
Hari ini Dion sudah kembali ke kotanya. Sampai larut malam ku habiskan waktu untuk bercerita selama lima bulan belakangan ini ketika kami jauh.
Sebelum aku turun dari mobilnya ia sempat mengatakan
"Gue selalu sibuk maaf bakal gak bales pesan lu sering-sering, dan gak bisa hubungin lu sekedar tanya kabar setiap hari. Jadi tugas dari gue jaga diri lu pinter-pinter."
"Produk perusahaan lu udah terkenal seantero jagad Yon. Lu udah jadi bos juga di tempat lu. Kenapa lu masih kerja jadi bawahan di tempat orang? tujuan lu itu apa? mau memperkaya diri? Kasih kesempatanlah sama yang lain. Lagi juga sayang sama kesehatan lu."
Tanyaku heran.
"Gak bisa gue jelasin sekarang M. Yang pasti gue gak mau bergantung sama perusahaan keluarga. Gue harus pake keringet sendiri."
Jelas Dion padaku.
Setelah itu kami berpisah.
Aku melanjutkan pekerjaanku seperti biasa. Pukul 10.00 aku mendapat telepon dari Olin yang memintaku menjemputnya disuatu tempat yang tak jauh dari tempat kerjaku. Suara Olin begitu panik dan kesakitan.
Aku meminta izin pada pengawasku yang kantornya bersebelahan dengan kantor Gerald.
Untungnya pak Arif memberiku izin dengan syarat aku harus menambah jam kerjaku besok sebagai ganti hari ini.
Ku lihat ruangan Gerald dari balik kaca. Aku lambaikan tangan ke arahnya, dia hanya tersenyum dan mengangguk santun.
Mungkin dia ada masalah. Pikirku.Lalu aku berlalu.
Ku cari alamat yang diberikan Olin. Sampailah aku pada sebuah rumah yang tak terurus bertuliskan "Klinik".
Ku telepon Olin tapi tak tersambung.
__ADS_1
Ku ketuk pintu klinik dengan ragu, tak ada yang menjawab. Sampai akhirnya seorang laki-laki berkata
"Berapa bulan mba?"
Aku bingung dan ku tanya balik
"Apanya?"
Dia tak menjawab, malah terlihat bingung
"Mbaknya kesini perlu apa?"
"Mau cari temen saya namanya Olin. Tadi dia bilang ada disini."
Jawabku.
Si laki laki tersebut mengambil buku besar yang bertuliskan "Data pasien"
Pikiranku bertarung sendiri.
"Nama lengkapnya siapa mba?"
Dia lagi-lagi bertanya padaku
"Caroline Adelina"
Jawabku mengingat nama lengkap Olin.
"Oh mari saya antar"
__ADS_1
Laki-laki tadi mengantarku memasuki lorong klinik. terdapat satu kamar bertuliskan ruang operasi. Dan tiga kamar rawat. Aku masuk ke salah satu ruang rawat. Ku hampiri Olin, dia menangis memelukku.
"Lu kecelakaan deket sini? mana yang sakit?"
Aku mengecek wajah dan tubuh Olin tapi tak kutemukan.
"Gue..Guee abis bunuh anak gue Mil... Gue nyesel. Gue jahat"
Olin menangis di pelukku.
Aku baru mengerti tempat apa ini. Tempat kumuh ini adalah klinik aborsi.
"Kenapa lu nekat ambil tindakan kaya gini Lin?"
"Gue dipaksa Vero"
Vero adalah Gorila seram yang jahat.
"Lu kenapa gak cerita dulu sama kita- kita Lin?"
Aku menyayangkan tindakan Olin.
"Gue ibu yang jahat ya Mil.. Gue mau mati juga nyusul anak gue"
Olin begitu terpukul.
Aku percaya sejahat-jahatnya ibu kandung, tak akan tega membunuh anaknya sendiri.
"Udah Lin. jangan nyeselin yang udah terjadi. Perbaikin diri lu, Bertobat dan keluar dari hubungan toxic lu sm si Gorila"
__ADS_1
Kataku menguatkannya.
Olin masih saja menangisi perbuatannya. Sesuatu yang sudah terjadi tidak dapat diputar kembali, tetapi dapat menjadi pelajaran yang berharga untuk kita membenahi diri.