
Sisca mengurungkan niatnya, ia berbalik ke arah Gerald dan memeluknya.
"Makasih ya Pak, kamu udah terima cinta saya."
Kata Sisca pada Gerald.
"Sudah,,kita turun."
Gerald memutar badannya , sedangkan Sisca masih memeluk Gerald seakan tak mau dilepas.
Gerald dan Richard baru mengetahui keberadaanku.
Aku berlari dan turun mendahului mereka. Aku tak mau Sisca melihatku sedih.
Aku pun memutuskan menghadap Bu Lea dan izin pulang, aku berbohong padanya mengatakan badanku kurang sehat.
Hari ini aku belum tau harus bersikap seperti apa di depan Sisca. Bu Lea berbaik hati mengizinkanku.
Aku memesan ojek, dan langsung pulang ke rumah.
Kulihat banyak panggilan dari Gerald di ponselku.
Aku percaya, Gerald sudah mengambil keputusan yang bijak. Aku hanya perlu waktu.
"Mil, kenapa pulang cepet?"
Tanya Ibuku.
"On period bu, perutku sakit"
Jawabku berbohong. Takut ibu cemas
"Oh ibu buatin jamu ya"
Kata ibuku memperhatikan anaknya
"Gak bu, mau tidur aja."
Jawabku dan langsung meninggalkan ibu.
Aku menangis namun tak bisa marah kali ini. Gerald sudah melakukan hal yang benar dengan menyelamatkan nyawa Sisca, walaupun hubungan kami yang dipertaruhkan.
Aku melihat foto- foto kami liburan kemarin.
Aku menghela napas panjang
"Hmmmpphh... Baru juga mulai, udah harus berakhir"
Gumamku pelan.
Aku melamun memikirkan masa-masa saat bersama Gerald sampai tertidur.
__ADS_1
"Mil, Mil buka pintu"
Ibu mengetuk pintu kamarku.
"Kenapa bu?"
Tanyaku sambil membuka kunci pintu lalu kembali berbaring di kasur.
Paling ibu mau kasih jamu. Pikirku
Aku menutup seluruh tubuhku hingga kepalaku dengan selimut, aku tak mau ibu melihat mataku yang sembab akibat menangis sampai tertidur.
Ibu datang dan duduk di samping kasurku. Kemudian mengelus kepalaku.
"Taro aja bu, nanti aku minum"
Aku berbicara dari balik selimut.
"Saya tau kamu pasti kecewa sama saya Mil"
Suara Gerald seperti berbicara pada ku. Ah jelas aku bermimpi. Aku mengintip dari selimut yang mulai kutarik dan kulihat memang dia di sampingku.
"Mil, keluar yuk. Kita omongin diluar. Saya sudah izin sama ibu untuk mengajak kamu jalan sebentar."
Bujuk Gerald padaku.
Aku menurutinya, karena kalau sampai aku bertengkar disini, seluruh keluargaku akan mendengar.
"Bu, aku keluar dulu ya jalan-jalan"
Pamitku pada ibu dengan ceria. Agar ibu tak cemas.
"Mil, ini udah mau malem, gak salah kamu pake kacamata hitam?"
Tanya ibu mengomentari kacamataku.
"Lagi musim bu kaya gini. Gak gaul ni ibu. Udah ya bu, daaahhh"
Aku menyahuti perkataan ibu sekaligus berpamitan.
Kami masuk ke dalam mobil.
"Udah Mil, buka kacamatamu. Ibumu gak akan lihat"
Tutur Gerald mengetahui aku menyembunyikan mata bengkakku dari ibu.
"Iya"
Aku membukanya dan tak berkata apa-apa lagi.
"Mil, kamu marah sama saya?"
__ADS_1
Tanya Gerald sembari memegang tangan kananku.
"Enggak"
Jawabku.
"Terus kenapa diam aja daritadi?"
Tanya Gerald.
"Gak apa-apa"
Aku mencoba menahan emosiku, aku takut menangis bila harus menceritakannya kembali.
"Saya akan memberi pengertian pada Sisca besok. Tadi dia belum tenang"
Jelas Gerald tentang rencananya.
"Jangan Kak, kita harus mengalah. Coba mengerti Sisca dan belajar mencintainya"
Mintaku pada Gerald.
"Kamu ngomong apa sih Mil? kenapa jadi hubungan kita yang harus dikorbanin?"
Tanya Gerald dengan nada tinggi.
"Karena kak Ger udah buat keputusan nerima Sisca. Seharusnya Kakak mikir akibatnya apa."
Aku menjawabnya dan tak terasa air mataku menetes
"Harusnya kita gak usah liburan bareng, harusnya kita gak usah makin dekat waktu sisca sakit. Harusnya hati aku gak sesakit ini kak kalau kak Ger gak mencoba makin dekat sama aku."
Aku menyalahkannya bertubi-tubi Dan terus menangis.
Gerald menepikan mobilnya. Dia memelukku erat
"Maafin saya Mil, saya memang pecundang."
Gerald menyalahkan dirinya atas kejadian ini.
Aku mulai menghentikan tangisanku. Aku sadar Gerald adalah korban juga ,hati Gerald pun sakit.
"Maaf kak, aku egois nyalahin kamu. Kamu gak salah. Kamu udah berhasil menyelamatkan nyawa Sisca. Aku sadar, kamu pun sudah berkorban."
Tuturku menyesal menyalahkannya.
"Aku minta kak Ger coba mencintai Sisca dan Lupain aku."
Mohonku.
"Baik"
__ADS_1
Gerald menyetujuinya.