
Sepertinya aku masih sangat syok. Di tempat kerjapun aku hanya terdiam. Aku membuka ponsel. Dari semalam tak ku aktifkan ponselku, aku malas berbicara dengan Dion. Ada banyak pesan belum terbaca.
Kubuka milik Dion
M, Lu kenapa? 22.00
M, Gue kuatir. 22.10
M, Lu dimana? 23.00
M, Maafin gue. 00.05
M, Pulang kerja jam berapa? 10.10
Aku hanya menjawab pertanyaan terakhirnya
"Jam 5 sore."
Kubuka lagi pesan dari yang lainnya. Dan ada pesan dari Gerald.
"Hari ini pelit senyum. Kamu ada masalah apa?"
Tanya Gerald di pesan masuk.
Aku memang biasanya selalu paling ceria dan ramah dengan customer atau teman sekerjaku.
Jadi jika aku diam seperti ini, mereka langsung bisa menebak jika ada yang mengganggu pikiranku.
"Aku baik-baik aja Kak. thanks"
Jawabku singkat.
"Butuh temen cerita?"
Tanya Gerald lagi.
"Belum"
Jawabku jujur.
__ADS_1
Aku rasa itu hal memalukan yang tak patut kubagikan.
Jarum jam berhenti diangka 5. Aku segera merapikan perlengkapanku untuk pulang.
Di depan outlet ada mobil yang daritadi terparkir tapi tak juga ada manusia yang turun untuk berbelanja.
Aku melewati bagian depan mobil hitam tersebut. Mobil itu mengagetkanku. Klaksonnya seperti memanggil seseorang. Ku tengkok kanan kiri tak ada siapapun kecuali aku. Lalu kaca mobil diturunkan dan kepala seseorang dari kursi kemudi menyembul keluar.
"M ayo naik."
Keberadaan Dion menambah syok jantungku.
Aku naik dan tersenyum padanya. Sebetulnya aku sebal karena dia, aku dihina orang. Tapi aku tak dapat menutupi kebahagiaanku. Setelah lima bulan berlalu akhirnya kami bertemu.
"Nih."
Kusodorkan tiga buah kartu yang dilempar Mel tadi malam.
"Kalo lu bakal kesini, kenapa gak lu aja yang ambil dari Mel?"
tanyaku sebal.
Jelas Dion terlihat jujur.
"Terus kerjaan lu?"
Tanyaku lagi.
"Ya kalo gue dipecat, cari lagi lah. Yang penting gue bisa liat pake mata gue, lu baik-baik aja."
Kata Dion membuatku terharu.
"Yaudah ayo jalan"
Aku menyuruh Dion menjalankan mobilnya.
"Tar dulu, gue mau tanya dulu semalem ada kejadian apa?"
tanya Dion
__ADS_1
"Gak ada"
Aku tak mau mengingat.
"Come on M, gak ada rahasia diantara kita"
Paksa Dion.
Kemudian aku menceritakan kejadian dengan sejujur-jujurnya . Tak ada yang kutambahi atau kulewatkan.
Aku menangis kembali mengingatnya.
"Lu kenapa gak langsung hubungi gue? Malah Mel duluan yang langsung nelpon gue"
Tanya Dion kesal padaku.
"Gue malu Yon, Gue malu dihina-hina kaya gitu."
Jawabanku yang disertai tangisan makin menjadi.
Dion mengelus kepalaku dan meminta maaf karenanya aku harus menerima perlakuan seperti itu. Aku masih saja menangis. Aku berjanji tangisan kali ini akan membawa kejadian buruk tadi malam keluar dari memoriku.
"M, gue nyesel sampe buat lu sesedih ini."
Dia menarik tubuhku mendekat tubuhnya. Dia memelukku dengan tulus.
"Gue janji M, gak akan bawa lu kedalam masalah gue. Gue janji lu gak akan nangis lagi karena gue".
Bisik Dion di balik punggungku.
Aku mengangguk.
"Nanti ya M, gue pasti jagain lu terus sampe gak ada yang bisa nyakitin lu. Tapi nanti M."
Dion menenangkanku.
"Lu inget dulu sering gue titipin sisa uang jajan gue? Tapi setiap gue minta, uang itu selalu ada dan utuh. Gue titip hamster, walaupun sekarang sudah mati tapi keturunannya udah banyak. Gue titip hati gue M, lu bisa jaga?"
Dia berbicara sambil tertawa. Akupun ikut tertawa melupakan kejadian semalam.
__ADS_1
Untuk sekarang, gue emang belum bisa jaga lu kaya dulu M. Tapi gue janji suatu saat nanti gue akan jaga lu setiap saat dan sangat dekat. Sampe gak ada satupun orang bisa ngelukain lu.~Suara hati Dion