
"Pagi Bondol.."
Sapa Jeremy yang sudah bertengger di depan gang rumah ku.
"Pagi bang"
Aku balik menyapa.
"Jangan panggil abang dong Mil. Mirip tukang Ojek jadinya."
Tolak Jeremy keberatan.
"Ya lu kan abangnya Olin."
Jawabku menerangkan hubungan kami.
"Iya, Olin aja yang manggil gue abang. Lu gak usah. Panggil gue Jeri aja."
Minta Jeremy padaku.
"Oke Jero"
Jawabku mengiyakan
"Kok Jero?"
Jeremy tidak jadi menstater motornya.
"Jero... Jeremy Rossi"
Jawabku menggabungkan namanya dengan nama pembalap legend.
"Hahaha bisa aja lu Mil. Sekarang pegangan Rosi mau ngegas."
Katanya mengingatkanku akan kemampuannya yang menakutkan.
"Jer.. Gue ganti nama lu jadi Jeko"
Teriakku disamping helm full facenya.
"Apaan tuh?"
Dia bertanya bingung.
"Jeremy komeng. Lu tau iklan motornya si Komeng kan?"
Aku mengingatkannya iklan motor jaman aku kecil.
"Bahahahahakkkk lu kok lucu sih Mil? Jadi pacar gue aja yuk"
Teriak Jero karena hembusan angin begitu kencang menutupi suara kami.
"Gak mauuuuu"
Aku berteriak tak kalah kencang dari angin.
"Gue gak pernah ditolak Mil. Lu yang pertama."
Kata Jero yang membuatku tertawa.
Aku hampir sampai di outlet ketika motor Jero nyaris menabrak mobil pajero hitam di depan parkiran.
Jero mengklakson si empunya mobil dengan emosi.
__ADS_1
"Jer, udahlah kita gak kenapa-napa."
Aku berbisik di belakangnya.
"Ya dia gak bener bawa mobilnya"
Jero emosi.
Aku turun dan menyuruh Jero segera pulang.
Jangan sampe ni orang customer loyal butik. Habislah riwayat gue.
Aku bergumam sembari menutup wajah, takut-takut ia mengadukanku pada Bu Lea.
Tiiinnn
Seseorang yang duduk dibelakang kemudi membunyikan klakson memanggilku.
Aku menghampirinya untuk meminta maaf.
Kaca depan mobil diturunkan. Aku lebih terkejut ternyata Gerald ada di kursi kemudi.
Entah aku harus bersyukur atau tidak, tapi sepertinya lebih baik aku dihadapkan pada customer butik dan membiarkan gajiku dipotong , daripada berhadapan dengan manusia ini.
"Maaf ya pak..eh kak"
Aku meminta maaf.
Gerald turun dari mobilnya
"Pilih temen yang bener Mil. Preman gitu"
Kata Gerald sembari menutup pintu mobil.
Sombong amat. Untung gak jadi kugebet.
Aku menggerutu dalam hati sambil menjulurkan lidahku dibelakangnya.
"Lidah kamu kenapa Mil?"
Dia bertanya. Aku tak tau sejak kapan ia melihat ke arahku.
"Maaf pak sariawan."
Kataku beralasan.
Dia berbalik badan dan menggeleng-geleng sembari tersenyum.
**
Hari Minggu tiba, aku menumpang mobil Gerald . Aku duduk di kursi tengah karena di kursi depan ada Sisca yang sudah menempati duduk sedari tadi layaknya nyonya Gerald.
Kalo gak jauh, mending naik taksi atau ojeg. Males banget jadi obat nyamuk gini.
Dumelku dalam hati.
Acaranya memang jauh kurang lebih tiga jam untuk sampai ditempat pesta. Jika tak datang, tak enak rasanya karena Bu Lea lah orang yang berjasa mempertahankan kinerjaku.
"Mil, lu kenapa gak minta anter cowo lu?"
Tanya Sisca membuka obrolan.
Karena sudah 20 menit berjalan tidak ada yang berbicara, hanya terdengar suara Chris martin sendu melantunkan salah satu track andalan bandnya, Yellow.
__ADS_1
"Dia bukan cowok gue Sis. Gue bilangkan jangan gosip"
Kataku kesal.
"Ya tapikan jelas dia suka. Udah baik banget anter jemput lu tiap hari, Lu nya kebangetan banget pemilih."
Protes Sisca menanggapiku memperlakukan Jero.
"Emang dia udah bilang naksir sama gue? ngajak gue jadi cewenya? Belum Sis.. Elu ngeduluin aja"
Aku berbalik memprotes Sisca.
"Terus kalo dia nembak lu, lu mau?"
Tanya Sisca mendesak.
"Enggak."
Jawabku singkat.
"Kenapa?"
Tanyanya lagi.
"Ya bukan kriteria gue aja."
Jawabku sambil bermain game di ponselku. Malas-malasan membahas ini.
"Terus kriteria lu gimana?"
Pertanyaan Sisca makin gencar
"Putih, Sipit, Pekerja keras. That's it!"
Aku masih serius bermain game ketika mengucapkan kalimat itu.
Kemudian aku tersadar, aku mengucapkan di depan orangnya langsung. Kuharap Sisca tidak curiga bahwa Geraldlah yang aku maksud.
Ku lihat Sisca masih berpikir dan kualihkan mataku ke kaca tengah spion mobil. Mataku dan mata Gerald bertemu. Mungkinkah ia tau?
UGH, Mil.. I can't believe how stupid i am.
Aku menyalahkan diriku sendiri.
"Yang chinese gitu Mil?"
Tanya Sisca lagi.
Terimakasih Tuhan, Sisca otaknya gak sampe kesitu.
Ucap syukurku dalam hati.
"Iya gitu deh Sis".
Jawabku menyudahi obrolan ini.
"Ihhh lu jahat Mil. Demi ego lu, lu rela ngelepasin cowo baik kaya Jeremi. Kasih kesempatan lah Mil. Lu gak akan pernah tau sebelum coba."
Kata Sisca yang membuatku menghela napas panjang. Kukira sudah selesai obrolannya.
"Biarin Mily yang milih Sis, karena dia yang bakal jalanin bukan kamu."
Tiba-tiba Gerald nimbrung kedalam obrolan kami.
__ADS_1
Tapi aku bersyukur, jawabannya membungkam mulut Sisca.