
Edward hari ini tepat berusia dua tahun. Aku sangat bersyukur segala sesuatunya dimudahkan untuk kami berdua.
Aku mendekor setiap sisi ruang tamu menjadi istana untuknya hari ini. Edward akan merayakan ulang tahun sederhana disini bersama teman-temannya dan beberapa teman dekatku serta kakek, nenek, dan omanya.
"Bu, ada yang pesen taksi gak?"
Tanya mba susan kepadaku.
"Gak ada mba. emang kenapa?"
Tanyaku bingung.
"Di depan rumah ada taksi berhenti dari tadi bu."
Jawabnya.
"Oh ya coba ditanya aja mba. Mungkin mau tanya alamat."
Saranku pada mba susan. Dan aku melanjutkan kegiatanku untuk mendekorasi.
"Acaranya jam berapa Mil?"
Tanya ibuku yang panik melihat banyak anak kecil sudah berdatangan.
"Sepuluh menit lagi bu"
Jawabku sambil melihat arloji di tanganku.
"Bu, supir taksinya kirim paket buat Edward katanya"
Mba Susan mendatangiku lagi.
"Siapa pengirimnya?"
Tanyaku.
"Kurang tau bu."
Jawab Mba susan yang membuatku memutuskan harus keluar menemui supir yang mengantar paket ini.
"Maaaahhh"
__ADS_1
Ketika akan melangkah keluar gerbang, Edward menangis memanggilku. Aku mengurungkan niatku untuk menemui supir tersebut.
"Kenapa sayang? temen-temen udah kumpul, yuk kita mulai."
Aku menggendong Edward dan mengajaknya masuk.
Edward sungguh bahagia merayakan hari lahirnya bersama teman-temannya.
Tak lama teman-temanku berdatangan. Ria sudah terlihat membuncit, kehamilannya sudah memasuki usia tujuh bulan. Olin datang bersama Glen, Sedangkan Grace tidak dapat hadir karena kuliahnya.
Tak lama Dion pun datang. Edward berlari ditengah-tengah acaranya, ia menyambut kedatangan Dion
"Paaaappaaaa"
Teriak Edward dan masuk kedalam pelukan Dion.
Suasana menjadi canggung. Aku tak pernah mengajarkan Edward untuk memanggil Dion dengan sebutan itu.
"Ed, itu om Dion bukan papa"
Bentakku pada Dion.
Mami mengelus punggungku dan menasehatiku.
Edward menangis di pelukan Dion. Aku berusaha mengambilnya dari gendongan Dion untuk melanjutkan acaranya. Tapi ia menolak.
"Biarin gue yang bujuk"
Minta Dion padaku.
Edward luluh dengan rayuan Dion.
"Papa sini ya"
Ed meminta Dion untuk tetap bersamanya di sebelahnya.
Dion melihat mataku meminta persetujuan. Aku menggangguk, mengalah demi Edward.
Pukul lima sore acara sudah selesai para tamu mulai berpergian. Tinggal teman-temanku, Dion dan orangtuaku serta mami Gerald. Aku mengambil paksa Edward yang tak mau lepas dari Dion.
"Ini papa Gerald, papanya Edward. Bukan om Dion."
__ADS_1
Aku menunjuk foto Gerald di dinding.
"Mil, Edward belum ngerti, kamu harus maklum. Sekarang yang dia tahu Dion itu ya papanya."
Kata ibuku menenangkanku.
"Lagi juga sudah dua tahun Mil, kamu berhak bahagia. Cari pasangan baru dan cari papa untuk Edward. Mami merestuimu"
Kata mami menambahkan omongan ibu.
"Mily belum ada pikiran sejauh itu. Mily masih percaya Gerald akan pulang"
Jawabku yakin.
Semua terdiam setiap aku berbicara seperti itu.
Lalu satu-persatu berpamitan pulang termasuk Dion aku mengantarnya sampai ke gerbang.
"M, gue balik ya. Sori soal kejadian tadi."
Kata Dion.
"Papaaaaa paaaa"
Ed menangis di gendongan mba susan memanggil Dion.
"Kenapa Ed? om Dion pulang ya. Besok-besok kesini lagi."
Dion berusaha menenangkan Edward.
"Bobo yah bobo"
Edward lagi-lagi meminta hal yang aneh dari Dion.
"Maksudnya apa mba?"
Dion bertanya pada mba susan.
"Pak Dion disuruh tidur sama Edward."
Jawab mba Susan tergagap.
__ADS_1