
Emily, aku minta maaf tidak bisa bicara langsung denganmu. Aku harus menjalani fokus terapi di Singapore, aku kembalikan kamu ke suamimu, Gerald. Menikahlah besok untuk yang kedua kali dengannya. Salam sayang untuk Edward.
Dion.
Dion menitipkan sepucuk surat pada perawat yang menemani terapinya.
Aku menghubunginya berulang kali, namun tidak aktif.
Aku mengirim pesan padanya berkali-kali menunjukkan kekecewaanku. Aku yakin ia membacanya.
Dion jangan ngeprank dong. Gak lucu tau (9.52)
Dion angkatlah telepon ku (10.10)
Dion lu serius? (12.15)
Kata lu gak akan ninggalin gue dan Ed (12.16)
Kalo akhirnya gini, kenapa lu kasih gue harapan? (13.08)
Gue bukan barang yang bisa lu kembaliin seenaknya. (16.00)
Gue benci sama lu Yon (17.00)
Aku mencercanya dengan banyak makian. Aku mungkin sudah mirip dengan Sisca. Besok hari pernikahan kami dan ia meninggalkanku begitu saja.
"Mil, Gerald bersedia gantiin Dion."
Ucap ibu.
Aku yang masih meratapi nasibku mencoba berpikir positif menanggapi omongan ibu.
Sebenarnya aku bisa saja marah dengan ibu yang seenaknya berbicara seperti itu. Tapi aku tau ibu mau yang terbaik untukku. Maka aku dan Gerald membicarakan hal ini semalaman.
__ADS_1
"Menikahlah dengan saya untuk kedua kalinya. Kasih saya satu kesempatan Mil, saya akan tebus kesalahan saya dan jaga kalian semampu saya."
Itu yang Gerald ucap saat kami berbicara.
**
Hari pernikahan
Pagi-pagi sekali aku mandi dan bersiap, keluargaku pun terlihat tak kalah sibuk. Mereka memakai baju seragam yang sudah kami pesan. Seorang Make up artist sudah menungguku untuk mempercantik wajahku. Gaun putih ini ku kenakan begitu mewah dipadukan dengan make up dan tatanan rambutku.
"Mil, sudah siap?"
Tanya Gerald.
"Sudah."
Jawabku.
Ucap Gerald sembari mengusapkan air mata yang menetes.
"Terimakasih kak. Kamu juga gagah."
Aku memujinya balik.
Aku berjalan ke resepsi pernikahanku di gelar. Beberapa tamu undangan mungkin terkejut dengan penampakan yang berada di kiriku.
"Mil, lu cantik luar biasa."
Ucap Grace sembari memberiku selamat.
"Lu wanita terkuat yang pernah gue liat. Gue bangga sama lu."
Ria memelukku dengan erat. Tak hentinya kami menumpahkan air mata.
__ADS_1
"Mil, gue mau kasih berita bagus, gue hamil dong."
Ucap Olin diatas pelaminan. Ia memberiku kabar bahagia yang membuatku dapat mengembangkan senyum.
Keluarga dan teman-teman dekatku mendukung pilihanku begitupun Gerald.
Mereka berada di sisiku di masa-masa terpurukku. Bahkan Lana, Andi, Firman mereka semua menyemangatiku untuk terus melangkah.
Aku akan melalui hari terberat menjadi bahan omongan orang-orang yang suka menghakimi tanpa tau sebab. Gerald dan Edward menjadi supporter terbesarku dalam melewati hari-hari itu.
Hari itu pun terselesaikan dengan baik, aku akan menutup telingaku rapat-rapat dengan kedua tanganku. Aku akan menjalani hidup lebih baik lagi dan melupakan masa lalu.
"Ed yuk tidur."
Ucapku pada Edward yang melihatku terus menangis menghabiskan sisa stok air mataku.
"Mama dont cry, Ed cayang mama."
Ucap Edward yang selalu menguatkanku.
"Mil, nih minum dulu tehnya."
Gerald menyuguhkan secangkir teh hangat untuk menenangkanku.
Lalu ia membacakan Edward cerita sebelum tidur.
"Papa Yon mana?"
Tanya Edward di sela-sela cerita yang Gerald bacakan.
"Papa Yon masih minum obat jadi harus istirahat banyak, papa Gerald aja ya."
Ucap Gerald pada Edward.
__ADS_1