard pun tidak tahu Sisca dimana.


Gerald membawa orangtuanya menemui keluargaku, ia melamarku di akhir tahun.


Kami akan menikah dihari ulang tahun kami persis seperti yang kami rencanakan waktu itu.


Aku mengabarkan kepada semua temanku tak terkecuali Ria, Olin, Grace dan tentunya Dion.


Hanya Dion yang reaksinya diluar dugaanku. Ia terdengar kecewa.


"Kan gue bilang bareng sama gue M, Tapi ya udah, kalo ini sudah jadi keputusan lu. Tapi maaf banget gue gak bisa hadir"

__ADS_1


Kata Dion menutup sambungan telepon.


__ADS_2