(Im)Perfect

(Im)Perfect
Obsesi


__ADS_3

Lagi-lagi aku berpapasan dengan Eric di depan gerbang. Aku buru-buru masuk setelah Reza putar balik. Dia sudah tak menghiraukan tatapan sinis Eric, mungkin karena dia berpikir mata Eric mengalami gangguan.


Dion sudah berada di kelas. Semenjak aku menolak dijemput, dia dan Melisa sampai disekolah lebih cepat.


"Diooonnnnn"


Kupeluk tangan kanan Dion.


"Apasih M? Tar kalo ada yang liat gak enak".


Dion mendorongku pelan.


"Ah paling lu takut sama Mel. Gue udah jadian dong sama Reza. Lu mau gue traktir apa?"


Cerocosku tidak berhenti.


"Siapa yang suruh lu jadian sama dia?"


Dion bertanya dengan muka marah


"Elu. kan elu bilang gue harus cari pacar baru."


Jawabku mengingatkan Dion dengan perkataannya waktu di Mall.


"Iya tapi gak gitu. Gue harus tau dia siapa. Seenggaknya gue kenal. Dia bisa jaga lu apa enggak"


Dion menjelaskan pandangannya.

__ADS_1


"Ah lu siapa aja salah. Terus yang lu kenal disini deh, siapa yang boleh jadi pacar gue? Kan lu udah kenal semua tuh".


Tantangku ingin tau kriteria semacam apa yang menurutnya pantas untukku.


"Gak ada".


Jawabnya singkat.


"Kalo gitu sampe tua gue gak bakal punya pacar."


Protesku atas perkataan Dion.


Dion memang orang yang terobsesi sahabatnya mendapatkan yang terbaik. Tapi menurutku itu masih jauh. Seperti membeli buah yang kulitnya bagus semua, kalau kita tidak pernah salah membeli, kita akan selalu mendapatkan yang busuk. Dan aku rasa ini adalah prosesku mencoba dan gagal. Sebelum aku mendapatkan yang terbaik di akhir nanti.


"Felix, Aku suka sama kamu sejak kelas 1, aku nyaman dekat denganmu. Mau gak kamu jadi pacar aku?"


Seketika kelas geger mendengar Andi membacakan surat cinta Ria untuk Felix. Semua murid laki-laki tertawa termasuk Felix.


Aku, Grace, dan Olin mengerti rasa malu Ria.


Aku yang tak pernah marah akhirnya memukul meja dengan keras.


"Lucu lu ngetawain perasaan orang?"


Semua yang tertawa tadi menjadi diam. Ria berlari ke toilet. Aku yakin dia menangis.


Grace mengikuti Ria ke toilet. Sedangkan aku menghampiri Felix menanyakan apa maksudnya mempermalukan orang lain seperti itu.

__ADS_1


"Lu kalo gak suka tinggal tolak. Kenapa harus lu permaluin gitu?"


Tanyaku menyalahkan Felix.


"Gue gak nyebarin. Ini ketinggalan di kolong meja. Si Andi yang ngambil sendiri."


Felix membela diri.


Aku menatap Andi tidak suka. Andi masih nyengir-nyengir kuda seperti tidak ada salah.


"Lix kita ngobrol di depan"


Kebetulan guru Bahasa Indonesia hanya menitipkan soal latihan kepadaku.


"Lu tau pasti soal perasaan Ria. Sejujurnya apa yang lu rasain ke dia?"


"Gak ada Mil. Ria bukan tipe gue" Dengan sombongnya ia menjawab.


"Yaudah ayo kita susul ke toilet. Lu jawab biar Ria gak berharap lebih"


Akhirnya mereka berbicara berdua. Kudengar kesimpulannya Ria meminta waktu untuk dekat dengan Felix. Jika sampai batas yang ditentukan Felix tetap tidak menyukai Ria, Ria akan menyerah. Felix tidak sekejam itu, ia memberi Ria kesempatan untuk dekat dengannya. Setidaknya kalau perasaan Ria tidak terbalas, mereka pernah bersama.


Aku kagum pada kegigihan Ria. Jarang ada perempuan yang menunggu cintanya terbalas. Kalau aku pasti sudah kabur.


Dion menarik tanganku dan berbisik


"Lu bisa marah M?"

__ADS_1


__ADS_2