(Im)Perfect

(Im)Perfect
Mimpi indah


__ADS_3

tok tok..


Udah jam sepuluh malam kok ada yang bertamu?


Gerutuku dalam hati.


Ku buka pintu tak ada siapapun. Hanya sekotak bingkisan yang entah dari siapa.


Untuk Mily dan Edward.


Tulisan yang kubaca di kartu ucapannya.


Kubuka isinya ada scraft berwarna soft blue dengan corak kuning dan satu set mobil-mobilan di dalam kotak yang sama.


"Mba susan, ini dari siapa ya?"


Tanyaku pada mba susan.


"Wah saya juga gak tau bu, saya sudah di kamar dari tadi."


Jawab Susan ikut bingung.


"Ya udah mba, istirahatlah"


Kataku pada mba susan yang sudah seharian lelah menjaga Ed.


Aku masuk ke dalam kamar dan memeluk foto Gerald sampai tertidur. Rasanya aku tak ingin bangun dari mimpi malam ini, aku melihat Gerald begitu dekat dan nyata, ia mencium keningku seperti yang sering ia lakukan. Tapi sayang hanya mimpi.


"Pagi Ed, kita jalan-jalan ke taman yuk."


Aku mengajak Edward karena ini hari Minggu.


"Mba, kamu istirahat aja udah capek kan jagain Ed yang makin aktif? sekarang giliran saya"


Ucapku pada mba susan yang membuatnya terheran.


"Ibu kenapa? kok bahagia banget?"


Tanya mba susan ragu- ragu.


"Gak apa-apa"

__ADS_1


Aku berlalu sambil tersenyum sendiri. Mimpi semalam mampu mengubah mood ku yang setahun ini memburuk.


Aku mendudukkan Edward di baby car seat miliknya. Selama perjalanan Edward sangat mudah diajak kerjasama, ia menyukai hadiah mobilan yang tadi malam aku temukan didepan pintu. Ia memainkannya begitu seru.


Kami menghabiskan waktu bersama. Makan Es krim, main ayunan, jungkat jungkit dan masih banyak lagi yang kami lakukan berdua.


Edward yang berusia satu setengah tahun ini, mulai fasih berbicara.


"Mah, papa"


Edward menunjuk ke arah pohon besar berada.


"Ed, gak ada papa disitu."


Kataku pada Ed.


Sesungguhnya aku merinding, kata orang tua dulu, anak umur sekecil ini masih sering di ganggu makhluk halus.


"Pulang yuk"


Aku mengajak Ed masuk kedalam mobil.


Sekarang ia menunjuk foto Gerald yang kupajang di dashboard lalu ia bergantian menunjuk ke arah pohon besar tadi.


Aku memang sering memberitahu Edward foto Gerald, agar ia tak lupa.


Apa tadi itu hantu Kak Gerald? Apa dia sudah benar-benar tidak ada di dunia ini?


Lamunku melantur. Aku harus percaya Gerald masih hidup. Lalu apa yang Edward sebutkan tadi? Aku tak tahu dan tak ingin mencari tau.


Aku Melajukan mobilku segera untuk pulang ke rumah. Sesampainya di rumah kulihat pemandangan yang lebih horor.


"Ngapain kamu disini? tau rumahku darimana?"


Aku bertanya dengan nada tinggi pada Eric .


"Aku membuntutimu kemarin"


Jawabnya.


"Mba, bawa Ed masuk ya."

__ADS_1


Aku memanggil mba susan.


"Hay ganteng"


Eric menyapa Edward yang membuatnya menangis ketakutan karena tidak kenal.


"Ada perlu apa?"


Tanyaku.


"Aku mau tanya, hari itu apa kamu benar mengejarku pada hari kesepuluh?"


Tanyanya mengulang masa lalu.


"Itu cerita lama, untuk apa dibahas?"


Tanyaku geram.


"Aku mau denger langsung"


Katanya memaksa.


"Iya. Tapi itu gak berarti apapun untuk sekarang"


Ucapku sinis.


"Kenapa kamu gak pernah bilang?"


Tanyanya sambil mendorong tubuhku merapat ke tembok.


"Apa mau mu? itu sudah lewat jauh, lupakan"


Kataku sambil berusaha keluar dari hempitannya.


"Harusnya kalo kamu bilang waktu itu, kita pasti masih sama-sama sampe sekarang"


Eric makin tak terkontrol, ia menyentuh bibirku dengan telunjuknya.


"Kamu yang sopan ya, Ric"


Aku mengancam dan aku mulai ketakutan.

__ADS_1


__ADS_2