(Im)Perfect

(Im)Perfect
Jeremy


__ADS_3

"Ciyee yang udah punya pacar baru".


Teriak Sisca di telingaku.


"Bukan."


Kusanggah gosipan Sisca tentangku.


"Udah Ganteng , keren loh Mil. Dapet aja lu yang sepaket gitu."


Kata Sisca masih dengan persepsinya.


Memang ku akui Jeremy super tampan dan keren. Adiknya saja si Olin cantik. Sudah pasti kakaknya juga. Wajahnya tak jauh beda dari Olin, Kulitnya putih bersih ,hanya pakai celana pendek saja, saat mengantarku masih terlihat ketampanannya. Tapi jelas bukan tipe ku yang pekerja keras. Bayar kuliah dan jajan saja masih meminta dari orangtua.


"Emm.. Tadi sahabat lagi Mil?"


Tiba-tiba Gerald berada di depan kami yang masih membereskan display baju. Toko memang buka satu jam lagi. Hari ini tidak ada briefing, jadi kami pakai waktu ini untuk menata pakaian dan mengobrol.


"Bukan pak. Itu mah calon."


Sisca menjawab pertanyaan yang dilontarkan untukku.


"Sembarangan lu Sis gosip melulu."


Kata ku menyanggah kalimat Sisca.


"Liat aja kalo dia rajin nganter, berarti gue bukan gosip ya"


Tantang Sisca.


"Ya gak bisa gitu dong Sis kesimpulannya"


Rengekku pada Sisca.


Gerald berlalu tanpa berkata apapun lagi.


Jeremy mengirim pesan padaku.


Jangan lupa nanti gue jemput.


Aku tak niat membalasnya. Menolak pun akan jadi perdebatan panjang.

__ADS_1


**


Aku sudah bersama dengannya lagi sore ini.


"Mil makan dulu yuk."


"Boleh bang."


Jeremy memarkirkan motornya disebuah cafe.


Aku memesan roti bakar dan jus tomat .


Jeremy memesan Ayam bakar mentega dengan es teh manis. Kami makan sambil bercerita mengenai pekerjaanku, kuliahnya dan hal lainnya.


Jeremy memang orang yang supel, wawasannya pun luas. Berbicara kemana saja seakan tak ada akhirnya.


"Yuk bang pulang"


Ajakku


"Buru-buru banget Mil. Gak betah ya?"


Tanya Jeremy.


Jawabku memberi alasan.


"Oke mil. Aku kira mau nginep dirumahku lagi temenin Olin."


Katanya sambil mengeluarkan uang untuk membayar.


Aku pun ikut menyiapkan uang untuk membayar.


"Ini aja Mil"


Dia menyodorkan sejumlah uang padaku.


"Enggak bang, gue bayar sendiri aja"


Tolakku.


Dia berdiri dari kursi dan berjalan ke kasir sambil berkata.

__ADS_1


"Gue gak suka di tolak Mil."


Jeremy membayar seluruh makanan kami. Aku tak hentinya mengucapkan terimakasih karena aku sudah banyak merepotkannya hari ini.


Kami sampai di depan gang.


"Gue turun sini aja bang."


Aku memberhentikan laju motor Jeremy.


"Gue gak boleh nganter sampe rumah Mil?"


Tanya Jeremy.


"Enggak bang. Nanti dikira lu pacar gue"


Kataku pada Jeremy.


"Belum Mil, Eh besok gue jemput disini ya"


Kalimat terkahir Jeremy yang belum sempat kutolak karena dia langsung menarik gas motornya.


Aku ingat perkataan ibuku "Jangan bawa temen cowo kesini. Apalagi ganti-ganti, nanti diliat tetangga. Ibu malu." Pesan ibu waktu aku merengek agar Dion boleh main.


Tekatku bulat, aku hanya akan membawa satu orang pria kehadapan orangtuaku. Kupastikan orang itu pula yang akan menikahiku.


"Tuh kaaann dianter jemput"


Pesan diponselku dari Sisca.


"Gosip lu."


Balasku singkat.


"Udahlah Mil jangan jual mahal. nanti gak laku. emang tipe lu gimana sih?"


Sisca membalas pesanku lagi.


Aku tak membalas. Jika kuberitahu Sisca akan kecewa. Karena tipe pria yang kusuka adalah Gerald yang sekarang dekat dengannya.


"Mil, kok gak dibalas sih? Minggu ke acara bu Lea bareng gue dan Pak Gerald ya. Dia yang minta katanya kasian lu sendirian."

__ADS_1


Sisca mengirim pesan padaku lagi.


__ADS_2