
20 Mei, Acara pernikahan Olin begitu megah. Ia mengundang banyak teman seangkatan kami.
"Nah kan gue bilang apa, mana bisa ni dua anak dijauhin. Tetep nyatu kan."
Lana meledekku yang hadir dengan Dion.
"Ramalan gue dulu bener kan? bakal ada dua anak dikelas kita yang cinlok sampe nikah."
Andi menambahkan.
"Kapan lu ngeramalnya?"
Tanyaku bingung.
"Tanya aja Dion yang pernah minta gue ramalin."
Jawab Andi disusul dengan tepukan punggung dari Dion.
"Emang bener?"
Bisikku pada Dion.
"Udah jangan didengerin."
Dion membalikkan tubuhku agar tak berhadapan dengan Andi.
"Ed mana Mil?"
Tanya Ria yang datang dengan Felix dan Mario.
"Gue titip nyokap, kalo dia ikut kasian Dion gak bisa ngobrol sama anak-anak. Lu tau gimana si Edward kalo sama papa Yon nya."
Jawabku mengingat betapa manjanya Edward bila bersama Dion.
"Kan tadi aku bilang bawa aja. Ada Mario tuh."
Sesal Dion. Yang aku jawab dengan senyuman pahit.
"Yuk ke atas foto bareng pengantin."
Ajak Grace yang datang sendiri.
Kami pun berjalan menuju pelaminan, kami berfoto bersama. Olin begitu cantik menggunakan gaun berwarna merah.
"Semoga bahagia ya Lin."
Ucapku.
"Amin, semoga kalian cepet nyusul juga ya".
Ucap Olin padaku dan Dion.
"Amin."
Ucapku dan Dion bersamaan.
Kami turun dari pelaminan dan melanjutkan temu kangen dengan alumni yang hadir disini.
"Loh ini couple atau kebetulan sama sih bajunya hitam putih gini."
__ADS_1
Ucap Firman yang baru datang dan melihatku memakai gaun panjang berwarna hitam putih dan Dion memakai kaus putih ditutupi jas hitam.
"Makanya jangan main di gunung terus, sekali-kali ke kota."
Timpal Lana yang tak sabar membocorkan gosip mengenai hubungan kami.
"Iya Emily ini calon istri gue."
Dion yang pendiam tiba-tiba berbicara secara langsung di depan semua teman yang hadir. Sambil menarik pinggangku agar mendekat dengannya.
"Selamat ya"
Mereka semua hampir memberikan ucapan yang sama. Aku melemparkan senyum kepada Dion.
"Ah gue sih udah tau bakal jadi, kan dari dulu si Emily ini yang gatel godain pacar orang."
Tiba-tiba Melisa datang dari belakang kami dan mengundang reaksi dari teman-teman yang tadi memberi ucapan selamat.
"Dia gak pernah godain gue, gue yang selalu ngejar dia."
Dion menimpali perkataan Melisa.
"Masa?"
Ledek Melisa yang masih mencari keributan.
"Udah Yon jangan ditanggepin, gak enak sama Olin."
Ucapku menahan amarah Dion.
"Iya. Karena Emily ini spesial di mata gue."
"Aku ke toilet dulu."
Pamitku pada Dion.
Aku masuk ke toilet wanita dan meluapkan perasaanku, sesungguhnya aku begitu malu mendapat hinaan di depan banyak orang.
Setelah puas, aku keluar dan Jero sudah berada di depan pintu.
"Gak usah sedih Mil, lu itu istimewa makanya banyak yang gak suka."
Ucap Jero menyemangatiku seolah tau apa yang terjadi.
"Siapa yang sedih? sok tau lu."
Kataku ketus.
"Itu lipstik lu udah sampe ke pipi."
Ucap Jero yang membuatku segera berjalan ke cermin didepan toilet.
"Gila. Ini blush on tauk."
Kataku sambil memukul tangannya.
"Kalo gak nangis, ngapain panik? hehe"
Ia terus mengerjaiku.
__ADS_1
"Ihh rese lu."
Kataku sambil terus memukulinya dengan clutch yang ku bawa.
"M, pulang yuk udah mendung."
Dion datang dan mengajakku pulang.
Di dalam mobil ia mempertanyakan kejadian yang ia lihat tadi.
"Itu tadi kakanya olin kan mantan pacar kamu?"
Tanyanya serius.
"Iya kakaknya Olin."
Jawabku singkat.
"Ngapain mesra-mesraan begitu? masih suka?"
Tanya Dion menyelidik.
"Enggak lah, aku cuma bercanda."
Jawabku menjelaskan dan Dion hanya fokus menyetir tak menghiraukanku.
"Dion, kamu marah?"
Setelah cukup lama Dion terdiam, aku mulai merasa ia marah.
"Dion, jawab dong."
Rengekku kesal didiamkan selama itu.
"Tadi aku ke toilet numpang nangis karena malu ternyata dia tau dan ngeledekin aku, Yon."
Jelasku menerangkan yang terjadi.
"Kamu nangis karena Melisa?"
Tanyanya yang membuatku menyesal telah mengatakan itu.
"Iya, tapi sekarang udah happy kok."
Ucapku kembali mengubah topik.
"Karena Jeremy ?"
Dion bertanya hal yang membuatku senang.
"Kamu cemburu ya? haahha"
Tawaku pecah saat sadar apa yang dirasakan Dion.
"Sini aku peluk."
Aku memeluk lehernya yang sedang menyetir.
"M, bahaya M mataku gak fokus."
__ADS_1
Ucap Dion yang setelahnya tak kudengar lagi.