
Sudah sebulan aku jalan dengan Reza. Semua baik-baik saja. Sampai pada suatu waktu sepulang ekskul aku melihat seorang perempuan berseragam abu-abu sepertiku berada di depan pintu rumah Reza.
Jalurku pulang pasti melewati depan rumah Reza.
Aku tidak merasakan cemburu hanya saja penasaran.
Kukirim pesan singkat ke Reza tapi tak ada balasan. Ku telepon tak diangkat.
Aku loss contact dengan Reza selama berhari-hari. Berangkat sekolahpun aku tak pernah lagi melihat Reza. Aku tak tau dia berangkat lebih pagi atau lebih siang. Yang pasti dia menghindariku.
Hari ini aku tidak masuk sekolah, badanku demam, kepalaku pusing. Orangtuaku melarangku sekolah.
Dion sudah pasti mengirim beberapa pesan singkat untukku.
"M, kok tumben belum sampe?" 06.15
"M, udah siang. Lu kejebak macet dimana? biar gue jemput" 06.40
"M, Lu sebenernya kemana?" 07.02
Aku belum sempat membalas pesan dari Dion. Membacanya saja buat mataku berkunang-kunang.
1 lagi pesan kubaca.
"Aku gak ngeliat kamu pagi ini berangkat. Kamu sehat?"
Pesan dari Reza yang selama berhari-hari hilang tanpa kabar.
__ADS_1
Katanya gak ngeliat. Maksudnya selama ini dia memperhatikanku dari dalam rumahnya?
Tapi aku tak sanggup membalas satu pesanpun dari mereka. Ada pesan dari Firman selaku ketua kelas, Ada pesan dari Grace,Olin dan Ria yang tak bisa kubalas.
Pukul 11.00 Dion menelponku, ku terima dan kujelaskan keadaanku. Dia terdengar lega karena tidak ada yang menimpaku dijalan. Mungkin Dion mengingat dua hari yang lalu aku terserempet motor saat berangkat sekolah. Sepatuku sampai sobek, membuat Dion memintaku untuk mengizinkannya mengantar jemputku lagi. Tapi dia juga terdengar masih gelisah karena kesehatanku.
"Gue anter berobat ya M". Bujuknya
"Gak usah cuma panas biasa. Lagian ada orangtua gue kalo emang perlu berobat" Jawabku
"Yaudah oke. Nanti kabarin gue kalo perlu apa-apa" Tuturnya mengakhiri panggilan.
Sore hari suhu tubuhku mulai turun. Aku membalas pesan dari teman-temanku. Juga pesan Reza.
"Kamu ngehindarin aku? Aku baik-baik aja".
"Iya maaf ya Mil"
Reza menjawab dengan jujur.
"Tapi kenapa?"
Aku bertanya lagi meminta penjelasan.
"Mantan pacarku waktu itu datang dan mengadu pada orangtuaku soal putusnya hubungan kami."
Ternyata ini jawaban dari pertanyaanku sore itu.
__ADS_1
"Terus?"
Kutanya lagi masih belum paham betul.
"Ya aku harus melanjutkan hubungan dengannya. Karena dia nekat Mil orangnya. Orangtuanya aja sampai memohon sama aku. Aku harus bertahan sampe kelulusan. Sedikit lagi Mil, aku mohon kamu sabar"
Jawab dia meyakinkanku.
"Yaudah gapapa"
Aku masih pusing, dengar berita seperti ini tambah pusing. ku Iyakan saja.
"Terus gimana? kamu masih mau sama aku? aku udah gak ada rasa sama dia. Aku udah sayang sama kamu Mil. Ini terpaksa"
Dia bertanya sekaligus menjelaskan perasaannya.
Aku tidak serta merta menjawab pertanyaan Reza yang terakhir, aku putuskan menelpon Dion dan menceritakan kejadian yang menimpa hubunganku dengan Reza.
Lagi-lagi ia berucap
"Kan gue udah bilang putusin aja bukan kriteria gue. Lu pasti kecewa lagi. Dia aja gak tegas untuk milih. Jangan nyakitin perasaan lu lebih lama"
Benar kata-kata Dion. Aku langsung mengirim pesan pada Reza.
"Res, maaf sepertinya aku gak bisa lanjutin hubungan ini. Kalo emang kamu pilih aku seharusnya kamu tegas tolak dia dan keluarganya. Tapi kalo kamu bimbang, aku mundur"
Sudah pernah hatiku sakit lebih sakit dari ini. Jadi ini tidak ada rasanya buatku.
__ADS_1
Hubunganku dan Reza pun cuma sebatas diatas motor. Setelah itu kami punya kehidupan masing-masing. Berbeda dengan hubunganku dan Eric yang lebih bermakna. Banyak momen yang kami lewati.