(Im)Perfect

(Im)Perfect
Pesta lajang Olin


__ADS_3

"Emily aja umur 24 tahun udah mau nikah dua kali, lu pacaran aja gak pernah Gres."


Ria meledek Grace yang hanya fokus kuliah.


"Ya entarlah, gue kan juga baru lulus."


Jawab Grace.


Kami berempat hari ini berkumpul di rumah Olin. Olin yang bulan depan akan menikah dengan Glen mengadakan acara pelepasan masa lajangnya bersama kami. Tentu aku menitipkan Edward di rumah orangtuaku.


Olin yang mengenakan gaun silver, di kelilingi oleh kami yang mengenakan gaun hitam terlihat begitu menawan.


"1..2..3.."


fotografer yang disewa Olin mengambil gambar-gambar kami.


Selesai acara, kami mengganti pakaian dan bersiap tidur di kamar Olin yang sudah tak seperti dulu, kini Olin tampak rapi menata kamar dan dapat mengatur semua aspek kehidupannya menjadi lebih baik.


"Gue ke kamar mandi dulu ya."


Izinku pada si pemilik rumah.


"Yoi."


Jawab Olin.


Aku yang sedari tadi menahan ingin membuang air kecil membuka pintu kamar mandi yang tidak terkunci.


"Aaarrrgghhh,"


Aku berteriak melihat pemandangan di depanku.


"Lu yang buka, lu yang teriak."


Jero menutup kembali pintu kamar mandi dari dalam.


Aku yang masih terkejut tak tahu harus melakukan apa. Sampai akhirnya Jero selesai mandi dan aku masih mematung di depan pintu.


"Udah tuh."


Ucapnya.


"Maaf ya Jer. Abis kamar mandinya gak di kunci."


Kataku menahan malu dan menahan pipis bersamaan.


"Kuncinya emang lagi rusak belum gue benerin. Nanti lu ganjel aja dari dalem."


Katanya menasehatiku.


"Iya."


Jawabku sambil masuk ke dalam kamar mandi.


Didalam kamar mandi, pikiranku melayang-layang memikirkan apa yang tadi kulihat. Tubuh polos Jero yang hanya dilapisi busa sabun.

__ADS_1


"Iihhh apaan sih ni otak."


Ucapku pada diriku sendiri sambil memukul-mukul kepalaku.


Selesai buang air kecil, aku langsung terkejut untuk kedua kalinya melihat Jero masih di depan pintu kamar mandi.


"Kenapa? ada yang ketinggalan?"


Tanyaku basa-basi.


"Lupa mau ngomong"


Ucap Jero yang membuatku gugup, aku takut Jero membahas hal tadi.


"Apa?"


Tanyaku takut.


"Lu cocok dengan rambut panjang kaya gini, jadi makin cantik Mil".


Ucapnya membuatku bernapas lega.


"Ah gue kira apa."


Ucapku sambil berlalu.


"Kenapa? lu kira, gue mau nanya lu liat apa tadi?"


Ucap Jero kencang membuatku berhenti melangkah.


"Gak apa-apa Mil, anggep gue sedekah."


Tuturnya sambil meninggalkanku.


Huh dasar, emang dia cakep banget apa? Eh emang cakep sih.


Gerutuku dalam hati.


"Lu kenapa Mil sama abang gue?"


Tanya Olin yang mendengarkan percakapan kami.


"Gak apa-apa, cuma ngobrol."


Jawabku.


"Gue kira ngajak balikan."


Canda Olin.


"Ngaco lu."


Timpalku ketus.


Kami bergurau bersama di dalam kamar. Selain mendengarkan persiapan pernikahan Olin, Ria juga banyak bercerita mengenai Mario anaknya dengan Felix yang sudah berusia satu tahun.

__ADS_1


Ternyata cerita hidupku pun tak luput dari obrolan kami.


"Kalo Gerald balik.. lu bakal lanjut nikah atau enggak?"


Tanya Grace yang tiba-tiba membahas tentangku.


"Ya tetap."


Jawabku.


"Kita kan tau lu cinta matinya sama Gerald".


Ucap Ria padaku.


"Huh menurut kalian gue harus gimana?"


Tanyaku yang tiba-tiba bimbang.


"Ya tanya hati lu sendiri, lu sebenernya ke Dion gimana?"


Tanya Olin yang sedang menghapus make up hasil coretan kami tadi.


"sayang dan nyaman."


Jawabku.


"Kalo ke Gerald?"


Tanya Olin lagi.


"Cinta."


Jawabku jujur, karena hanya dengan mereka aku bisa berbagi perasaan dan hanya mereka yang tak pernah menghakimi segala pilihanku.


"Mil, lu cuma ngerasa hutang budi aja kali sama Dion."


Timpal Ria yang tiba-tiba mengubah posisi rebahnya menjadi duduk bersila.


"Enggak sih kayanya, gue pernah kok cemburu waktu mantannya dateng."


Ucapku masih bimbang dengan perasaanku.


"Terus siapa yang bakal lu pilih?"


Grace mengulang pertanyaannya.


"Edward aja lah yang milih. Gue gak mau nyakitin salah satunya."


Jawabku seperti yang sudah-sudah.


"Ya gak bisa gitu dong Mil, kan lu yang jalanin. Lu harus milih pake hati lu. Kalo dengerin kata Edward sih dia pasti milih Dion."


Kata Ria sambil menjewer telingaku.


Aku diam memikirkan perkataan mereka. Mungkin ada benarnya juga aku harus memikirkan hal itu dari sekarang.

__ADS_1


__ADS_2