
"Mil, gimana kalo gue yang nyatain perasaan duluan ke Pak Ger?"
Tanya Sisca yang membuatku menumpahkan tumpukan baju di tanganku.
"Hah?"
Aku menganga lebar.
"Iya Mil, nungguin Pak Ger nyatain duluan ke gue, sama kaya nungguin ular punya kaki."
Tutur Sisca antusias.
"Ya terserah lu Sis, gue dukung aja."
Kataku ragu.
"Kalo gak diterima gimana Sis?"
Tanyaku perihal mental Sisca.
Baru tiga malam yang lalu Gerald sempat bertanya bagaimana kalau ia yang menjadi calon suamiku.
Aku yakin ia tidak bercanda atau memberi harapan palsu, Gerald memilik perasaan yang sama terhadapku.
Aku berperang dengan pikiranku sendiri.
"Kok lu nanya gitu sih? Gak mungkinlah Gerald nolak."
Jawab Sisca penuh percaya diri.
"Oke, gue bisa bantu apa?"
Tanyaku pada sisca.
Bagaimanapun ia mau mencoba, aku tak boleh mematahkan semangatnya.
"Lu bantu doa dan support aja. Ntar malem gue ajak dia Dinner terus gue nyatain perasaan gue deh."
Kata Sisca sambil mengkhayal.
"Oke Sis. Good luck yah."
Support ku kepadanya.
Didalam hatiku yang paling dalam aku bimbang.
Aku harus mendoakan yang terbaik untuknya atau tidak.
__ADS_1
Jika ia ditolak, tentu aku akan ikut bersedih karena Sisca satu-satunya teman baikku disini.
Tapi Jika ia diterima, aku juga akan sedih. Karena laki-laki yang akan menjadi pacarnya adalah Gerald.
**
Malam ini adalah penentuan bagi Sisca juga bagiku.
Jika ia diterima, aku harus melupakan Gerald.
Aku berjalan mondar-mandir di teras rumah menunggu kabar Sisca. Ia janji akan memberitahuku pertama kali, jika Gerald membalas perasaannya.
Triinng Triinngg...
Ponselku berbunyi, Kulihat ada nama Sisca di layar.
Berarti cinta Sisca terbalas.
Gumamku dalam hati sebelum menerima panggilannya.
"Iya Sis? selamat ya"
Kataku mendahuluinya.
"Mil, dia gak ada perasaan sama gue. Gue ditolak"
"Lu baik-baik aja Sis?"
Aku takut ia berbuat sesuatu yang nekat.
"Gue sedih Mil, Gue kecewa."
Sisca menangis sejadi-jadinya.
"Lu tenang Sis, jangan bertindak nekat. Lu dimana?"
Tanyaku panik.
Seketika sambungan telepon kami terputus.
Aku segera menghubungi Gerald. Dia mungkin tau dimana Sisca.
"Halo Kak, tau keberadaan Sisca?"
Tanyaku panik.
"Sejam yang lalu saya tinggal dia di Reborn Cafe."
__ADS_1
Jawabnya santai.
"Kak kita harus cari sisca."
Kataku menutup panggilan dan memesan taksi.
Sisca adalah perantau dikota ini, semua keluarganya ada di kota asal Sisca. Sisca bertaruh peruntungannya disini sendiri. Dia menyewa kost kecil sebagai tempatnya beristirahat.
Sejam kemudian aku sampai di depan butik. Aku janjian bertemu dengan Gerald disini. Kosan Sisca dan Reborn cafe sangat dekat dengan tempat kerja kami.
"Ada apa Mil?"
Tanyanya panik.
"Sisca tadi terdengar frustasi Kak. Karena kak Gerald tolak cintanya. Dia menelponku dan bercerita sambil menangis , setelah itu sambungan telepon mati."
Aku menjelaskan yang tadi terjadi.
"Oke Mil, Kamu cari Sisca dikosannya, saya cari di sekitaran cafe."
Perintah Gerald memberi arahan.
"Sis... Sisca"
Kuketok kamar kost Sisca tak ada yang menjawab.
"Kenapa Neng?"
Penjaga kost bertanya padaku mungkin karena berisik mendengarku terus menggedor pintu kamar Sisca.
"Itu pak, Sisca gak bisa dihubungin dan gak juga bukain pintu"
Kataku panik hampir menangis.
"Belum pulang kali neng."
Katanya menenangkanku.
Gerald datang dan menggeleng, menandakan Sisca tidak ada dimanapun.
"Pak, tapi kuncinya tergantung di dalam."
Aku menunjukkan lubang kunci kepada penjaga kosan.
"Oh iya neng. Sebentar saya ambil kunci cadangannya. Kamu tolong akalin dorong kunci yang didalam supaya jatuh."
Kata Pak penjaga sambil memberi perintah pada Gerald.
__ADS_1