(Im)Perfect

(Im)Perfect
Kesedihanku


__ADS_3

Libur tinggal seminggu lagi. Dion menghubungiku hanya tiga hari sekali. Itu pun obrolannya singkat hanya sekedar menanyakan kegiatan dan kabarku, serta mengingatkanku menjaga diri selama dia tak ada.


Dua hamster ini masih sehat-sehat. Kadang adik kecilku menggenggam kencang kedua hamster milik Dion. Aku takut kalau sampai dua hamster itu tak selamat ditangan adikku. Kupesankan pada semua penghuni rumah untuk menjauhkan adik bungsuku dari makhluk kecil itu.


Minggu sore Lana menghubungiku, mengatakan kalau dia dan teman-temannya ngeband distudio yang jaraknya tidak jauh dari rumahku.


"Mil, kesini ya. gak ada yang nyanyi nih. Iseng-iseng doang kita. kan deket sm rumah lu" Ajak Lana.


"Oke. Gue kesana"


Hanya 10 menit aku sudah sampai. Kubuka pintu studio. Ada Lana yang duduk dikursi Drummer, Olan memegang gitar, Josh (teman mereka dirumah. Kebetulan Eric sempat mengenalkannya padaku sewaktu kami jadian.) yang sedang menyetem keyboard, dan yang buatku terkejut ada Eric duduk sambil memegang Bass yang terlihat terkejut juga dengan kehadiranku.


Aku mencoba bersikap biasa saja. Padahal aku ingin teriak Ric, Aku Rindu. Selama Eric dengan Ara, aku menjadi penggagum rahasianya. Memang benar kata pepatah, sesuatu menjadi sangat berharga ketika kita kehilangannya. Tapi Eric ternyata terganggu dengan kehadiranku. Dia bertanya pada seisi ruangan


"Siapa yang manggil dia? "


Ingin nangis sejadi-jadinya rasanya. Eric yang dulu menyayangiku begitu membenciku.


"Kita butuh cepet Ric. Yang paling deket emang Milly. Udahlah fokus aja" Kata Olan menengahi.


"Yaudah kalian ajalah. Gue gak mood" Eric pergi meninggalkan studio.


Ku kejar Eric, ku tarik tangannya.

__ADS_1


"Gue pulang Ric. Lu lanjut aja."


Aku langsung berjalan terburu-buru meninggalkan Eric dan yang lainnya.


Rasanya perlakuan ini memang pantas kuterima. Sampai detik ini aku masih menyalahkan diriku atas berakhirnya hubungan kami.


Mill, Sori ya gue jadi gak enak. Mungkin Eric masih belum terima dengan keputusan lu waktu itu. Sabar ya Mil.


Pesan Lana yang kubaca di ponselku.


Aku masuk kamar dan menangis sepelan-pelannya, takut keluargaku mendengar.


Tak lama terdengar ponselku berbunyi. Kuangkat tanpa kulihat nama penelponnya


"M, tidur apa nangis?" Seketika aku tersadar ini suara Dion dan aku belum merubah suaraku yang terdengar habis menangis.


"Eh Dion maaf gue lagi nonton film. Sedih ceritanya" Jawabku bohong. Aku tak mau dibilang bodoh oleh sahabatku ini.


"Mana mungkin M, lu nangis karena film! Gue hapal banget lu anti nangis kecuali emang lu lagi disakitin" Jawab Dion yang sudah mengenali tabiat ku.


"Huaaaa Diooonn" Aku malah makin nangis. Tidak dapat kutahan perasaan sedih ini di depan sahabatku.


"Lu kenapa? diapain? Malem ini gue pulang deh" tanya Dion panik.

__ADS_1


"Hehe gak apa Yon. Gue cuma kangen" Jawabku sambil mengusap airmata dan ingus di hidungku agar Dion tenang.


"Yaudah besok gue udah disana. Besok ketemu ya M. Lu sekarang istirahat. Udah makan belum? Makan dulu"


Seperhatian itu Dion padaku. Beruntungnya aku memiliki sahabat sepertinya.


Aku mengunci diri dikamar hingga pagi. Tidak makan ataupun sekedar buang air kecil ke kamar mandi. Semua kutahan. Rasanya ini sakit sedih dan malu diperlakukan begitu oleh Eric.


Kulihat ponselku sudah menunjukkan pukul 10.00 ,sepertinya aku menangis sampai pagi. Kulihat banyak pesan di ponselku.


32 message Dion.


Aku langsung duduk dikasurku dan kubaca semua pesannya.


"M, gue udah di bandara" 05.00


"M, gue udah di rumah" 06.00


"M, belum bangun ya?"


"M, R U ok?"


banyak pesan seperti itu dan terakhir 15 menit yang lalu.

__ADS_1


"M, hubungi gue kalo udah liat pesan gue ini"


__ADS_2