
Mulai dari jam sepuluh tadi, Gerald tak henti-hentinya memberiku tugas, ketika kertas yang lain sudah ku isi, Ia menggantinya dengan yang baru.
Aku mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.
Lalu ketika jam makan siang tiba
"Mil, masih ada dua lembar yang harus kamu isi. Mau break makan siang dulu atau lanjutkan hingga selesai, setelah itu baru makan siang?"
Gerald memberikan pilihan padaku.
"Aku mau lanjutin dulu boleh?"
Aku balik bertanya.
"Boleh. Ayo lanjutkan"
Gerald mempersilahkanku melanjutkan ujianku.
"Loh kak, kamu kenapa gak makan siang?"
Aku berhenti mengerjakan dan bertanya padanya.
"Tadi kamu minta melanjutkan"
Kata Gerald.
"Iya aku, tapi kenapa kak Gerald ikutan gak istirahat?"
Tanyaku masih bingung.
"Ini tugas saya Mil, memperhatikan dan menyeleksi calon pelamar dari awal hingga akhir"
Jelasnya padaku.
Aku jadi merasa bersalah memilih pilihan yang kedua.
Sudah pukul satu, karyawan yang beristirahat sudah kembali ke pekerjaannya masing-masing. Sedangkan aku dan Gerald baru akan memulai istirahat kami.
"Yuk makan bareng, aku traktir. Tapi bukan karena apa-apa. Aku hanya menebus kesalahanku tadi menahan waktu istirahatmu"
Kataku pada Gerald.
Gerald hanya tersenyum dan menurutiku.
"Yeeaayy semua tempat makan kosong. Aku udah lama mau coba iga bakar disitu"
__ADS_1
Aku melompat kegirangan sambil menunjuk sebuah kedai makan.
Kami memesan menu yang sama. Aku makan dengan lahap.
"Gimana kabar keluargamu Mil?"
Tanya Gerald basa-basi
"Baik. Gimana hubungan mu dengan Sisca?"
Aku bertanya dan kemudian kusesali. Apapun jawabannya mungkin akan membuatku mengingat kembali.
"Seperti yang kamu liat."
Jawabnya singkat.
Aku tau yang aku lihat adalah Gerald tak pernah membalas perasaan Sisca.
"Kamu sendiri, kenapa tidak membuka kesempatan oranglain mendekatimu Mil?"
Tanya Gerald sepertinya ia memata-mataiku.
"Belum ada yang cocok."
"Baiklah, itu artinya masih ada kesempatan untuk saya berbicara pada Sisca mengenai perasaan kita yang sebenarnya."
Kata Gerald berharap.
"Jangan Kak. Aku bilang belum bukan tidak."
Tegasku
"Baiklah, kita lihat seberapa jauh kamu berusaha melupakan saya. Kamu tetap akan kembali kepada saya, Mil."
Kata Gerald sangat percaya diri.
Selesai makan, aku dan Gerald kembali ke ruangannya.
"Mil, saya harus mengecek semua jawabanmu. Kamu mau tunggu dimana?"
Gerald bertanya padaku.
"Aku tunggu di tangga darurat aja. Aku akan duduk disana."
Jawabku sambil membuka pintu ruangan Gerald.
__ADS_1
"Eh jangan Mil disana panas. Tidak apa-apa kamu tunggu saya disini."
Katanya menyuruhku duduk kembali.
Aku memperhatikan Gerald yang mengkoreksi tiap lembar demi lembar yang aku kerjakan.
Aku terus menatapnya sampai tak sadar ia sedang melihat ke arahku.
"Kamu kenapa?"
Tanya Gerald membuyarkan khayalanku.
"Gak ada apa-apa"
Aku mengalihkan pandanganku darinya.
"Makasih masih mencintai saya"
Kata Gerald dan kembali lagi dengan pekerjaannya.
"Maksudnya?"
Tanyaku heran dengan maksudnya.
"Itu"
Dia menunjuk jari manis ku dimana cincin darinya melingkar.
"Walaupun kamu bersikap acuh pada saya, saya tau hati kita masih terikat"
Gerald melanjutkan bicaranya.
Aku terdiam, aku memang tak ada niat untuk melupakan semua tentangku dan Gerald. Apalagi melepaskan cincin yang menjadi tanda keterikatan hati kami. Karena bagiku, hubungan kami berdua berakhir bukan karena aku maupun Gerald melakukan kesalahan, tapi karena keadaan.
"Mil, hasil psikotes kamu aman. Kamu masih Emily yang dulu pertama melamar disini. Besok kita interview."
Kata Gerald mengatakan hasil tes ku.
"Sama kamu lagi?"
Tanyaku.
"iyaa, sama siapa lagi memangnya?"
Tanya Gerald yang menutup pembicaraan.
__ADS_1