(Im)Perfect

(Im)Perfect
Isi hati Eric


__ADS_3

"Kenapa masih disini?"


Tanya Eric dingin.


Karena tadi aku sudah berpamitan tapi tak juga pergi.


"Nyari Ria"


Jawabku malu.


Aku tau sebenarnya Ria sudah tak ada. Aku berniat mencari Pak Indra untuk minta diantarkan ke villa ku.


"Ria udah baliklah pasti. Tadi kan kita kelamaan usir ular"


Kata Eric yang ingin kusahuti Sudah tau.


"Oh yaudah deh. Gue duluan ya"


Pamitku kedua kalinya.


Aku akhirnya memutuskan berjalan sendiri ke villa meninggalkan Eric.


Nanti pas dijembatan sampe turunan gue harus lari sekencang-kencangnya. Rencanaku dalam hati.


"Emang Villa nya dimana?"


Eric bertanya dari belakangku.


Aku sempat kaget, ku kira hantu.


"Itu dibawah dekat kolam"


aku menunjuk kebawah.


"Yuk"


Eric berniat mengantarku.

__ADS_1


Setengah jalan kami sangat hening..Hanya terdengar bunyi jangkrik dan napas kami.


"Gue kecewa banget Mil sama lu. Tapi gue sayang ngelebihin ego gue sendiri."


Kata Eric memecah keheningan.


"Iya maaf."


Aku tak tau harus berkata apalagi. Eric milik Ara saat ini. Aku harus tau diri.


"Lu cuma bilang maaf terus mil. Itu gak bisa balikin apa-apa"


Eric berkata sambil mengantongi kedua tangannya.


"Ya terus gue harus gimana? Lu udah ada Ara. Mau gue bertindak gimana pun bakal salah. Emang gue doang yang mau kaya gini? Elu juga turut andil Ric. Gue bosen disalahin mulu. Lu cuma percaya apa yang lu denger dan liat. Lu gak ngerasain pake hati. Makanya ada gosip miring tentang gue, lu langsung percaya"


Kalimatku membrondong begitu saja. kesal disalahkan terus.


Eric menghentikan langkahnya. Ku dekati dia, aku merasa salah bicara.


"Gue sayang banget sama lu Mil. Gue pikir dengan nerima cinta Ara, gue bisa lupain lu. Ternyata enggak"


Eric berbisik pilu menjelaskan alasannya menerima Ara.


"Yaudah Ric, lu harus tanggungjawab sama pilihan lu. Lu udah pilih Ara, sudah seharusnya lu jangan sakitin dia."


Aku menguatkan Eric dengan pilihannya. Padahal aku pun lemah.


Eric mendorongku pelan dan berkata


"Kalo aja Mil hari ke sepuluh lu dateng, pasti gue masih bahagia sama lu".


Sesal Eric.


Kamu gak akan pernah tau Ric hari kesepuluh dimana aku mengejarmu kembali dan ternyata kau memilih Ara.


Biar aku, Tuhan, dan Grace saja yang tau.

__ADS_1


Aku sudah sampai di depan pintu. Eric membalikkan badannya meninggalkanku. Kuharap itu terjadi di hati mu juga, Ric. Balikkanlah hatimu daripadaku dan berjalanlah maju ke depan.


Harapku untuk dirinya.


Pagi tadi kami telah berkemas untuk pulang. Aku memilih memasang earphone dan tidur di dalam bus.


Aku duduk bersama Ria seperti perjalanan pergi.


Grace duduk bersama Olin, Felix duduk dengan Eric.


Perjalanan pulang terdengar lebih tenang.


Tidak ada suara kerumunan pasar lagi. Mungkin mereka lelah.


Terutama Aku, Felix, Ria dan Eric.


"Yank, nanti duduk sama aku ya."


Bus belum jalan saja, Felix sudah meminta Ria pindah.


"Lah terus gue?"


Tanya Eric sepert terusir.


"Ya lu sama Emily lah, Bro. ngalah gitu sama orang bucin."


Kata Lana menyahuti pertanyaan Eric.


"Lu aja deh Lan, gue dibelakang"


Minta Eric pada Lana.


"Gak ah tar mily jatoh kaya Olan kemaren."


Kata Lana membuatku tersenyum geli.


Sepertinya ini memang rencana manusia-manusia rusuh ini termasuk Ria. Mendekatkanku kembali dengan Eric.

__ADS_1


__ADS_2