
Kali ini aku, Ed dan Dion tidak ikut sarapan bersama, Edward merengek pada Dion agar diajak makan sambil berjalan-jalan mengendarai mobil.
Tadi pagi aku sempatkan untuk memasak opor ayam kesukaan Dion. Sesuai permintaan Ed, aku menyuapinya di mobil. Ia makan dengan lahap.
"Kok wangi opor ya M?"
Tanya Dion sembari menghirup aroma bekal yang aku bawa.
"Iya kan tadi sebelum kalian bangun aku udah bertempur sama wajan dan ulekan."
Jawabku.
"Kamu bawa satu doang?"
Tanya nya lagi.
"Iya, kamu mau?"
Aku berbohong sembari bertanya kembali.
"Ya mau, M."
Jawabnya cemberut.
"Haha iya nanti abis Edward ya."
Aku menyuapi Edward dengan cepat, Ed ternyata juga menyukai hal yang sama dengan Dion.
Ini kali pertama tak butuh waktu lama menyuapinya sampai habis.
Aku mengeluarkan satu bekal lagi milik Dion yang sudah kusiapkan.
"Nih buka mulut."
Aku menyuapi Dion yang menyetir mengikuti keinginan Ed.
"Ih enak loh. Beneran kamu yang buat atau mba Sri?"
Tanyanya menggoda.
"Mba Sri"
Jawabku kesal sambil menyendokkan lagi nasi ke mulutnya.
"Iya iya buatan Emily".
__ADS_1
Ucapnya mengalah.
"Ih Papa Yon taya Ed"
Edward menyamakan Dion dengan dirinya yang jika makan disuapi.
"HAHAHA"
Kami tertawa bersama mendengar perkataan Edward.
Selesai berkeliling dan menghabiskan sarapan di perjalanan, kami mampir membeli durian fermentasi dan ikan patin lalu segera pulang.
"Buat apa sih M?"
Tanya Dion bingung.
"Buat makan siang."
Jawabku singkat.
"Oh mau buat sambel tempoyak kesukaan mami ya?"
Tebaknya.
"Iya, Hehe. Tapi nanti makan siang aku gak ikutan ya".
"Loh kenapa?"
Tanyanya lagi.
"Ini aku buat untuk mami mu, tapi kalo tau buatanku nanti mami gak jadi makan."
Kataku melemah.
"Iya, aku percaya sama yang kamu lakuin."
Dion menyetujuinya.
Lalu kami pulang dan aku langsung masak di dapur. Aku membuat ikan patin sambal tempoyak. Satu jam sudah aku menyelesaikan prosesnya.
Mba Sri yang sedari tadi menghindari aku memasak akhirnya datang juga. Dan aku memintanya untuk menata makanan di meja, karena aku harus mengajak Edward tidur siang.
Dari dalam kamar, aku mendengar keluarga ini sudah berkumpul di meja makan. Mereka makan tanpa bicara seperti jika ada aku.
Tak lama Dion datang membawakan makanan ke dalam kamar, aku memintanya menutup pintu karena Ed sedang tidur.
__ADS_1
"Mami tau ini masakan kamu."
Kata Dion berbisik.
"Yah gagal deh, berarti gak jadi di makan ya? Bu Sri ngasih tau?"
Tanyaku kecewa.
"Bukan, Bu Sri itu alergi bau durian. Jadi gak mungkin masak ini."
Jawabnya membuatku terlihat bodoh, pantas tadi bu Sri menghindar.
"Hmm ya udahlah."
Jawabku patah semangat.
"Udah apaan sih? Aku belum selesai cerita. Mami bilang enak terus dia nyuruh aku kirimin makanan untuk kamu."
Jelas Dion membuatku senang.
"Serius?"
Aku melompat sambil mencium pipi Dion.
"M, lipstikmu nempel."
Dion meneriakiku sambil mengelap pipinya.
"Gak suka? sini balikin!"
Tantangku sambil menyerahkan pipiku.
Dion hampir mencium pipiku namun tak berhasil karena aku menghindar, lalu ia mengejar,kemudian aku membuka pintu kamar dan terus menghindar dari kejaran Dion. Kami tertawa bersama.
"Kena kan M"
Ia menangkap dan membalasku.
"Udah ah malu."
Aku menghentikannya.
"Ya salah kamu. ngapain keluar kamar?"
Tanyanya.
__ADS_1
"Takut Edward kebangun".
Jawabku.