
Brukk
Aku tak sengaja menabrak pengunjung toko ketika akan membawa beberapa pakaian cacat ke gudang.
"Saya mohon maaf mas."
Aku menunduk dan memohon maaf.
"Gak apa-apa mba"
Jawab pria yang tubuhnya bertabrakan denganku.
"Emily"
Laki-laki itu menyebut namaku, mungkin melihat nama di bajuku.
"Eric"
Ucapku terkejut ketika aku mencoba berdiri.
"Lain kali pake mata"
Ucapnya kemudian berlalu meninggalkanku yang sibuk mengambil baju berjatuhan tadi.
"Dasar gak jelas. Masih aja angkuh."
Gerutuku.
Aku kembali ke ruanganku. Aku mengeluarkan laptop dan memutuskan membantu pekerjaan mami, karena pekerjaan ku di outlet sedang tidak banyak.
"Bu Emily, ada customer mau komplain bu"
Seorang pegawai mengetuk pintu ruanganku.
"Hah komplain? barang kita kan selalu di cek setiap hari. Ya sudah saya kesana"
Jawabku bingung.
"Orangnya disini bu"
Lalu ia mempersilahkan seseorang masuk ke ruanganku.
"Eric ?!"
Aku terkejut apa lagi rencananya.
"Saya mau komplain, minggu lalu saya beli sweater ini disini, pas saya sampe rumah ternyata berlubang."
Ucapnya menjelaskan.
"Haduh barang ini sudah habis, kamu boleh mengganti apa saja dengan harga yang sama. atau kami kembalikan uang juga tidak apa-apa."
Jawabku.
"Saya mau minta ganti rugi yang lain gimana?"
Tanya Eric.
"Iya, apa?"
Tanyaku.
"Kencan sama saya."
Jawabnya asal.
__ADS_1
"Maaf gak bisa, saya sudah bersuami."
Aku menolak dengan halus.
"Kalo gitu, anter saya ke store lain untuk
mencari barang yang mirip dengan ini".
Katanya sambil menunjukkan sweater tadi.
"Baik."
Aku menyetujuinya dan keluar ruangan bersamanya.
Aku ikut masuk ke dalam mobilnya. Ia membawaku berkeliling dari satu mall ke mall lainnya.
"Kita sudah ke tiga mall masih belum ada yang sama. Pihak kami tidak keberatan mengembalikan uangmu."
Kataku ingin segera menyudahi.
"Keliatannya kamu yang keberatan saya ajak berkeliling"
Ucapnya membuatku jengkel.
"Kau bawa istri orang, tau?"
Tanyaku kesal.
"Ini kan jam kerja. Lagi juga suami mu sudah setahun ini tidak ketemu, mungkin sudah di makan hiu."
Katanya membuatku benar-benar marah.
Plaakkk
"Dasar manusia gak ada otak. Cari sendiri!"
Aku berlalu meninggalkannya yang tersenyum setelah kutampar.
"Saya akan ambil lagi hatimu."
Teriaknya yang membuatku menengok lagi ke belakang.
"Itu buat Lana."
Ucapku mengingatkan tamparan tadi sekaligus balasan untuk kejadian yang sudah lewat.
Geraldku pasti masih hidup. Mereka saja yang sok tahu.
Gerutuku dalam hati.
Taksi berhenti didepanku padahal belum ku hentikan.
"Kemana mba?"
Tanya supir padaku.
"Ke Indo butique"
Jawabku sambil menangis.
"Maaf mba, mba menangis?"
Tanyanya dibalik kemudi.
"Iya, saya sedih aja pak. Orang-orang bilang suami saya udah meninggal, padahal saya percaya suami saya masih hidup."
__ADS_1
Jawabku yang membuat aku sendiri bingung mengapa aku bercerita pada orang yang tak ku kenal.
"Apa yang buat ibu percaya?"
Tanya supir padaku.
"Ya hati saya Pak."
Jawabku kesal ditanya seperti itu.
"Sudah berapa lama memangnya bu?"
Tanya supir lagi kepadaku.
"Setahun. Pak, puter balik. ke jalan kemuning aja ya."
Aku menjawab sekaligus mengurungkan niatku untuk kembali ke kantor.
"Baik bu."
Supir memutarbalikkan kendaraannya.
Ku lihat Edward sedang di gendong mba susan pengasuhnya di depan rumah.
"Aduh, kok ngerem mendadak pak? Kan saya belum kasih tau saya mau berenti disini."
Protesku padanya.
"Maaf bu, barusan ada kucing di depan."
Jawabnya yang membuatku mengerti.
"Edwaarrdd"
Teriakku sambil menurunkan kaca taksi.
"Tuutt..tutt"
Edward memintaku menggendongnya, ia ingin ikut masuk kedalam taksi yang ku tumpangi.
"Pak, muter sebentar ya pak. Argonya nyalain aja."
Pintaku pada supir.
"Baik bu."
Supir taksi menginjak gas mobilnya.
"He..hee...ngeeenngg"
Edward yang makin aktif berdiri dan mencolek supir dari belakang.
"Gak boleh sayang. Nanti aja sama kakek."
Edward meminta untuk duduk di pangku supir, dan memainkan kemudi. Kakeknya sering melakukan itu bersamanya.
Edward menangis sekencang-kencangnya.
"Sini mba, gak apa sama saya"
Supir menunduk mengambil Edward yang menangis tak karuan.
"Maaf ya pak, habis ini balik lagi aja ya pak."
Aku memintanya untuk memulangkan kami kembali sambil menyerahkan Edward yang tak bisa lagi dikendalikan.
__ADS_1