
"Selamat ya bu."
Aku memberi selamat atas pernikahan Bu Lea.
Sisca sudah terlebih dahulu memberikan ucapan, ia berada didepanku. Sedangkan Gerald dibelakangku.
"Oh pasangan baru kita udah dateng"
Kata Bu Lea menanggapi ucapan selamat dariku. Dia masih memegang tanganku dan matanya berbicara dengan Gerald.
Gerald memberi kode pada bu Lea dengan kedipan mata. Tetapi sepertinya Bu Lea belum sadar.
"Kamu jangan lama-lama Mil. Kasian Gerald umurnya makin tua."
Bu Lea meneruskan ucapannya sembari mengelus elus pundakku.
"Maksudnya gimana deh bu?"
Aku tak mengerti ucapannya.
"Udah yuk kita turun."
Ajak Gerald sembari mendorong kedua bahuku.
Aku mengiyakan dan berjalan maju dengan wajah bingung.
"Apaan sih kak tadi maksudnya?"
Tanyaku pada Gerald.
"Bukan apa-apa Mil. Gak usah dipikirin"
Jawab Gerald dengan wajah panik.
"Bu Lea kira saya itu Sisca kali ya kak?"
Tanyaku lagi yang kali ini membuat kami berdua sama-sama bingung.
"hey ayo makan."
Sisca mengajak kami ketengah kerumunan.
Aku makan bersama Sisca dan Gerald. Selesai makan, Sisca mengajak Gerald berkeliling taman. Bu Lea memang menyukai warna hijau, maka ia memilih konsep garden party untuk pesta pernikahannya.
Aku berjalan sendiri melihat-lihat pemandangan yang disuguhkan. Mungkin saja bisa jadi referensiku ketika aku siap menikah.
"Ngapain Mil?"
__ADS_1
Gerald mengejutkanku.
"Loh Sisca mana?"
Aku panik , takut ia meninggalkannya lagi.
"Itu sama Richard."
Gerald menunjuk keberadaan mereka.
Richard adalah staff senior seperti Gerald. Sudah lama ia menyukai Sisca tapi tak pernah terbalas. Sepertinya ia tak pernah menyerah sedikitpun, tiap ada kesempatan selalu ia manfaatkan.
"Kamu suka Mil?"
Tanya Gerald sembari melihat kesekeliling yang membuatku mengerti arah pertanyaannya.
"Iya kak. Bagus"
Jawabku masih menikmati pemandangan.
"Terinspirasi untuk nikah dengan konsep kaya gini?"
Tanya Dion lagi.
"Enggak"
Gelengku.
Tanya Gerald penasaran.
"Gak muluk-muluk sih kak, cuma dinner wedding sama keluarga dan teman dekat"
Jawabku sambil menghayal.
"Sesimpel itu?"
Tanya Gerald makin penasaran.
"Iya Kak. Aku gak mau diri berjam jam dipanggung kaya gitu."
Aku tunjuk Bu Lea yang kelihatan sudah lelah.
"Kapan kamu siap?"
Tanya nya lagi.
"Nantilah kepala dua"
__ADS_1
Jawabku malu-malu.
"Sama siapa?"
Gerald masih bertanya
"Sama siapa yang jadi jodoh saya nanti."
Aku menjawab sambil tersipu malu.
"Pulang yuk"
Ajak Sisca memberhentikan obrolan kami.
Kami menyetujuinya dan berpamitan dengan mempelai.
**
Didalam mobil..
"Gue gak paham lagi gimana caranya supaya Pak Richard berhenti gangguin gue"
Tiba-tiba Sisca mengomel sendiri.
"Katanya tadi gue jahat gak kasih kesempatan sama orang. Lu juga sama aja."
Aku mengingatkan Sisca dengan omongannya tadi.
"Ya beda Mil."
Sisca menjawab lagi
"Iya deh terserah lu. Tadi lu sendiri yang bilang kita gak akan pernah tau sebelum mencoba"
Aku mengingatkannya lagi.
"Iya bener tuh Sis. Coba dulu lah sama Richard".
Gerald ikut menyemangati hubungan Richard dengan Sisca.
"Ih kok bapak dukung sih?"
Tanya Sisca aneh.
"Emang saya punya alasan apa untuk gak support kalian?"
Jawab Gerald yang tak peka perasaan Sisca.
__ADS_1
Aku pura-pura tidur di kursi tengah. Tak mau mendengarkan obrolan mereka. Gerald sangat tidak peka sedangkan Sisca sangat agresif.
Tak kusadari ternyata aku sungguh terlelap dikursi belakang. Sampai pada akhirnya Gerald membangunkanku