
Akhirnya pintu dapat dibuka, aku langsung berlari kedalam. Kudapati Sisca tergeletak di kamar mandi dengan darah di pergelangan tangannya.
"Sis bangun Sis"
Aku menangis menggoyang-goyangkan tubuh Sisca.
Gerald menelpon ambulans. Karena jika menggunakan mobil Gerald, kami takut tak ada penanganan cepat dari medis untuk menolong nyawanya.
Aku ikut masuk ke dalam ambulans. Sedangkan Gerald menyusul dengan mobilnya.
Setelah sampai, aku dan Gerald berhenti di ruang tunggu. Sisca dilarikan ke Unit Gawat Darurat.
Satu jam setelah penanganan dari tim medis, akhirnya Sisca dinyatakan telah melewati masa kritisnya.
Tapi Sisca belum sadar.
Aku dan Gerald masuk ke dalam ruangannya.
Ku lihat wajah Sisca yang manis. Kugenggam tangannya, aku menyesal seharusnya tadi aku mendoakan yang terbaik untuknya.
"Kamu mau saya antar pulang Mil?"
Tanya Gerald memegang pundakku.
"Enggak kak. Kak Ger pulang aja. Aku nginep disini nungguin Sisca"
Tolakku pada tawaran Gerald.
"Kamu pulang aja. Saya yang bertanggungjawab atas kejadian ini."
Kata Gerald menyesal.
"Gak kak. Aku tetap mau disini. Kak Ger aja yang pulang. Aku cuma minta tolong satu hal."
Kataku memaksa Gerald pulang.
"Apa Mil?"
Tanya nya lagi.
"Tolong urus cuti kami berdua kak"
Aku memohon pada Gerald. Karena itu hal yang kami perlukan untuk saat ini.
"Baik Mil. Sebelum saya pulang, kamu makan dulu ya."
Ajak Gerald seraya menuntunku.
__ADS_1
**
Tiba di kantin rumah sakit, aku hanya memesan kopi agar aku terjaga nanti jika Sisca terbangun dan membutuhkanku.
"Kak Gerald gak bisa coba buka hati untuk Sisca?"
Tanyaku mengejutkan Gerald.
"Kamu mau ,saya suruh kamu untuk terima Jeremy?"
Tanyanya balik dan aku menggeleng.
"Begitu Mil, gak ada yang bisa paksain perasaan seseorang."
Jawab Gerald.
"Tapi ini beda cerita kak. Sisca depresi."
Aku memaksanya sambil menggenggam tangannya.
"Saya sukanya sama kamu Mil. Bukan Sisca"
Tiba-tiba nadanya meninggi. Kelihatan marah.
Aku tak tahu harus bahagia atau tidak.
Aku jelas bahagia karena cintaku terbalas.
"Saya pulang dulu. Sebelumnya saya antar kamu ke kamar Sisca ya."
Kata Gerald segera memutuskan pembicaraanku mengenai hal tadi.
Aku duduk di kursi sebelah kasur Sisca.
"Kamu gak bawa baju ganti Mil?"
tanya Gerald padaku dan aku menggeleng.
"Jaket?"
Tanyanya lagi dan aku tetap menggeleng.
Ia keluar pintu ruangan dan kuletakkan kepalaku di kasur. Kulipat tanganku sebagai ganti bantal. Aku tertidur duduk disamping Sisca. Rupanya kopi tadi tak berefek padaku.
"Mba temennya sudah sadar belum?"
Perawat membangunkanku jam empat dinihari.
__ADS_1
"Belum sus kayanya"
Aku ragu karena akupun tertidur daritadi.
Aku tersadar ada jaket yang menyelimuti tubuhku semenjak tadi, mungkin karena ini aku tak merasa kedinginan.
"Ini jaket siapa ya sus?"
Aku bertanya pada perawat tadi.
"Oh itu tadi teman laki-laki mba masuk ke ruangan ini lagi , bawain Jaket."
Jawabnya yang membuatku mengingatkan bahwa aku langsung tertidur begitu Gerald keluar.
Ternyata ia tidak langsung pulang, tapi menyempatkan mengambil Jaket ke dalam mobilnya.
"Mil"
Suara Sisca pelan.
"Sis, lu udah bangun?"
Tanyaku senang.
"Iya Mil, thanks ya. maaf gue ngerepotin elu. Lain kali sebelum gue mati gak nelepon lu deh."
Kata Sisca tersenyum.
"Otak lu tuh harus dibenerin. Cuma perkara cowo aja begini."
Kataku jengkel.
"Gue selalu ditolak cowo yang gue suka Mil, Gue sedih"
Dia menangis lagi.
"Sis, Richard yang sayang banget sama lu dan gak pernah lu tanggepin, emang pernah dia ngelakuin hal konyol kaya gini ??"
Tanyaku sembari mengingatkan Sisca bahwa masih ada orang yang menginginkannya.
"Gue maunya sama Pak Gerald bukan Pak Richard"
Dia masih bersikukuh.
"Gue mending mati aja Mil daripada gak sama Gerald"
Katanya makin menggila.
__ADS_1
"Eh, Eh, Eh, lu ngomong apaan lagi sih Sis? Itu nanti aja kita omongin. Sekarang sembuh dulu."
Kataku menenangkan Sisca.