
Aku menjalani hari-hariku seperti biasa, sama seperti sebelum mengenal Gerald secara dekat.
Ketika berpapasanpun aku mencoba menyapanya tanpa menyinggung hal yang lalu.
Kuhargai dia sebagai kekasih Sisca temanku.
Sisca pun sudah terlihat jauh lebih baik, sangat ceria.
Tapi sejujurnya dalam hati kecilku masih ada Gerald duduk bersemayam di dalamnya.
Bippp bippp
Ada pesan masuk di ponselku.
Mil tinggal satu minggu lagi belum ada jawabankah untuk gue?
Aku lupa Jero menunggu jawaban cintanya dariku.
Aku sudah memutuskan akan menolaknya secara baik-baik nanti ketika bertemu.
"Mil, lunch bareng gue sm Pak Gerald yuk"
Ajak Sisca.
"Gak ah Sis, gue mau ngerjain tugas kampus gue."
Aku menolak dengan berbohong.
Kemudian Sisca berlalu meninggalkanku
Walaupun aku yang meminta Gerald menerima Sisca, tapi aku tak sekuat itu melihat mereka bersama.
"Mil, sini saya mau bicara."
Bu Lea memanggilku ke ruangannya.
"Ada apa bu?"
Tanyaku seraya menutup pintu ruangannya.
"Saya sudah dengar apa yang terjadi antara kalian berempat, Saya turut prihatin ya Mil."
Katanya sambil mengunyah mangga muda.
"Terimakasih bu. Tapi ini jadi gosip ya?"
Tanyaku malu
"Enggak. Richard sendiri yang cerita sama saya."
Jawabnya yang membuatku kesal pada Richard.
"Terus ibu manggil saya kesini untuk itu?"
Tanyaku bingung
__ADS_1
"Bukaann.... ini soal Pak Arif mau dipindahin jadi pengawas di butik kita yang baru di buka."
Bu Lea menjelaskan.
"Terus bu?"
Tanyaku lagi.
"Kamu mau gak jadi pengawas disini? kandidat dari dalem cuma kamu soalnya yang berkompetensi. Kalau kamu gak mau, saya cari dari luar."
Kata Bu Lea menjelaskan.
"Tapi kan saya juga masih baru"
Jawabku ragu
"Bukan cari yang baru atau lama Mil. Tapi yang memenuhi kriteria. Saya dan atasan lain punya alasan memilih kamu. Kamu mau gak?"
Tanyanya lagi padaku.
"Mau sih bu. syaratnya apa?"
Tanyaku penasaran
"Kamu dua hari kedepan akan psikotes lagi, terus interview lagi ya , sama kaya kamu pertama diterima disini."
Bu Lea menjelaskan.
"Oh oke bu saya siap."
"Oke kalo gitu besok pagi jam sembilan kamu udah disini ya jangan lupa bawa alat tulis"
Bu Lea mengingatkan.
Tak kusangka karirku sebaik ini. Semoga aku berhasil besok.
**
"Mil, udah jam tujuh kok masih santai-santai di kamar?libur?"
Tanya ibuku.
"Aku berangkat agak siang bu"
Aku menyahuti dari dalam kamar.
"Emang ada apa?"
Tanya ibu mendekat padaku
"Aku kan mau diangkat jadi pengawas, jadi hari ini sama besok aku test ulang."
Jawabku pada ibu.
"Ibu doain aku ya"
__ADS_1
Kataku meminta restu dari ibu. Karena yang kutahu doa ibu itu ajaib.
Pukul 08.45 aku sudah berada di ruangan Bu Lea.
"Loh kamu ngapain disini Mil?"
Tanya Bu Lea bingung.
"Kata ibu saya psikotes hari ini"
Aku mengingatkan.
"Iya memang, tapi bukan di ruangan saya"
Kata Bu Lea yang membuatku ikutan bingung.
"Terus?"
Tanyaku.
"Loh kamu waktu pertama kali interview disini sama siapa?"
Bu Lea menguji ingatanku.
"HRD."
Aku menjawabnya dengan lemas.
Lalu aku keluar dari ruangan Bu Lea dan pergi ke depan pintu ruangan Gerald.
Tok tok tok
Aku mengetuk pintu ruangan Gerald.
"Masuk"
Gerald mempersilahkanku
Aku membuka pintunya dan ia menjatuhkan pulpennya ke lantai.
"Ada apa Mil?"
Tanya Gerald.
"Psikotes dan interview"
Jawabku singkat.
"Oh jadi kamu orangnya"
Kata Gerald sambil mempersilahkanku duduk.
"Kemarin Bu Lea cuma menginfokan akan ada karyawan yang promosi, beliau gak jelasin orangnya."
Jelas Gerald yang hanya kutanggapi dengan senyum.
__ADS_1