
"M, besok gue jemput ya" Kata Dion sebelum menutup telepon kami yang lumayan membuat panas telingaku karena sudah 3 jam lamanya.
"Gak usah Yon. Lu jemput Mel aja." Jawabku menolak tawaran Dion.
"Iya gue jemput Mel setelah anter lu sampe sekolah" Jelas Dion.
"Serius deh Yon, gue gak bisa. Gue udah janjian sm temen gue. Besok dia yang anter" Jawabku yang membuat Dion penasaran.
Sudah seminggu ini aku diantar sampai sekolah oleh Reza. Kami menikmati obrolan santai diatas motor. Makin hari aku merasa semakin nyaman dengan Reza. Setiap aku turun tidak lupa mengirim pesan terimakasih kepadanya yang merupakan awal obrolan panjang kami setiap harinya di pesan singkat ponsel. Bisa dibilang ucapan rutin terimakasih ku itu seperti umpan untuk memancing obrolan lainnya.
"Lu dianter siapa?" Tanya Dion menggagetkanku yang sedang tersenyum membaca balasan pesan dari Reza.
"Reza, teman rumahku" Jawabku masih sambil senyum senang.
"Kenapa lu senyum-senyum? lu suka?" Tanya Dion penasaran.
"Iya kayanya deh" Jawabku tanpa menutupi perasaanku didepan sahabat baikku.
"Kok lu gak bilang gue dulu? Lu harus kenalin dulu dia ke gue!" Perintah Dion yang membuatku mengernyitkan dahi.
Ah masa bodo dengan perkataan Dion. Aku sedang berbunga-bunga.
__ADS_1
Tidak terasa waktu menunjukkan pukul 13.00 waktu sekolah usai. Hari ini tidak ada ekskul ataupun jadwal kelas tambahan. Aku bisa langsung pulang
"Lu dijemput sama dia?" tanya Dion kepadaku.
"Enggaklah, sekolah dia jauh. lagian emang dia supir pribadi gue?" Jawabku sembari meledek Dion yang tiap hari antar jemput Mel pacarnya.
"Yaudah, berarti gue yang anter pulang" Kata Dion bersiap dan menungguku tepat di sebelahku.
Aku bingung dan takjub jawaban Dion selalu diluar perkiraanku. Tadinya niat meledek malah dia mengantarku pulang.
Di depan sekolah aku lihat dia berbicara dengan Mel. Aku sedikit lega bisa pulang sendiri. Jujur saja aku sebenarnya tidak suka menjadi beban orang lain.
"Lah itu Mel gimana?" Aku menunjuk Mel yang masih berdiri disebrangku dengan kelompoknya termasuk Ara.
"Udah gue bilangin pulang sendiri atau tunggu gue balik lagi abis nganterin elu" Jawab Dion menjelaskan obrolan dia tadi dengan Mel.
"Dih belagak gila lu. Itu cewe lu. Lu suruh nunggu pacarnya nganter cewe lain. Sakit lu" Protesku tidak setuju cara Dion.
"Emang lu cewek? udah naik" Pertanyaan yang nyebelin dan malas kutanggapi. Aku naik kemotornya dan berlalu.
Di motor aku memulai obrolan
__ADS_1
"Yon, untung gue bukan cewe lu."
"Emang kenapa gitu M?" tanya Dion
"Itu lu perlakuin gak pake otak. Kalo gue jadi dia, gue putusin lu sekarang" Teriakku ditelinganya karena angin begitu kencang.
"Nah itu makanya kita sahabatan. Kalo kita jadian udah pasti lu gak bisa gue gituin" Jawab Dion santai.
"Ih dasar jahat gak ada rasa berdosanya lu. Semoga gue gak ketemu pacar kaya elu" Doaku yang sengaja kuucap kencang.
"Emang kenapa sih M? Lu mana tau nanti kedepannya gue jadi apa di masa depan lu". Jawab Dion menutup obrolan dan membuatku canggung.
Di rumah, aku mengirim dua pesan singkat kepada Dion dan Reza.
"Res, udah pulang?"
"Yon, lu dimana? Mel nunggu lu atau gak?"
Reza menelponku setelah menerima pesan dariku.
"Kenapa mil? kangen yah? besok aku anter kaya biasa ketemu di lapangan" Reza tau aku tidak berani menunjukkan aku berboncengan dengan teman laki-laki di depan orangtua ku.
__ADS_1