(Im)Perfect

(Im)Perfect
Rencana besok


__ADS_3

Sudah tiga bulan ini Edward bersama kami, ia sudah bisa membalikkan tubuhnya.


Tiga bulan ini juga mendadak Gerald mengajarkanku mengurus perusahaan maminya, yang Gerald kelola dari sini.


"Kenapa aku sih kak? Nanti aja tunggu Edward besar"


Protesku.


"Kalo aku masih sempat mengajarkannya. Kita kan gak tau gimana kedepannya"


Kata Gerald yang benar-benar matang memikirkan masa depan aku dan Ed.


"Kan ada mami"


Jawabku.


"Mami lagi, dia sudah tua. makanya perusahaan ini aku yang kelola. Lagi juga mami sama sepertimu, ia mulai ngejalanin bisnis papi sewaktu papi mendadak terkena serangan jantung. Papi sudah membekali mami dengan ilmunya, jadi sewaktu papi pergi, saya dan mami tidak kekurangan."


Kata Gerald menjelaskan.


"Okey. Tapi janji sama aku kamu gak pergi cepet-cepet"


Kataku mendekati kelingkingku kearahnya.


"Saya gak bisa janji Mil soal itu, saya takut kamu kecewa sama saya."


Gerald menolak jari kelingkingku.


"Awas kamu tinggalin aku"


Ancamku meninggalkannya.


"Mil, besok titip Ed di rumah ibu dua hari. Saya mau mengajakmu berlibur ke tempat kita waktu pertama kali jadi pasangan."


Kata Gerald menarik tanganku yang hendak pergi meninggalkannya.


"Gak ah, aku gak mau kesana lagi"


Jawabku kembali duduk dan menolak.


"Kenapa Mil? dulu kamu bilang, kamu suka"

__ADS_1


Tanya Gerald.


"Iya, aku ingat masa-masa disana emang manis dan berkesan, tapi aku juga gak bisa lupa waktu kita pulang dari sana, gak lama kita putus dan kamu sama Sisca."


Jawabku mengingatkan kejadian buruk setelahnya.


"Mil, ayolah saya sudah pesan kamar."


Gerald memohon.


"Huh kamu tuh gak bisa berembuk dulu sebelum ambil keputusan? ya sudah aku telepon ibu dulu."


Jawabku sambil berlalu.


Tanpa aku minta, ibu sudah sangat siap mengasuh Ed. Malah dia bertanya "Gak bisa lebih lama lagi Mil? Biar puas ibu main sama Ed".


Malam ini aku langsung mengantar Ed ke rumah ibu.


"Titip ya bu, besok pagi-pagi banget Mily sama Gerald harus sudah disana"


Kataku pada ibu


"Iya Mil gak apa. Kalian hati-hati"


Aku segera mengajak Gerald pulang. Rasanya tak sanggup berpisah dengan Ed.


"Kenapa sih kita gak ajak Ed aj?"


Tanyaku pada Gerald yang sedang menyetir.


"Saya takut Ed sakit."


Jawab Gerald.


Iya aku sadar mengajak Ed bepergian jauh di usianya sekarang sangat rentan penyakit, jadi tak ku lanjutkan protesku.


Sesampainya di rumah aku langsung berkemas menyiapkan semua keperluan kami selama disana.


Ku lihat Gerald langsung berkutat dengan laptopnya.


"Kamu kerjain apa sih kalo malem gini kak?"

__ADS_1


Tanyaku.


"Apa aja Mil yang lupa saya kerjakan di siang tadi sama bikin plan untuk besok"


Kata Gerald


"Kamu sempurna tau gak kak? belum aku temui cacatnya"


Kataku memujinya.


"Ah? Jangan berlebihan Mil, nanti kalau sudah ketemu, kamu bakal lebih ilfeel sama saya ketimbang kamu biasa aja. "


Katanya mengajarkanku.


"Emang suamiku sempurna kok"


Jawabku lagi sambil melipat baju.


"Kamu tau kenapa?"


Tanyanya


"Apa?"


"Karena kamu sendiri yang sempurnain saya."


Jawabnya sambil melihat kearah mataku.


Aku menatapnya kembali, ku lihat wajahnya sedikit memerah dan sepertinya aku tak salah lihat, dia mengeluarkan air matanya.


"Eh kamu nangis kak?"


Tanyaku terkejut


"Buat apa?"


Tanyanya kembali.


"Terharu mungkin aku bilang sempurna"


Jawabku.

__ADS_1


"Hahaha Mil emang cuma kamu yang buat saya sering ketawa. Saya ngantuk tau"


Jawabnya sambil mengelap kacamata.


__ADS_2