
Sudah pukul sepuluh malam, Richard dan Gerald datang bersamaan.
"Gimana keadaan Sisca, Mil?"
Tanya Richard terlihat sedih.
"Tadi setelah ka Gerald pulang darisini, Sorenya Sisca sempat bangun terus menangis lagi. Gak mau makan awalnya, kusuapi pelan-pelan akhirnya dia mau. Tapi habis itu dia nangis lagi sambil mencabut selang ditangannya. Terpaksa dokter suntikin obat penenang lagi Ka. Dan Dokter bilang jangan sampai Sisca melamun."
Aku menjelaskan keadaan Sisca pada Richard.
"Ya sudah Mil kamu pulang dan istirahat. Aku yang akan jaga Sisca malam ini"
Kata Richard menyuruhku pulang.
Richard tertunduk lesu mengamati Sisca,
"Gue balik duluan ya Chad."
Kata Gerald menepuk pundak sahabatnya.
"Iya lu dan Mily hati-hati."
Pesannya pada kami.
Gerald membukakan pintu mobilnya seraya mempersilahkanku masuk.
Aku merebahkan sandaran jok yang kududuki. Rasanya lelah sekali semalaman hanya terduduk.
Ku peluk tasku sebagai ganti guling.
"Capek ya Mil?"
Tanya Gerald basa-basi.
"Iya kak. Aku izin tidur dulu ya kak."
Aku mengantuk menahan mata seharian melihat sisca mengamuk.
"Silahkan Mil."
Jawab Gerald padaku.
Gerald menyetel lagu-lagu penghantar tidur seperti 1901 (Birdy) ,Home (Michael Buble), The Call (Regina spektor), dan masih banyak lagi. Membuatku semakin pulas.
Sebelum aku tertidur, ia sempat menanyakan baju yang kupakai.
"Kebesaran ya Mil?"
Tanyanya menunjuk baju lengan panjang berwarna hitam miliknya yang ku pakai.
__ADS_1
"Iya kak, aneh ya? Tapi aku nyaman pakenya."
Jawabku malu.
Nyaman karena ada wangi parfum Gerald yang menjadi ciri khasnya.
"Enggak kok, malah cantik Mil."
Gerald menggodaku.
Aku tertidur dan tak terbangun sedikitpun selama kurang lebih satu jam perjalanan.
Sampai pada akhirnya..
Aku melihat mobil sudah berhenti dan Gerald tak berada dikursinya. Aku membetulkan posisi dudukku.
Ku lihat dari dalam mobil, ia sedang mengetuk pintu rumahku.
Ia kembali ke mobil dan aku menertawakannya.
"Kok ketawa? keluargamu tidur pulas sekali Mil. Gimana cara mu masuk ke dalam?"
Gerald panik jika aku terkunci diluar.
"Mereka pergi Ka ke rumah nenekku, itu ritual menjelang tahun baru. Kami biasa melakukannya tiap tahun. Semalam Ibu sudah menelpon dan mengajakku."
Kataku sambil menertawai Gerald yang kebingungan tadi.
Kata Gerald pamit.
"Mampir dulu kak. Aku buatin teh".
Ajakku.
"Gak enak sama tetangga udah malem gini."
Tolaknya.
"Ya pintunya jangan ditutup. Kita kan diruang tamu."
Kataku meyakinkannya.
Gerald pun memarkirkan mobilnya di carport rumahku.
"Kak, mau teh atau kopi?"
Tanyaku
"Teh aja Mil."
__ADS_1
Jawab Gerald.
Aku membuatkannya teh hangat yang kusajikan bersama dengan kue kering.
"Laper gak kak?"
Tanyaku lagi.
"Kenapa? kamu lapar?"
Dia malah bertanya balik.
"Iya, tadi aku cuma makan rice bowl yang ka Ger kasih"
Jawabku.
"Terus mau pesan atau keluar lagi?"
Tanyanya memberikan pilihan.
"Keluar yuk. Tapi aku mandi dulu ya kak sebentar."
Jawabku sembari memberi syarat untuknya menunggu.
Aku mengambil pakaian di kamarku untuk kupakai di kamar mandi.
"Itu kamar mu Mil?"
Tanya Gerald yang melihatku menutup pintu kamar.
Kamarku memang bersebelahan dengan ruang tamu.
"Iya kak."
Aku menjawab sekaligus berlari ke kamar mandi agar tak lama ia menungguku.
Selesai aku mandi, ia bersiap mengeluarkan mobilnya.
"Eh jangan naik mobil kak."
Kataku melarang.
"Terus naik apa?"
Tanya nya lagi.
"Naik motor aja. Nih kuncinya. Bisa kan bawa motor?"
Tanyaku sambil menyerahkan kunci motor.
__ADS_1
"Iya bisa lah, Mil."
Jawabnya sembari tersenyum tipis khasnya.