
Sudah seminggu ini setiap pagi hingga petang aku menunggu tim SAR membawa Gerald padaku.
Hari ini mereka mengatakan adalah hari terakhir pencarian Gerald, aku selalu percaya Gerald akan pulang.
Kulihat dari jauh tim pencari Gerald sudah datang.
"Maaf mba Emily,, kami sudah berusaha tapi Mas Gerald tidak ditemukan. Ini usaha terakhir dari kami mba. Kami memohon maaf dan turut berduka sedalam-dalamnya"
Ucap salah seorang mereka kepadaku.
Aku menangis sekencang-kencangnya, Mami pun tak kalah sedih, ia memelukku.
"Mami percaya Gerald masih hidup Mil. Kamu tau kan batin ibu dengan anak? "
Mami selalu berpikir positif. Aku merasa tak sendiri.
Kami pulang dengan kecewa.
"Kita akan tunggu Gerald sampai sebulan ya, kalau tidak ada tanda-tanda juga, kita buat upacara kepergian Gerald".
Kata mami memberi gagasan.
"Loh kata mami, Gerald masih hidup. Emily gak mau buat upacara seolah Gerald udah gak ada."
Tolakku sambil menangis mendengar ucapan mami.
"Baik kalo itu yang terbaik menurutmu."
Mami mengalah.
Aku terpuruk dalam kesedihan mendalam. Setengah jiwaku hilang.
Kak pulang kak
Kalimat ini yang tiap malam kuucapkan sambil melihat gambar dirinya dalam sebuah pigura.
Seandainya hari itu aku dengerin kamu kak untuk gak keluar dari kapal pasti kita masih sama-sama kak, kita bakal jaga Edward bareng-bareng.
__ADS_1
Selain memanggilnya, aku juga mengucapkan kalimat yang sama yaitu menyalahkan diriku sendiri atas hilangnya Gerald.
Keterpurukanku menjadikanku ibu yang tidak baik bagi Edward. Aku sering melalaikannya, bahkan ibuku harus menginap disini untuk mengurus Gerald.
"Mil kamu gak boleh begini terus, bangkit berjuanglah untuk Ed selama Gerald tidak ada."
Ibu menasehatiku.
Aku hanya diam tak menggubris omongan ibu.
Tok tok tok
Pintu rumahku ada yang mengetuk, aku yakin itu adalah Gerald.
Aku segera berlari membuka pintu.
Ku lihat Gerald berbalik badan menunggu pintu dibuka. Ku peluk ia dari belakang.
"Kamu kemana kak? Aku rindu"
Kataku sambil terus memeluknya.
Ibu dan mami berteriak di pintu. Mereka terkejut dengan kedatangan Gerald.
"M, maaf"
Aku ingat suara ini dan panggilan ini. Kulepaskan tanganku dari pinggangnya.
"Dion?"
Aku terkejut.
"Ya M, gue sengaja datang kesini untuk liat lu, gue udah denger kabar dari teman-teman kita"
Dion menjelaskan.
"Iya yon ayo masuk."
__ADS_1
Aku mengajaknya duduk di ruang tamu kami.
Ibu menyajikan minuman untuk Dion.
"Gue turut berduka ya M"
Kata Dion tertunduk.
"Kenapa lu berduka? gak ada yang meninggal disini"
Kataku berteriak pada Dion.
Sungguh aku bosan mendengarkan ucapan itu dari orang- orang yang bersimpati padaku.
"Mil"
Ibuku berusaha menenangkanku.
"Maaf ya Dion, Emily masih belum stabil emosinya."
Ibu meminta maaf pada Dion.
"Iya bu gak apa-apa, saya ngerti. Saya kenal Emily cukup baik. Dia hanya butuh waktu"
Kata Dion kepada ibuku.
Mertuaku menghampiri kami membawa Edward.
"Maaf kalau boleh saya tau, kamu itu siapa? kamu mengingatkan kami dengan Gerald"
Tanya mami kepada Dion.
"Saya Dion sahabat Emily semenjak SMA, bu"
Jawab Dion santun memperkenalkan diri.
"Bu, caranya berbicara, berpakaian, bahkan gaya rambutnya sama persis dengan Gerald ya?"
__ADS_1
Mami meminta pendapat ibuku. Dan ibuku menyetujui perkataan mertuaku.
Memang Dion sekilas sangat mirip dengan Gerald suamiku, bahkan aku tadi tak sadar memeluknya mengira itu Gerald.