
Kami melanjutkan trip malam kami di Taman Safari. Kali ini kami tidak menggunakan mobil pribadi, melainkan bus yang disiapkan pihak pengelola. Bus terbuka ini cukup ekstrim, Edward banyak bertanya bagaimana kalau singa menggigit kami, karena tidak ada sekat pada bagian badan bus. Namun Dion selalu mengajarkannya untuk menjadi pemberani.
Edward sangat mudah tertidur, baru berkeliling dia sudah tertidur lagi. Belum sempat mencoba berbagai wahana.
"Gimana nih M?"
Tanya Dion yang menggendong Ed.
"Ya sudah Yon, gue balik ke kamar, lu main aja."
Aku mempersilahkan Dion bersenang-senang.
"Gak seru gak ada lu sama Ed"
Jawabnya.
Dion dengan senang hati ikut kembali ke lodge.
Edward kembali meminta kami untuk tidur disampingnya. Kami tak sengaja tertidur pulas hingga pagi, ketika terbangun aku terkejut sedang berada dalam pelukan Dion.
"Yon, misi yon"
Ucapku sambil menyingkirkan tangannya yang makin erat memelukku.
"Ihh Yooon, minggir dong"
Aku berteriak kepadanya.
Dion membuka matanya dan membuat wajah kami bertemu.
"Diooonnnn"
Kataku sembari mendorong wajahnya.
"Apa M?"
Tanyanya sambil memberi senyum nakal.
"Gue masih istri orang tauk."
Jawabku.
"Sampe kapan lu bakal bilang gitu? Gerald udah gak ada, terima kenyataanlah M"
Dion berbicara gemas padaku.
"Lu salah Yon. Dia masih ada. Beneran ada."
Aku berbalik badan menghadap Dion yang juga masih menghadap aku.
"Dia dateng di malem ulang tahun gue setelah lu pulang. Gue kira gue mimpi, tapi Edward juga liat."
__ADS_1
Kataku serius.
"Terus kalo Gerald masih ada, lu bakal gimana?"
Tanya Dion mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Gue belum tau."
Jawabku.
"Lu ragu sama perasaan lu sekarang?"
Tanya Dion.
"Kok lu ngomong gitu?"
Tanyaku kembali.
"Karena sebelumnya lu selalu yakin kalo dia balik, kalian akan bersatu lagi. Hari ini lu bilang gak tau bakal gimana."
Dion menganalisa setiap pembicaraanku.
"Gue benci sama sikapnya yang kaya gitu."
Jawabku jujur.
"Ada ruang kosong buat gue M?"
Tanya Dion.
Tanyaku mengenai kesiapannya.
"Untuk saat ini, itu cukup M."
Kata Dion yang mulai mendekatkan bibirnya pada bibirku.
Aku tidak menolaknya, bagaimanapun aku merindukan belaian dan kasih sayang dari lawan jenisku, sudah lama rasanya setelah Gerald menghilang
Ini rasanya cukup canggung, karena kami sebelumnya adalah sahabat yang sangat dekat. Tapi aku menikmatinya.
"Mah, pah"
Edward terbangun menghentikan kami yang hampir terlalu jauh.
"Ayo bangun jagoan, kita mandi terus jalan-jalan lagi, main di wahana"
Kataku merayu Ed.
"Yeyyyy"
Edward melompat kegirangan.
__ADS_1
**
Sore ini kami pulang, Edward begitu terlihat lelah dan bahagia. Aku pun sama dengan Edward, lelah juga bahagia sehingga tertidur di mobil.
Ketika aku bangun hari sudah malam, dan aku berada di atas kasurku. Aku mengecek Ed ke kamarnya, ia terlihat sangat lelap.
Aku melihat keluar lewat jendela kamar. Mobil Dion masih terparkir. Dan taksi yang sebelumnya ku kejar terparkir lagi di depan gerbangku.
"Lu tadi gendong gue?"
Tanyaku pada Dion yang tertidur di sofa ruang tamu.
"Iya"
Jawabnya.
"Berat gak?"
Tanyaku malu.
"Beraaatt M, sampe punggung gue pegel-pegel kaya bawa beras berkarung-karung."
Jawabnya meledekku.
"Iihhhhh Jahat lu"
Aku memukulinya dengan kertas koran yang berada diatas meja.
"Udah ah gue pulang, bukan dipijitin malah dipukulin"
Katanya sambil membuka pintu.
"Pulang sono Lu"
Usirku sambil tetap memukulinya dengan koran.
"Udah M, ampun"
Dion memohon untukku berenti, namun aku terpingkal hingga kehabisan tenaga.
"Capek juga Yon ketawa kaya gitu"
Kataku masih sambil tertawa dan memeluk leher Dion.
Dion mencium bibirku dengan hangat, aku membalasnya, menikmati setiap gerakan lidahnya.
"Mau udah apa lanjut nih M?"
Tanyanya menggodaku.
"Udah sana pulang. Makasih ya"
__ADS_1
Aku menutup pintu dan masuk.
Segera ku intip orang dibalik kemudi taksi dari tirai jendela ruang tamu.