
Dion akhirnya mau melakukan berbagai terapi untuk kesembuhannya.
"M, saya nyerah. Udah sebulan gak ada efek apa-apa."
Ucapnya pasrah.
"Gak gitu dong Yon, ayo terusin. Aku aja masih semangat nemenin kamu."
Ucapku terus memberi dukungan padanya.
"Kamu udah tanya Gerald kemana?"
Tanyanya mengalihkan pembicaraan.
"Belum."
Jawabku.
"Tanya lah M, Dia dateng dan setia banget ngurusin kamu. Kamu malah begitu."
Protes Dion.
"Aku gak fokus kesitu lagi Yon."
Jawabku sambil membantunya duduk.
"Kamu harus tanya! Itu papanya Edward! Suami kamu!"
Ucapnya membentakku.
"Kamu kenapa marah-marah sih? Dia bukan suami aku lagi semenjak maminya urus surat kematiannya."
Jawabku kesal.
"Itu salah paham, M. Tarik suratnya dan urus semuanya."
Ucap Dion makin menjadi.
"Kamu tuh sakit ya? dua bulan lagi kita nikah, terus sekarang seenaknya suruh aku balik."
Tuturku tak kalah marah.
"Iya aku sakit. Liat mau duduk aja harus kamu bantu. Kamu nikah sama aku yang ada cuma urusin aku."
Teriaknya yang membuatku mengerti dia amat tertekan.
__ADS_1
"Aku siap. Dulu waktu aku dan Edward kehilangan Gerald, kamu juga muncul kasih kami kekuatan. Masa aku gak tau berterimakasih?"
Jawabku.
"Jelas kan kamu cuma ngerasa hutang budi sama aku? Aku bukan orang yang mau di kasihanin ya M."
Ucapnya yang salah menerima ucapanku.
"Ah terserah kamu lah. Aku pulang."
Ucapku sambil mencium pipinya lalu meninggalkannya di ruang terapi.
Aku tidak ingin Dion tambah tertekan bila berada denganku. Maka ku putuskan untuk menjauh jika ia sedang merutuki nasibnya agar ia tenang, lalu esoknya aku akan kembali dan begitu seterusnya.
"Mil, sabar ya."
Gerald mengejutkanku dengan kehadirannya di luar pintu.
"Hehe, gak apa Kak. Dion lagi terpukul aja. Dia gak kaya gitu kok aslinya."
Ucapku sambil menahan pedih di dada.
"Kamu hebat, gak salah Edward punya mama kaya kamu."
Gerald memujiku.
Aku mengajaknya ke rumah orangtuaku menemui Edward.
"Bukan Mil, saya mau ke rumah kita. Boleh?"
Tanyanya membuatku bingung.
"Untuk apa kak?"
Tanyaku kembali.
"Gak apa, saya cuma kangen nasi goreng buatanmu."
Ucapnya yang membuatku menuruti keinginannya.
"Kak, kamu sudah cabut berkas kematianmu yang di buat mami?"
Tanyaku sambil menghidangkan segelas air mineral dingin.
"Belum, Mil."
__ADS_1
Jawabnya.
Aku kemudian bersiap memasak nasi goreng seafood kesukaannya di dapur dan ia menghampiriku.
"Mil, rumah ini gak ada yang berubah ya?"
Tanyanya melihat ruangan yang kami atur bersama tidak berubah.
"Iya biarin aja kaya gini, Kak."
Jawabku sambil menuangkan kecap keatas nasi di dalam wajan.
"Foto saya masih ada, apa Dion gak marah?"
Tanyanya lagi.
"Ini rumahmu kak, suatu saat akan ku kembalikan utuh tak ada yang berkurang."
Ucapku membuatnya mengerutkan dahi.
"Ini saya kasih ke kamu Mil."
Ucap Gerald.
"Ya tapi gak mungkin aku tempati sama Dion. Kalo kamu gak mau dikembaliin, biar ini jadi investasi untuk Edward."
Jawabku dan membawa nasi goreng ke atas meja makan.
Gerald memakannya dengan lahap.
"Rasanya masih sama Mil."
Ucap Gerald memberi pujian.
"Hehe, syukurlah. Jadi kamu kemana selama ini?"
Akhirnya aku bertanya tentang sesuatu yang Dion minta.
"Saya ada tak jauh dari kalian."
Jawabnya yang membuatku yakin supir taksi itu memang Gerald.
"Terus kenapa gak temui kami?"
Tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Saya menjaga kalian dari jauh. Dari ancaman Sisca tepatnya."
Ucapnya membuatku semakin paham bahwa hari dimana aku terjatuh, Sisca lah pelakunya.