
Olin terlihat sudah makin membaik. Orangtuanya selama ini hanya mengetahui ia pre menstruasi syndrom.
Sedikit demi sedikit kesehatan mentalnya pun pulih.
Ku tanya mengenai Vero si Gorila, ia mulai menunjukkan ketidakpeduliannya. Aku harap ini menjadi awal yang baik.
Kuhabiskan malam bersamanya, aku memutuskan menginap di rumahnya hari ini. Kami menonton beberapa film komedi bersama. Kami terus tertawa.
Memang di masa-masa terburuk seseorang, sebaiknya ada seseorang yang menemani memberikan energi positif, bukan untuk menyalahkan dan membuatnya tambah terpuruk. Olin sudah tepat menghubungiku orang yang ia percaya. Kalau tidak, mungkin ia sudah mengakhiri hidupnya.
Ia akhirnya tertidur, aku membuka pintu pelan-pelan pergi ke toilet untuk membuang air kecil yang sedari tadi kutahan.
"Hai bondol"
Kakak laki-laki Olin menyapaku dengan sebutan yang sama sejak aku SMA.
Rambutku rajin kupotong hingga tidak melewati bahu.
"Hai juga Bang"
Kusapa balik ia dengan senyum.
"Nginep lu?"
tanya ia lagi.
"Iya, gak boleh?"
tanyaku kembali.
"Boleh lah. Diliat-liat lu jadi cantik banget udah bisa ngurus diri."
Katanya seraya memperhatikan penampilanku.
"Kemarenan gue jelek gitu?"
Tanyaku sewot
"Gak sih, cuma masih dekil. Mungkin sering kejemur kalo latihan paskib."
Katanya meledekku.
"Semua akan cantik pada waktunya, bang"
Aku menjawabnya sembari tertawa dan berjalan meninggalkannya.
"Ehhh lu mau kemana buru-buru?"
Jeremy menarik tanganku.
"Mau balik ke kamar Olin."
__ADS_1
Jawabku.
"Temenin gue ngobrol yuk."
Ajak Jeremy.
"Yok lah. Gue juga belum ngantuk bang."
Aku mengiyakan.
Kami mengobrol bersama tak terasa sudah pukul dua dini hari. Aku pun segera tidur.
"Mil, bangun udah jam setengah 7"
Suara Olin membangunkanku.
"Serius Lin?"
Tanyaku panik.
Aku segera berlari ke kamar mandi dan bersiap untuk berangkat.
"Emang keburu Mil?"
Tanya Olin sambil memperhatikanku berdandan.
"Pasti telat sih."
Olin berlari keluar kamar dan membangunkan Jeremy.
"Bang Jer, Anterin Emily dong plis"
Pinta Olin pada abang kesayangannya.
Jeremy langsung bangun dan sekedarnya membersihkan diri. Hanya mencuci muka dan sikat gigi.
"Sori ya bang. Gue jadi ngerepotin lu."
Aku merasa tak enak hati pada Jeremy.
"Naik mil."
Perintah Jeremy menyuruhku naik ke jok belakang motor sport miliknya.
"Gue yang minta maaf Mil. Karena lu nemenin gue begadang semalem jadinya lu telat."
Jeremy menanggapi permintaan maaf dariku tadi.
"Gak bang gapapa."
Kataku sambil menarik baju Jeremy.
__ADS_1
Jujur aku merasa takut, ia membawa motornya melesat kencang, bahkan ditengah kemacetan ia membawaku menyusuri setiap celah kecil yang tersisa antara mobil dengan trotoar.
"Mil, sori bukan gue gak sopan. Lu peluk gue ya."
Kata Jeremy membuatku bingung.
Jeremy menungguku mengikuti perintahnya. Dengan ragu, Kulingkari perut Jeremy dengan kedua tangan ku sehingga kedua telapakku saling bertemu.
Jeremy kemudian menerobos kemacetan dengan keahliannya menunggangi sepeda motor 250CC nya.
Aku sampai dengan tepat waktu.
"Thanks ya bang. Gue gak jadi telat"
Aku berterimakasih seraya menyerahkan helm padanya.
"Sama-sama Mil. Nanti pulang jam berapa?"
Tanya Jeremy lagi.
"Jam 5 bang"
Aku menjawab.
"Nanti gue jemput ya."
Tutur Jeremy.
"Eh gak usah bang. Gue pulang sendiri aja."
Aku menolak halus.
"Gapapa ya? gue kelar kuliah jam 4. Langsung gue jemput."
Paksa Jeremy.
"Gak bang serius. Gue gak mau ngerepotin lu"
Aku menolaknya lagi.
"Kenapa? Ada yang marah kalo gue jemput lu?"
Tanya Jeremy yang membuatku tak ada alasan lagi menolaknya.
"Gak sih."
Kujawab seadanya.
"Yaudah berarti gue jemput lu nanti"
Teriak Jeremy yang sudah memutarkan motornya meninggalkanku.
__ADS_1