
Diatas meja sudah tersedia makanan prasmanan yang disiapkan pihak penyewa villa.
Olin, Grace dan terakhir aku mengantri sejajar untuk mengambil satu persatu menu yang dihidangkan.
Felix sudah mengakuisisi Ria daritadi sebelum makan mungkin hingga acara api unggun nanti malam.
Aku sibuk memilih menu yang kusuka. Kuambil nasi secukupnya, Ayam fillet asam manis dan Beef teriyaki.
Aku melewati dua nampan besi yang berisi tumis brokoli dan capcay.
"4 sehat 5 sempurna"
Seru Pak Indra diujung meja sambil menuangkan sesendok brokoli dan capcay di piringku.
Sebelum makan, kami berdoa bersama. Lalu Pak Indra memberi pesan
"Piring kalian harus bersih ya, tidak ada sayur, nasi atau lauk disisakan dengan sengaja. Jika bapak temukan ada yang seperti itu, bapak hukum mengutip sampah di wilayah villa ini."
"Ah siap Pak. Habis ini mah sama saya" Teriak Lana sangat antusias mendengar perintah Pak Indra.
Semua yang hadir tertawa.
Duh, gimana nih caranya abisin sayur. Paiiitt kaaann.
Tangisku dalam hati.
Aku melihat Ria yang memaksa sayuran masuk ke kerongkongannya, dia hampir muntah. Aku memiliki ketidaksukaan yang sama dengan Ria. Sama-sama tidak suka sayur.
Kumakan perlahan nasi dan lauk yang kupilih tadi.
Kucoba memasukkan satu brokoli kemulutku.
Rasanya sungguh tak bisa ku tolerir.
__ADS_1
Aku pasrah jika harus dihukum. Asal tak makan sayur.
Tekadku dalam hati.
Kulihat Olin dan Grace sudah mengembalikan piring ke dapur. Aku masih tertunduk meratapi sayuran di piringku yang belum kusentuh. Seketika seseorang menyendok sayuran punyaku ke dalam mulutnya.
Aku tak sadar kedatangan Eric di sampingku.
Eric menghabiskan sayuran di piringku hingga bersih. Lalu ia berdiri tanpa berbicara. Aku juga tak sempat mengucapkan terimakasih.
Akhirnya malam pelepasan yang ditunggu tiba.
Para guru menyampaikan pesan-pesannya pada kami. Lalu kami berpelukan dengan para guru yang sudah membimbing kami sejauh ini. Tanpa mereka, kami tak ada apanya.
Selepas itu, kami diminta bersalaman satu sama lain.
Aku berpapasan dengan Eric saat sesi bersalaman. Tapi aku tau Eric menghindar. Ia tak mau menerima jabatan tanganku.
Eric makin hari makin tak dapat ditebak sikapnya. Kadang baik, kadang berulah lagi. Gerutuku dalam hati.
Lana diujung taman terlihat seperti penunggu. Penunggu makanan tepatnya. Dia berdiri tepat disamping teman-teman yang sedang membakar ayam dan jagung.
Kulihat ponselku terdapat pesan masuk
Gue baru pulang kerja ,M. Gimana acaranya? Lu suka?
Disaat kami masih menikmati masa-masa santai kami, Dion sudah menjadi pekerja keras. Aku bangga padanya.
Kukirim pesan kembali kepadanya
Seru Yon. Tapi tadi gue disuruh makan sayur sama pak Indra. Nyebelin kan?
Dion membalas
__ADS_1
Ayolah M, Sayur itu bagus untuk kesehatan.Belajarlah sukai sayur sedikit-sedikit. Terus siapa yang habisin? Kan gue gak ada disana.Lu sendiri? Gak mungkin.
Dion memang selalu mengingatkanku untuk menyukai sayuran. Tapi tak serta merta menjejalkanku. Dia selalu membantu menghabiskan sayur yang ditempatkan ibu dalam bekalku. Dan menyisakannya satu suap untukku makan. Katanya mencoba dimulai dari sedikit. Lama lama akan suka.
"Dibantuin Eric"
Aku menjawab jujur kejadian tadi.
Seketika dia menelpon.
"M, gue baru beberapa hari disini lu udah deket lagi sama Eric?"
Memulai obrolan tanpa basa-basi.
"Dia cuma makan jatah sayur gue. Daripada kena hukum"
Jawabku polos.
"Jaga diri, M. Jangan dekat lagi sama Eric"
Pesan Dion sebelum menutup telepon.
"Posesif"
Aku meledeknya sedetik sebelum panggilan benar-benar diakhiri.
Kami tidak pernah mengucapkan kata perpisahan seperti Bye atau dadah sebelum menutup panggilan telepon Atau bahkan ketika dia menurunkanku dari motornya.
Dia bilang gue gak suka denger lu ngomong gitu. Kaya kita bakal pisah dan gak ketemu lagi. Gue masih mau ketemu.
Aku mengingat perkataan Dion ketika pertama ku ucap "Bye" diujung percapakan.
Tadi gue denger loh lu ngomong apa. Awas lu macem-macem.
__ADS_1
Ancam Dion di pesan masuk ponselku.
Aku senyum-senyum sendiri dan tak membalas lagi.