(Im)Perfect

(Im)Perfect
Kelulusan


__ADS_3

Setelah seminggu kami berjuang, hari ini saat yang ditunggu-tunggu semua siswa kelas 12 setanah air.


Bu jessie wali kelas kami memasang raut wajah yang datar.


"Anak-anak, hari ini akan ibu sampaikan hasil kerja keras kalian selama 6 bulan belakangan ini. Tapi maaf tidak semua mengenai kabar gembira. Ada kabar yang kurang mengenakkan"


Kami semua terpaku mendengar penuturan Bu jes.


Sedih rasanya kalau ada salah satu saja yang tidak lulus.


"Mau denger kabar baik atau kabar buruk dulu?"


Bu Jes bertanya kepada kami.


"Bad news"


Serempak kami menjawab.


"Kabar buruknya, Firman Lana Andi Nando dan Felix maju ke depan"


perintah bu Jes mempersilahkan nama yang disebut menghampirinya.


Aku dan Dion saling berpandangan. Kalau sampai mereka gak lulus, ini salahku.


"Lu kasih bener jawaban gue kan M?"


Tanya Dion.


"Iya Tapi gak semuanya. Ada 3 jawaban gue bedain"


Jawabku dengan penuh sesal.


"Loooohh M?"


Dion mau protes langsung ku potong


"Ya elu yang capek mikir, mereka enggak masa nilainya sama?"


Protesku pada Dion.


Mereka berlima sudah ada didepan.


"Ibu mau tanya, ini kalian kerjasama atau kerja bareng?"


Tanya bu Jes geram.


"Ya dikit bu"


Jawab Firman tak jujur.

__ADS_1


Bukan kerjasama tapi kerjaan orang disalin sahutku dalam hati.


"Dikit gimana ? Jawaban kalian semua nomer sama. kembar."


Selidik bu Jes sambil menahan tawa dan menjewer mereka gemas.


"Udah sana duduk"


Bu jes memerintah mereka lagi.


"terus gimana bu? kita lulus apa enggak?"


Tanya Andi masih penasaran.


"Lah emang ibu bilang ada yang gak lulus?"


Tanya bu Jes kepada kami.


"Jadi kita semua lulus bu?"


Tanya Lana lagi masih ragu.


"Ya iyaa. Itu good news nya"


Bu jes menjawab.


Andi bertanya seenaknya tanpa berpikir telah berbuat salah.


"Iya badnewsnya ibu jadi bingung kasih peringkat ujian di kelas kita. masa lima orang masuk peringkat lima?"


Terang Bu Jes sambil tertawa.


Kemudian kami saling meluapkan kebahagiaan. Aku menggengam tangan dua orang di sampingku, Lana dan Dion. Mereka pun ikut menggenggam tangan sebelahnya hingga membuat lingkaran. Kami berdoa dan mengucap syukur bersama.


"Jangan lupa hari jumat kita pelepasan"


Bu Jessie mengingatkan sambil berjalan meninggalkan ruangan.


Aku langsung lemas. Aku baru ingat setelah kami mendapatkan hasil, Dion akan langsung bertolak ke kotanya. Artinya hari ini terakhir aku bertemu dengannya.


Aku termenung dan berpikir apakah aku akan mendapatkan sahabat seperti Dion lagi di masa depan.


Aku ingin menghabiskan hari ini bersamanya tapi aku tahu diri pasti Mel juga ingin waktu-waktu terakhirnya.


Kuurungkan niatku mengajaknya pergi.


"Dion, selamat jalan. Gue bangga pernah jadi sahabat lu"


Aku berbalik arah melihat Dion yang bersiap untuk pulang.

__ADS_1


"Iya M, gue juga bangga punya sahabat kaya elu"


Jawab Dion menatapku, membuatku tak bisa membendung airmata.


"Kok nangis sih? jangan cengeng M. Lu harus lebih strong daripada pas ada gue. Karena gue udah gak bisa mantau lu tiap saat lagi. Jadi jaga diri lu sendiri"


Pesan Dion yang membuatku makin tersedu.


"Diooonnnn, Peluk boleh?"


Rengekku.


"Malu banyak orang. Ayok pulang, gue anter."


Tolak Dion.


"Mel gimana?"


Tanyaku. Tapi kali ini aku pun tak rela membiarkan Mel bersamanya. Aku ingin egois saat ini.


"Udah gue suruh balik duluan. Tar malem aja gue kerumahnya sekalian pamit sama orangtuanya."


Jawab Dion membuatku lega.


Dimotor..


"Yaudah peluk tadi katanya mau peluk"


Dion menagih.


"Gak ah malu diliat orang"


Tolakku gantian.


"Lebih malu tadi dikelas. Kalo dijalan, emang mereka kenal kita?"


Dion membalas ucapanku.


"Ya kan mau peluknya tadi. Sekarang gak jadi"


Aku menolak takut dikira gatel.


Dion tak menjawab lagi, hanya menarik tangan kananku terlebih dahulu kemudian tangan kiriku.


Kusenderkan kepalaku di punggungnya. Aku meneteskan airmata dibajunya.


Aku sungguh belum siap kehilangannya.


SELAMAT TINGGAL DION, SAHABAT TERBAIKKU~

__ADS_1


__ADS_2