(Im)Perfect

(Im)Perfect
Sempurna


__ADS_3

Tujuh bulan kemudian.


"Sayang, kita dapet undangan pernikahan dari Gerald."


Ucapku pada Dion.


"Dimana tempatnya?"


Tanya Dion.


"Di negara mereka tinggal lah."


Jawabku.


"Ya Sudah nanti ku pesan tiket."


Kata Dion sambil bersiap kerja.


"Pesan buat ayah, ibu dan Edward aja. Aku akan bilang gak bisa hadir."


Ucapku membuat Dion bingung.


"Kamu kenapa? belum move on?"


Tanyanya membuatku kesal.


"Aku udah kepayahan bawa perut. Nanti kalau aku melahirkan disana bagaimana?"


Jelasku yang membuat Dion tertawa.


"Ya anak kita jadi bule."


Ucapnya sembarangan.


"Ya sudah nanti kupesankan. Aku berangkat dulu ya dua malaikat cantikku dan satu ninja penjaga."

__ADS_1


Kata Dion berpamitan dengan Edward dan calon bayi kami.


Ya aku dan Dion sudah mengetahui jenis kelamin bayi kami dari alat transducer milik dokter kandungan yang rutin memeriksa ku tiap bulan. Kami akan memiliki bayi perempuan yang diprediksi lahir satu bulan lagi.


Hidup kami terasa sempurna di tengah kisah kami yang tidak sempurna.


IMPERFECT


Adalah kisah hidup hampir kebanyakan orang, tidak ada jalan yang mulus. Semua penuh terjal, dan berlubang terkadang harus bersinggah karena lelah.


Emily mengira hidupnya sudah sempurna waktu ia menikah dengan Gerald. Tetapi ternyata Gerald bukanlah tujuan akhirnya, hanya tempatnya singgah.


Dion pun sudah mantap dengan tujuannya dari sekolah untuk menikahi Emily. Tetapi dalam rencananya yang ia pikir mulus, Emily malah memilih menikah dengan Gerald. lagi-lagi ia harus menuruti kemauan orangtuanya dan bersinggah di tempat yang jelas-jelas bukan menjadi tujuannya.


Gerald adalah sosok sempurna di mata Emily, tetapi tindakannya yang ceroboh membuatnya harus kehilangan Emily dan Edward.


Gerald bukanlah orang yang sempurna, hanya saja Emily selalu menyempurnakannya.


Sisca sosok baik nan lembut, dibalik itu ia mengalami depresi yang begitu menyakitkan. Kisahnya ditutup dengan tidak sempurna di Draf Email Gerald.


Eric, Emily berpikir ia orang yang sangat tenang, tapi ternyata berbanding terbalik ia memiliki gangguan emosional yang tinggi.


Olin dibalik kecerdasannya, ia memiliki pilihan yang bodoh saat menjalani kisah bersama Vero.


Sebelum akhirnya ditutup sempurna dengan Glen yang menerima Olin dengan masa lalunya.


Jeremy tetap dengan pergaulannya, ia tak mau terikat pada pernikahan. Masih suka bersenang-senang. Sungguh disayangkan.


Semua perjalanan tidak luput dari ketidaksempurnaan. Tapi saat menemukan tujuan dan orang yang tepat, maka setidak sempurna apapun, akan membawa kita terus berjalan kedepan bersama beriringan.


"Diooonnn"


Teriakku saat tak tahan dengan perut yang semakin sakit.


"Iya M"

__ADS_1


Dion menggendongku masuk ke mobil.


"Atur napasmu sayang."


Kata Dion yang kuikuti.


Ia terus menggenggam tanganku di mobil.


"Sus, istri saya mau melahirkan".


Ucapnya pada seorang perawat.


Lalu kami berjalan menuju ruang tindakan.


Dion memegang kuat kedua tanganku seraya terus berdoa untuk keselamatanku dan bayinya.


"Selamat datang Michelle."


Ucapnya pada bayi kecil yang sedang mengeluarkan tangisan pertamanya.


"Dion aku mau jus tomat."


Pintaku.


"Kamu kaya gini aja masih mikirin jus tomat. Sebentar aku beli dulu."


Tuturnya sambil tersenyum padaku.


Saat ia kembali, aku sudah di pindahkan ke ruang perawatan. Dion kembali bersama Edward yang diantar mba Susan.


"Ma, ini adik Ed ya?"


Tanya Edward kegirangan.


Kami berempat merasakan sukacita yang teramat.

__ADS_1


"I'm perfect in my imperfections"


__ADS_2