(Im)Perfect

(Im)Perfect
4 sahabat


__ADS_3

"Pak maaf ya buat nunggu"


Aku yang merasa bersalah pada pak Gerald.


"Gak apa. Kan saya yang mau nunggu"


Jawab Pak Gerald.


"Pak pesen apa aja ya, saya yang traktir."


Kataku mengobati rasa bersalah.


"Panggil Ger aja, Mil"


Minta Pak Gerald.


"Gak enak pak. Saya masih kecil"


Kataku santun.


"Iya saya jadi kagum. Masih kecil giat kerjanya. Kalo di luar panggil Gerald aja atau mas atau kak terserah asal jangan bapak. Saya kaya om-om nakal"


Pak Gerald keberatan.


"Yaudah aku panggil kak deh. Emang umurnya berapa kak kalo boleh tau"


Aku penasaran.


"28. kita beda 10 tahun"


Kata Pak Gerald sambil tertawa tipis.


"Emm gak keliatan yah, Kaya baru 20 tahun."


Kataku jujur.


Memang Gerald terlihat lebih muda dari aslinya.


Perawakannya tinggi, putih, berisi dan berkacamata, Rambutnya pendek disisir rapi ke belakang.


Lagi lagi dia tersenyum tipis.

__ADS_1


Kami memakan makanan yang kami pesan tadi bersama. Selepas itu kami pulang.


**


Hari Minggu tiba, aku bertemu tiga sahabat perempuanku.


Aku mengawali obrolan mengenai pengangkatan ku sebagai karyawan tetap, disusul rengekan mereka yang meminta traktiran sebagai bentuk perayaan. Tetapi, kami terlalu malas rasanya keluar dari rumah Olin. Maka, ku telepon delivery salah satu restoran cepat saji dan memesan beberapa menu. Tentu saja aku yang bayar karena ini perayaanku.


Selagi kami menunggu pesanan kami diantar sampai rumah Olin, kami bercerita banyak hal.


"Sist, gue bakal kuliah di luar kota, tante gue udah daftarin disana. So, minggu depan gue udah gak disini."


Tutur Grace yang mengejutkan kami.


"Disini banyak kampus. ngapain jauh- jauh sih?"


Tanya Olin.


"Gue udah mantap mau kesana.Sekalian nemenin tante gue sendirian disana kasian."


Jawab Grace yang membuat kami sedih.


Kami berpelukan. Aku akan kehilangan sahabat terbaik lagi dalam hidupku. Aku sadar inilah kehidupan yang sesungguhnya. Kami harus saling mensupport dan saling mendoakan dari jauh.


Ria mengejutkan kami.


"Itu si Lala masih ganggu aja. Biarinlah capek gue lama-lama. Felix gak bisa tegas"


Kata Ria membeberkan alasannya.


"Gue udah berkali-kali putus nyambung cuma gara-gara tu anak."


Ria masih jengkel menceritakan kisahnya.


"Yaudah Ri diomongin baik-baik"


Kataku merespon Ria.


"Biar dulu deh Mil si Felix mikir lagian gue lagi sibuk ngurusin daftar kuliah"


Ria menjawab yakin.

__ADS_1


Ya mungkin dia lelah sudah lama berjuang harus melihat perempuan lain mengikuti jejak juangnya pada orang yang sama.


Dua bulan tidak bertemu banyak cerita mengejutkan datang dari kami.


Pesanan makanan kami pun tiba. Kami makan dengan tetap sambil bercerita.


Bip..Bip Ponselku bergetar. Ada dua pesan didalamnya.


Pak Gerald dan Dion, mana yang harus kubuka terlebih dulu.


"Mil, kamu gak masuk? "


Aku memilih membaca pesan Gerald terlebih dahulu.


"M, sibuk kah? dua bulan gak dibales. Gue putus dari Mel"


Pesan Dion kubuka setelahnya.


Aku baru ingat waktu ingin membalas pesannya, customer datang sehingga aku lupa membalasnya sampai saat ini.


Aku membalas pesan Gerald terlebih dahulu.


"Iya ka, aku libur. Ada apa ya kak?"


Lalu membalas pesan Dion


"Sory yon, asli gue lupa. Toko rame waktu lu chat gue. Kenapa lu putus dari Mel?"


Seketika aku mendapat balasan dari Gerald.


"Kangen Mil"


Aku lompat-lompat kegirangan diatas kasur Olin membuat mereka penasaran apa yang baru saja ku baca.


Mereka mengambil ponselku dan ikut melompat dikasur denganku.


"Kalian kenapa?"


Tanyaku heran.


"Gatau, cuma ikutan aja"

__ADS_1


Jawab Ria bingung.


Hah dasar kumpulan orang aneh tapi aku bahagia bersama kalian. Kalian ikut bahagia tanpa perlu tau alasan untuk bahagia.~


__ADS_2