(Im)Perfect

(Im)Perfect
Sesal


__ADS_3

Malam ini aku komplain kepada Dion. Aku menelponnya lebih dulu tanpa menunggu dia menelponku.


"Gimana M? tumben nelpon duluan gak nunggu telpon dari gue. Ada apa? mau cerita apa?" tanya Dion kepadaku.


"Gue bukan mau cerita tapi gue mau komplen. Lu ngapain jemput gue terus jemput Meli?" tanyaku sambil mengomel.


"Terus lu maunya gue jemput lu aja?" tanya Dion santai.


"Bukan gitu Dion! Besok gue berangkat sendiri aja. Lu jemput Meli aja. Jangan buang-buang tenaga lu untuk hal yang gak perlu. Gue masih bisa berangkat sendiri" Tegasku sedikit marah.


"Gak lah. Itu udah tugas gue M, ngejaga kalian berdua" Jawab Dion yang membuatku tambah sewot.


"Lu tiap hari hampir terlambat sama Meli! udah ah gue juga biasa kok ngangkot. Lu jangan lebay" Paksaku meyakinkan Dion.

__ADS_1


"Ok. kalo lu nelpon gue cuma untuk itu." Kalimat terakhir Dion sebelum menutup telepon. Yang kuanggap sebagai persetujuan darinya.


Pagi ini, aku berjalan dari rumah ke gang memikirkan Eric. Rasanya aku masih sayang. Rasanya aku kehilangan. Kehilangan supporter terbaik seperti Eric. Rasanya juga tak adil hanya karena 1 kesalahan, aku melupakan semua kebaikan Eric terhadapku. Tanpa terasa aku sudah sampai di ujung gang, kulihat Dion dan motornya sudah menungguku daritadi.


"Ayo naik tuan putri" Ucap Dion padaku.


"Lu kan udah gue bilangin semalem jangan jemput gue lagi. Gue masih sehat belum renta" Protesku sambil menginjak footstep motor Dion.


Akhirnya aku harus naik jugakan? Tidak mungkin menolak rejeki di depan mata. Memang Dion keras kepala.


Ah masa bodo dengan pertengkaran mulutku dan Dion pagi ini, aku masih berkutat dengan pikiran dan perasaanku kepada Eric. Tapi sebaiknya aku pura-pura ceria agar Dion tidak curiga.


Seperti biasa aku turun di gerbang, dan Dion pergi lagi menjemput ratunya.

__ADS_1


"Mil, ini hari ke 10 loh. gimana jawaban lu untuk eric?" Tiba-tiba Grace muncul di hadapanku.


"Iya, Grace nanti sepulang sekolah gue bakal ngomong sama dia. Gue rasa ini masih bisa diperbaiki" jawabku yakin.


"Emmm, gue rasa istirahat lu cari aja deh Ericnya. Jangan nunggu pulang" Pendapat Grace.


Tapi sayangnya hari ini kelas kami tidak mendapatkan jam istirahat yang sesuai. Karena ada praktek Biologi yang tidak bisa kami tinggalkan. Jadi, ketika kelas lain sudah selesai istirahat, kami baru mulai.


Begitupun pulang sekolah, kami harus menunda 30 menit dari biasanya. Karena praktek hari ini memakan waktu yang cukup lama. Jujur aku tak bisa berkonsentrasi penuh. Aku takut Eric sudah pulang dan besok tidak ada lagi kesempatan.


Aku berlari sekencang-kencangnya mencari Eric. Tak usah menunggu besok, Eric pun sudah membuat keputusan. Aku melihatnya. Eric menggandeng adik kelas kami bernama Ara. Eric tak akan pernah tau bahwa aku sudah mengejarnya hari ini. Aku sudah berusaha tapi memang bukan kembali adalah jalan yang terbaik untuk kami.


Tepukan halus dipunggungku membuatku mengusap air mataku. Ternyata ini sakit rasanya.

__ADS_1


"Mil, maaf ya harusnya gue gak cerita. Tapi Eric menggantungkan perasan oranglain demi lu. Sejak dari berita kalian putus, Ara udah nyatain perasaannya ke Eric. Tapi Eric selalu nolak. Dia belum siap buka hati. Bukan cuma sekali, Ara gigih banget dapetin perhatian Eric. Ketiga kalinya dia nyatain lagi perasaan ke Eric, Eric minta waktu. Eric ngerasa lu juga masih sayang sama dia. Menurut Eric kalo perasaan lu udah gak ada untuknya, Dia berhak ngasih perasaannya untuk oranglain". Jelas Grace sembari merangkulku.


Aku memutuskan pergi ke danau untuk melepas semua kenangan dengan Eric. Aku marah terhadap diriku sendiri. Aku marah pada Dion seandainya aku tak mendengarkannya. Aku marah pada Eric, secepat itu ia beralih padahal sampai detik ini aku tidak menggantikan posisinya dihatiku. Dan aku tetap marah pada Eric, Hari ke 10 ia tak mau sabar menungguku. Bisakan ia memutuskan jawabannya ke Ara besok saja? tidak adil rasanya untukku.


__ADS_2