(Im)Perfect

(Im)Perfect
Toxic


__ADS_3

Olin datang kesekolah dengan pipi yang membiru.


Dia terlihat murung hari ini. Biasanya dia sibuk bercerita pada siapa saja yang ada di dekatnya. Kali ini tidak.


"keluar lu per*k" Dari luar kelas seorang laki-laki jelek, berantakan dan brutal berteriak memanggil ke arah kelas kami.


Kami kenal dia. Dia alumni sekolah kami. Tahun lalu ia baru lulus. Sudah setahun ini ia berhubungan dengan Olin. Entah kenapa anak sepandai Olin tak pandai dalam memilih pasangan.


"Apa sih buat malu aja?" Olin keluar dan menarik tangan Gorila itu kearah toilet.


Aku tidak mengerti kemana keamanan sekolah sampai orang yang tidak berkepentingan di biarkan masuk.


"Aww"


Terdengar jeritan Olin di toilet. Kelas kami memang bersebelahan dengan toilet. Jadi sudah pasti terdengar.


Kami bergegas lari menghampiri mereka.


Aku terkejut Olin dipukuli dengan tangan besar gorila itu. Olin menahannya, aku tau ia kesakitan. Tapi ia berusaha tenang. Yang membuatnya menjerit seperti tadi adalah helm gorila itu dilempar ke tubuh cantik Olin.


Firman dan Felix menahan tangan Gorila itu.


Aku segera mengamankan Olin ke dalam kelas.


Ria mengambil kotak P3K di UKS. Kami berusaha setenang mungkin agar tidak menimbulkan keributan yang menyebabkan Olin terkena masalah nantinya.

__ADS_1


"Gue gak apa. Gak usah diobatin"


Aku tau Olin menahan sakit dan malu.


Tapi Ria tetap mengobati luka dan memar di tubuh Olin.


"Lu mau sampe kapan begini?"


tanya Ria kepada Olin.


"Gue sayang Ri sama dia. gapapa ini emang salah gue."


Lagi-lagi Olin menyalahkan dirinya atas perlakuan buruk yang ia terima.


Kami sudah cukup lama tau perlakuan Gorila rabies itu kepada Olin. Sedikit ada masalah, ia selalu ringan tangan dalam artian yang buruk.


"Kemana tu Gargantuar?"


tanyaku pada Firman seraya memberikan julukan baru pada makhluk jahat itu.


"Di depan sekolah nunggu Olin istirahat".


Jawab Firman cuek.


Sepertinya seisi kelas ini juga sudah lelah menasehati Olin.

__ADS_1


Tiba jam istirahat. Olin mencari Gorila peliharaannya.


Kami bertiga mengikuti dari belakang takut kalau terjadi hal buruk lagi.


"Maafin aku yah. Aku khilaf."


Gorila itu tiba-tiba berubah jadi makhluk halus.


Iya, makhluk yang pandai berkata-kata halus padahal sesat.


"Iya gak apa. Aku juga minta maaf"


Lagi dan Lagi Olin luluh.


Kami tau , Gorila itu akan melakukan hal aneh jika Olin tak memaafkannya. Segala sesuatu yang menyakiti dirinya sendiri, hingga membuat Olin merasa bersalah dan memaafkannya lagi.


Kami akan sabar menunggu kapan Olin akan meninggalkan Her Toxic relationship. Kami tak dapat memberikan pendapat apapun. Yang kami bisa lakukan hanya memberi support Olin untuk mencintai dirinya sendiri.


"Tuh kalo gue gak seleksi.nanti lu dapet yang kaya gitu."


Dion datang mengejutkanku yang sibuk memperhatikan Olin dan Gorilanya.


"Emang gue bodoh banget? iya gue emang suka nyontek PR, tapi kalo urusan ginian gue bisa pinter"


Jawabku sambil menyundul kepalaku ke bahunya.

__ADS_1


Aku sedang duduk di tiang portal lapangan. Maka itu tak bisa menepuknya. Karena kedua tanganku menggengam keras tiang. Tak lucu rasanya kalau aku harus jatuh darisitu kan?


Kalau ada pangeran yang datang menopang tubuhku tak apa aku jatuh. Ini yang ada hanya Dion.


__ADS_2