(Im)Perfect

(Im)Perfect
Di atas motor


__ADS_3

"Hayyy kesayanganku Oyiiinn"


Aku masuk kedalam kamar Olin tanpa sepengetahuannya.


"Loh kok gak bilang mau dateng?"


Tanya Olin padaku.


"Tadi gue dijemput abang lu. Terus yaudiinn deh gue minta kesini."


Jawabku membuat dahi Olin mengerut.


"Bang Jer jemput lu?"


Dia seperti tak percaya.


"Iya. Dia udah dua minggu ini rajin anter jemput gue kok. Emang gak cerita sama lu?"


Balik bertanya pada Olin.


"Serius?"


Olin malah balik bertanya.


"Iya . emang kenapa Lin? kok muka lu jadi serius gitu?"


Aku heran.


"Lu jadian gak?"


Tanya Olin lagi.


"Enggak. Cuma temenan aja."


Aku menekankan nada bicaraku.


"Lu tau gak Bang Jeri itu udah lama diputusin cewenya, Kak Arysa. Terus, Bang Jer jadi sering galau gitu. Padahal Kak Arysa udah punya pacar baru, tapi tetep aja abang gue setia nungguin. Makanya sampe hari ini dia gak punya pacar. "


Tutur Olin menceritakan Jero.


"Kalo gitu lu bantuin dia balikan lagi sm Ka Rysa."


Ideku tercetus.


"Ih bodoh, artinya dia buka hati untuk lu."


Olin mengemukakan analisanya.


"Ayooo gosipin apaaa?"


Jero mengagetkan kami.

__ADS_1


"Kepoo"


Jawab Olin tak ingin memberitahu.


"Udah sembuh lu?"


Tanya Jero pada adik kesayangannya.


"Udah bang. Eh bang dalam rangka apa lu jemput emily?"


Tanya Olin setelah menjawab pertanyaan Jero.


"Dalam rangka kangen bondol"


Jawab Jero seraya mengacak rambutku.


"Jerrooooooo"


Teriakku yang kesal.


"Apaaaa? Jeroo? Udah pake nama kesayangan nih?"


Tanya Olin sambil menggoda kami.


"Bang awas lu nyakitin temen gue"


Ancam Olin.


Curhat Jero menyindirku.


"Dihhh, ya iyalah nanyanya main-main."


Jawabku membela diri.


"Terus kalo gue tanya serius, lu mau?"


Jero mendekatkan wajahku kepadaku.


"Eeehhh udah udah, jangan bermesraan didepan gue."


Teriak Olin sambil mendorong tubuh kami berjauhan.


"Heh bang, ini temen kesayangan gue. Lu gak boleh mainin perasaannya."


Pesan Olin pada Jero.


"Terus lu gak promosiin gue ke dia? biar gue gak ditolak lagi."


Jero bertanya pada adiknya dan menunjuk ke arahku.


"Iya Mil, abang gue ini setia. Gak tau setia apa bodoh sih tepatnya. Boro-boro mainin perasaan cewe. Ditinggal pacarnya aja masih ngarepin. Jadi lu jangan raguin kualitas abang gue."

__ADS_1


Olin menyanjung abangnya dihadapanku.


Aku hanya menganggap ini sebuah bercandaan, sampai pada akhirnya.


"Mil, mau gue anter pulang?"


Tanya Jero padaku.


"Enggak Jer, naik angkutan umum aja masih jam segini"


Tolakku halus.


"Kan gue bilang, gue gak suka ditolak. Hayuk naik"


Jero menstater motornya.


"Mil, gue mau tanya serius sekarang. Lu mau gak jadi pacar gue?"


Tanya Jero diatas motornya.


"Ahh becandaan lu diulang jadi garing Jer"


Kataku menimpalinya.


"Gue gak bercanda Mil. Jawab dong"


Jero menurunkan kecepatan kendaraannya.


"Masa nembak orang diatas motor? Gak serius lu, Jer."


Protesku pada Jero yang masih kuanggap bercanda


"Gue sengaja Mil. Ini motor udah kaya temen gue. Jadi dia juga yang harus jadi saksi hubungan gue sama lu."


Jawab Jero yang membuatku tersadar ia tak bercanda.


"Gue gak bisa Jer"


Aku menolak cinta Jero.


"Gak bisa apa? gak bisa terima ditembak diatas motor?"


Tanya Jero sekaligus memberhentikan laju kendaraannya.


"Bukan Jer, Gue beneran gak bisa jadi cewe lu."


Aku mempertegas penolakan ku.


"Gue gak minta jawaban sekarang Mil. Gue ngasih lu waktu sebulan ini untuk berpikir."


Minta Jero padaku.

__ADS_1


__ADS_2