
Sudah dua hari aku kembali ke rumah, tapi Dion belum memberi kabar apapun. Seharusnya hari ini dia pulang karena jadwal cutinya segera berakhir.
Tok tok
Aku membuka pintu, kulihat Dion dan orangtuanya datang. Aku sama sekali tak mempersiapkan diri.
"Silahkan masuk"
Ucapku menyambut mereka.
"Saya buatkan minum dulu ya, pak,bu."
Aku berjalan sampai ke sisi sudut ruang tamu, kulambaikan tangan agar Dion melihat kode dariku yang memanggilnya.
Bingo.. Dion melihat isyarat dariku dan segera menyusulku.
"Ada apa?"
Tanyanya dan segera mengikutiku berjalan ke dapur.
"Kamu yang ada apa? tiba-tiba datang sama orangtuamu."
Tanyaku sembari menyeduh teh chamomile hangat untuk mami dan papi Dion.
"Mereka mampir mau ketemu Ed. Mami kangen sama Edward."
Jawabnya membuatku takjub.
"Papa Yoonnn, Ed yindu papa."
Edward yang mendengar suara Dion berlari mendatangi kami ke dapur.
"Papa Dion juga rindu Ed."
Balas Dion sembari berpelukan seperti mengalami perpisahan yang lama.
"Yuk keluar."
Ajakku sambil membawa dua buah teh dan dua buah jus.
Sedangkan Dion menggendong Edward.
"Edwaaaarrdd"
Teriak mami Dion memanggil anakku lalu membuka kedua tangannya.
__ADS_1
"Oma Eciii, Ed yindu oma eci."
Ed turun dari gendongan Dion dan berlari ke arah mami Dion.
"Oma punya banyak mainan buat Ed."
Lalu ia keluar dan mengambil sekotak besar hadiah untuk Edward dari dalam mobilnya. Edward langsung mengajaknya bermain.
"Opaa main yuk cama Ed cama oma Eci."
Edward mengajak papi Dion juga, dan dengan senang hati menanggapi kemauan Edward.
Aku dan Dion keluar meninggalkan mereka yang asik bermain. Kami berdua melepas tawa dan banyak bertukar cerita di teras rumah.
"Mami cuma suka sama Ed, bukan sama aku."
Kataku sambil tersenyum ke arah Dion.
Dion tersenyum kembali
"Sok tau kamu, M."
"Dion, mami mau bicara sama Emily."
Mami Dion tiba-tiba ada di sebelah kami.
"Ada apa bu?"
Tanyaku heran.
"Maafin saya soal kelakuan Celine."
Ucapnya membuka pembicaraan.
"Iya bu udah lewat gak apa-apa."
Jawabku.
"Em, kamu cinta sama anak saya Dion?"
Tanyanya yang enggan kujawab.
"Saya belum pernah melihat Dion tertawa lepas seperti ketika sama kamu, semenjak kakaknya keluar dari rumah."
Ucapnya mengingatkanku pada Dion yang tertutup dan jarang bersosialisasi ketika di SMA dulu.
__ADS_1
"Beberapa hari ini saya kenal kamu dan Edward, pikiran saya terbuka, kebahagiaan anak-anak bukan saya yang tentukan, tapi mereka sendiri. Kemarin saya sudah mengunjungi Melin dan anak-anaknya, cucu saya . Rasanya bahagia sekali."
Mami Dion masih menumpahkan isi hatinya.
"Dan hari ini saya bahagia sudah mengenal Edward, rasanya sangat dekat walaupun tidak sedarah."
Ucap mami Dion melanjutkan.
"Terimakasih bu sudah menyayangi Edward."
Jawabku menunduk memberi hormat.
"Saya sudah merestui Melin dan suaminya, maka saya juga merestui hubunganmu dengan Dion. Jadilah keluarga yang bahagia ya Em."
Kata mami Dion membuatku tak sanggup berbicara apapun lagi.
Kami masuk ke dalam melanjutkan pembicaraan bersama.
"Em , tolong buat jadwal. Temui kami sama orangtuamu. Biar segera kalian menikah, malam ini kami pulang dulu."
Kata papi Dion membuatku napasku terhenti beberapa detik.
Setelah mengobrol panjang lebar, aku, Dion dan Ed pergi mengantar kedua orangtuanya ke bandara. Lalu kami lanjut pulang
"Aku selalu percaya misi mu gak akan sia-sia".
Ucap Dion.
"Sok tau kamu."
Balasku.
"Kamu kalo buat strategi bagi contekan aja selalu berhasil."
Tuturnya menyindir kejadian waktu dulu di SMA.
"Jangan diinget-inget lagi ihhh, malu tau."
Ucapku menahan malu, Dion selalu mengingat tingkah nakalku dulu.
"hufftt, aku seneng M. Akhirnya"
Kata Dion sambil menghela napas yang panjang.
"Aku juga, Edward apalagi."
__ADS_1
Balasku sambil mencium pipi Dion yang sedang menyetir.