(Im)Perfect

(Im)Perfect
Seperti kekasih


__ADS_3

"Kamu kenapa senyum-senyum sendiri kak?"


Tanyaku yang tak ingat bahwa kalimat ku tadi berpengaruh pada suasana hatinya.


"Lagi bayangin punya istri yang labil kaya kamu"


Jawab Gerald seraya tersenyum lagi.


"Emang aku labil gimana sih maksudnya?"


Tanyaku penasaran.


"Katanya mau tidur, sampe sini gak bisa diem. Sedikit- dikit nyuruh saya terima Sisca, tapi lain waktu ngehayal nikah sama saya. Mau kamu tuh apa?"


Katanya makin jelas menertawakanku.


"Kamu!"


Jawabku singkat yang membuatnya berhenti menertawakanku.


Kami sibuk berfoto, aku menjadi pengarah gaya untuk Gerald. Dia begitu kaku.


"Kak, ini mau foto liburan, bukan prewedding"


Protesku.


"Sekalian aja yuk Mil"


Katanya seperti mendapat ide cemerlang dari protesku.


Tiba-tiba saja dia luwes memperagakan model-model foto wedding.


"Saya peluk pinggang kamu, kamu peluk leher saya ya Mil."


Gerald mengarahkan gaya kami.


"Tuh bisa. Pernah jadi fotografer atau pernah foto prewedding? "


Tanyaku bercanda.


"Hahaaha.. Sekali aja seumur hidup Mil."


Kami tertawa bahagia. Bersamanya aku benar-benar bahagia.


Sudah 153 foto kami ambil. Aku lelah, lalu kami memutuskan untuk kembali ke pondok.

__ADS_1


Sampai di cottage, aku merebahkan diri di kasur.


"Kak, kenapa aku bukan Sisca?"


Aku bertanya sambil memperhatikan langit-langit.


Bruuukk


Gerald merebahkan dirinya di sebelahku dan ikut melihat langit-langit. Kedua tangannya menjadi bantal untuk kepalanya.


"Karena hati saya milih kamu."


Jawab Gerald.


Aku memiringkan tubuhku dan menghadap Gerald.


"Kamu pernah punya pacar kak?"


Tanyaku menyelidik masa lalu Gerald.


"Enggak."


Jawabnya.


"Kenapa?"


"Karena saya sangat tertutup, sulit membuka diri. Sedangkan perempuan maunya dimengerti"


Jelasnya padaku.


"Aku juga perempuan"


Aku menyahutinya.


"Iya, perempuan yang berani membuka diri untuk pertama kalinya bagi saya."


Jawabnya lagi.


"Maksudnya?"


Tanyaku heran.


"Kamu inget waktu pertama kali traktir saya? belum pernah ada perempuan yang langsung mengutarakan keinginannya pada saya. Sebelumnya hanya menitip salam lewat Richard atau memberikan kode yang malas untuk saya mengerti."


Jelasnya panjang lebar.

__ADS_1


"Sisca juga"


Kataku mengingat Sisca lebih berani mengutarakan perasaannya pada Gerald.


"Ia datang setelah kamu"


Jawabnya lagi.


"Lalu kalo Sisca duluan ? "


Tanyaku menghadapi semua kemungkinan.


"Kan hati saya bilang pilih kamu. Dari awal kamu dateng ke outlet pun saya sudah memperhatikan. Kamu berisik dan sering cengengesan. Kalo Sisca sama saya yang kedengeran hanya suara jangkrik."


Jawab Gerald yang membuatku mengerti dirinya yang tertutup dan sepi ini membutuhkan orang seceria aku.


Aku tak sadar tertidur masih dengan posisi tadi ketika berbicara dengannya. Ia pun juga sama tertidur menghadap langit langit.


Tok tok tok...


"Permisi Mas Gerald, mba Emily.."


Kami seketika terbangun mendengar suara orang memanggil nama kami.


Kami terkejut bukan main, ketika kudapati aku memeluk Gerald dengan erat.


"Eh maaf Kak"


Kataku sambil melepaskan tanganku dari perutnya.


"Gak apa Mil, saya yang salah gak tidur di sofa"


Jawab Gerald sembari bangun dan membukakan pintu.


"Mas, mba sudah jam makan malam. Silahkan ke resto."


Salah satu karyawan travel datang menginformasikan.


"Yaampun kak udah jam tujuh. Aku belum mandi."


Kataku panik.


"Ya sudah mandi dulu, saya tunggu"


Tak berapa lama aku selesai mandi dan sudah berpakaian lengkap di dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Wangi kamu mil. Saya mandi dulu ya. Kalo sudah laper duluan saja"


Kata Gerald sembari memuji.


__ADS_2