
"Mau makan apa Mil?"
Tanyanya sembari membawa motor.
"Apa aja yang ada. Jam segini paling yang ada tukang nasi goreng, ketoprak, sama pecel."
Aku menjawabnya agak keras.
Karena malam ini angin bertiup sangat kencang.
"Tapi saya gak tau jalan di daerah sini."
Katanya jujur.
"Iya nanti aku yang kasih tau".
Kataku sambil menunjuk jalan.
"Kak, Kaka emang kalem gini?"
Tanyaku mencairkan suasana.
"Iya kalo belum terlalu dekat."
Jawabnya.
"Terus kalo udah kenal deket, apa kak Ger mirip Kak Richard yang bocor abis?"
Tanyaku lagi. Mengingat dua sahabat ini memiliki karakter yang berbeda.
"Kenapa disamain dengan Richard? Kamu suka yang kaya Richard gitu?"
Tanya Gerald Jengkel.
"Enggak, aku sukanya yang tenang-tenang kaya gini. Aku kan cuma nanya kalo deket kaya apa aslinya."
Jawabku sambil menunjuk punggung Gerald.
"Ya nanti juga kamu tau, asal saya dikasih kesempatan untuk lebih dekat."
Jawabnya datar.
Obrolan kami terhenti saat bertemu tukang sate.
Kami membungkusnya dan akan memakannya dirumah.
Tidak perlu waktu lama untuk sampai kerumah.
Aku menyiapkan piring dan sendok diatas meja tamu.
"Mil, emang disini selalu sesepi ini ya?"
Tanya Gerald .
"Enggak kak, biasanya tiap malam ada anak muda ngumpul di rumah sebrang, terus ada bapak-bapak yang main catur di pos depan. Tapi karena dua hari lagi malam tahun baru kayanya semuanya udah jalan-jalan deh."
Jawabku menjelaskan
__ADS_1
"Terus nanti tahun baru kamu sendirian disini?"
Tanya Gerald lagi.
"Iyalah, mau kemana lagi."
Kataku sambil membuka karet yang mengikat dua bungkusan sate.
"Saya anter ke rumah nenekmu besok, mau?"
Tanyanya lagi.
"Enggak ah kak, bosen. Aku kan udah gede. Dulu waktu kecil iya senangnya bukan main. Sekarang mendingan di rumah aja, aku mau hibernasi".
Jawabku sambil memberikan piring yang sudah berisi sate kepada Gerald.
Kami menyantap makanan dengan nikmat.
Setelah selesai makan, Gerald menumpang buang air kecil. Kutunjukkan arahnya sekalian aku ke dapur untuk mencuci piring.
Kami kembali ke ruang tamu dan mengobrol banyak hal.
Tak terasa sudah pukul tiga pagi. Aku tertidur di sofa.
Dua jam kemudian alarm berbunyi membangunkanku.
Alarm dilayar ponselku tertera angka 05.00.
Aku terkejut ketika bangun aku sudah berada di dalam kamarku, lengkap dengan selimut.
Lalu aku keluar kamar, ku dapati Gerald tertidur di sofa dengan pintu terbuka.
Aku mandi dan menyiapkan sarapan. Ku buatkan nasi goreng seafood, menu yang selalu ia pilih jika istirahat bersamaku.
Kulihat jam menunjukkan pukul enam. Gerald masih tertidur pulas. Aku tak tega membangunkannya. Tapi karena kami akan berangkat menggunakan mobil, maka kami harus lebih pagi sebelum terkena macet.
"Kak, Kak"
Panggilku lembut,takut ia terkejut.
Ku perhatikan wajahnya sangat teduh, tampan dan bersih.
"Kak bangun yuk udah jam enam"
Aku mencolek tangannya tapi ia tetap terlelap.
"Kak, Ayo dong bangun nanti telat."
Aku memukul pelan kedua pipinya.
Akhirnya ia terbangun.
"Kak udah jam enam, mandi gih. handuk dan sikat giginya udah aku siapin di depan kamar mandi."
Kataku mengarahkannya.
Ia langsung bergegas menuju kamar mandi.
__ADS_1
"Mil, boleh saya minta tolong?"
Teriaknya dari dalam kamar mandi membuatku berhenti menyapu lantai.
"Apa kak?"
Aku bertanya dengan suara keras.
"Tolong ambilkan kemeja, celana dan underwear saya di bagasi mobil"
Katanya masih berteriak.
Aku bergegas membuka kap belakang mobilnya. kutemukan celana dan underwear yang ia minta.
Tapi terdapat lima kemeja tergantung rapi di hanger bar mobil miliknya.
Ku ambil warna biru sesuai seleraku. Dan kupilih dasi berwarna kuning yang juga ia gantung dengan rapi.
"Nih kak, kuletakkan di kursi depan kamar mandi ya."
Kataku sambil segera berlari menjauh.
"Iya. thanks Mil"
Sahutnya.
Ia keluar kamar mandi sudah dengan pakaian yang rapi. Kecuali dasinya, tak ia pasangkan.
"Mil, kamu gak salah warna kemeja saya biru tua, kok dasinya kuning?"
Tanyanya tak yakin dengan pilihanku.
"Enggak kok. Keren tau , sini coba dulu. Kita gak akan tau kalo belum coba"
Kataku sambil mengalungkan dasi di lehernya.
"Tuh kan keren. Kombinasi warnanya masih aman kok, tenang pilihan Emily gak pernah norak."
Kataku tak sadar jarakku dengan Gerald begitu dekat. Aku bisa merasakan napasnya.
"Eh maaf Kak"
Aku langsung mundur sedikit menjauh.
"Sarapan dulu yuk kak"
Ajakku mengalihkan kejadian tadi.
"Sarapan apa?"
tanya Gerald
"Nih Nasi goreng seafood ala Emily"
Aku makan berdua dengannya di meja makan.
Kami makan dengan tenang dan hening.
__ADS_1
Gerald menghabiskan nasi dipiringnya dengan lahap hingga tak tersisa.