
"Sayang, tolong pilihkan saya dasi."
Gerald memintaku. Dia sudah percaya atas pilihan-pilihanku untuknya.
"Ya sayang sebentar"
Mintaku, karena aku sedang memasak sarapan untuknya.
Setelah itu aku memilihkan dasi untuknya lalu mengalungkannya di kerah kemejanya.
"Mil, kalo saya tau dari dulu nikah itu enak, diurusin, dimasakin, pasti saya sudah nikah dari lulus kuliah"
Ucap Gerald yang sedang kurapikan dasinya.
"Huh kalo kamu tau dari dulu, kamu gak akan nikah sama aku. Aku masih sekolah."
Kataku cemberut.
"Haha iya Mil, saya emang harus ketemu kamu dulu baru nikah."
Jawab Gerald mengetahui istrinya merajuk.
"Makan dulu kak. Aku udah buatin chicken wrap dan blueberry smoothies plus yogurt."
Tadi kami sedikit kesiangan, aku membuat hidangan yang tidak membutuhkan waktu lama.
"Mil, kamu ada rencana kemana hari ini?"
Tanya Gerald.
"Gak ada kak. Oh ya besok aku ada panggilan kerja kak . Aku izin ya"
Aku meminta izin untuk besok interview.
Pasalnya sudah seminggu ini aku hanya di rumah, perusahaan kami bekerja dari awal sudah membuat perjanjian tidak boleh suami istri sekantor. Tanteku pemilik butik kami tentu memperbolehkan aku dan Gerald. Tapi rasanya kami tidak enak hati seperti diistimewakan. Jadi Gerald memintaku yang berhenti.
"Gak Mil, saya gak izinin kamu kerja lagi. Kamu di rumah aja urus saya. Kalau memang niatmu masih mau bekerja, lebih baik waktu itu saya yang resign dan urusin bisnis mami. Tapi saya memang gak mau kamu kerja lagi."
Gerald melarangku.
"Aku bosan kak"
__ADS_1
Kataku sambil menunduk tak berani membantahnya lagi.
"Ya sudah kita program kehamilan, supaya kamu gak bosan di rumah sendirian."
Kata Gerald bersikukuh.
"Baru sebulan kita nikah kak, sabar ya"
Kataku.
"*Saya sabar, tapi kan kamu yang gak sabar bi*lang sudah bosan sendirian di rumah."
Kata Gerald sambil menghabiskan suapan terakhir.
"Saya berangkat yah. Kamu baik-baik di rumah."
Gerald berpamitan.
Aku mengantarnya sampai ke muka pintu. Ia berlalu mengendarai mobil hadiah pernikahan kami dari mertuaku.
M, gue akan menikah besok pagi. Maaf gak ngundang lu dan yang lain, karena jauh juga dari tempat kalian.
Wah congrat ya Yon, iya gak apa-apa. BTW, sama siapa?
Balasku
Namanya Martha, pilihan orangtua gue.
Jawab Dion membalas pesanku.
Ah kereeenn bukan cuma masuk kriteria orang tua lu itu sih Yon, seneng gue dengernya. Semoga lancar ya Yon acaranya. Salam buat Martha.
Jawabku yang tak dibalas lagi oleh Dion.
Aku bergegas membereskan dapur dan meja makan yang masih berantakan lalu melakukan ritual yang sama seminggu ini yaitu merapikan rumah dan setelah itu menunggu Gerald sampai pulang.
Akhirnya sore tiba, aku mulai memasak lagi untuk makan malam kami.
"Ya, tunggu"
Kataku mendengar bel pintu rumah berbunyi, selagi aku menata makanan di meja.
__ADS_1
"Hay sayang bau apa ini? buat lapar"
Tanya Gerald setelah mencium keningku.
"Capcay maksudmu?"
Aku kembali bertanya, sepertinya hidungku sudah kebal mencium bau selama memasak tadi.
"Iya, saya mau makan"
Kata Gerald langsung berjalan ke meja makan.
"Michael, kau sebaiknya mencuci tanganmu dulu"
Kataku bergaya seperti maminya Gerald.
"Haha iya iya"
Gerald menurutiku, ia berjalan kearah westafel.
Setelahnya, kami makan bersama.
"Kamu tumben makan sayur?"
Tanya nya padaku.
"Hah iya .. lagi pengen nyobain aja"
Jawabku
"Itu bukan cobain Mil, kamu makan sebanyak itu. Itu sayur loh. Kamu kan gak suka"
Gerald bingung.
"Diet aku, kak"
Jawabku masih sambil melahap capcay yang sudah tentu berisi sayur mayur.
"Oh "
Jawab Gerald mengerti.
__ADS_1