
Di halaman belakang rumah utama, di sebuah bangku kayu menghadap lahan yang ditumbuhi sayur mayur, dua orang berlainan jenis duduk dalam diam. Hanya hembusan napas keduanya yang sesekali terdengar tanpa kata mengiringi.
"Ayah pernah menyesal dulu. Benar-benar menyesal, sampai saat ini rasa sesal itu masih terasa begitu menyakitkan." Tuan Arya mengawali kisahnya sendiri yang tak ia ceritakan pada siapapun.
Cempaka menoleh, menatap kulit keriput di sampingnya yang bergeming pada hamparan hijau sayuran.
"Apa yang membuat Ayah menyesal?" tanyanya, terbersit rasa ingin tahu tentang kisah masa lalu lelaki tua itu.
Helaan napas panjang dilakukan tuan Arya untuk mengurangi rasa sesak yang menghimpit dada. Setiap kali mengingat mendiang sang istri, selalu ada rasa sesal yang mengiringi. Menyesal karena tak pernah mempercayainya. Menyesal karena tak peduli pada perasaan juga kesetiaannya. Menyesal karena tak melihat cinta tulus yang diberikannya.
"Ayah begitu bodoh sehingga di akhir-akhir dia sakit Ayah tidak lagi memperhatikannya. Semua itu karena keegoisan Ayah yang tidak bisa melihat cinta tulus hingga akhir hayatnya. Ayah benar-benar menyesal. Seandainya waktu bisa diputar kembali ke masa lalu, Ayah ingin hidup di masa bersama dia." Tuan Arya menundukkan kepala, menekan kedua matanya yang hendak menangis.
Cempaka berpaling, mulai berpikir tentang dirinya. Ada cinta yang ia sembunyikan dari dunia, cinta untuk seorang laki-laki yang telah memberinya dua orang anak. Bukan ia tak ingin mengakui, tapi dia hanya takut cintanya akan bertepuk sebelah tangan.
"Tapi Ayah sadar, semua itu tidak akan terulang lagi. Yang sekarang Ayah pikirkan adalah, bagaimana anak-anak Ayah tidak mengalami hal yang sama. Rasanya sungguh menyakitkan. Bahkan, kematian saja jauh lebih baik dari pada harus hidup dalam kungkungan penyesalan." Dia menggelengkan kepala, berharap Cempaka menangkap maksud dan tujuannya menceritakan kisah itu.
Cempaka menunduk, sedikit mengerti ke mana arah pembicaraan lelaki tua di sampingnya itu. Ia menghela napas, tak tahu harus menimpali seperti apa.
"Sebenarnya Ayah ingin membicarakan perihal Caesar kepadamu, Nak." Tuan Arya bergeming pada reaksi Cempaka.
Tiada keterkejutan, wanita itu hanya menyambutnya dengan helaan napas panjang yang ia hembuskan secara perlahan.
"Ada apa dengannya, Ayah? Bukankah mereka sudah berbahagia karena sudah memiliki anak?" lirih Cempaka.
Pandangan matanya tertuju pada jemari yang saling mengait satu sama lain. Terasa lembab entah apa sebab? Yang pasti dia dapat merasakan detak jantung yang terasa lain dari biasanya.
"Kau sudah mengetahui apa yang dilakukan Eva di belakang Caesar. Tak perlu lagi mengatakannya. Dia mencarimu, Cempaka. Dia ingin mengajakmu kembali berkumpul bersama anak-anak kalian. Ayah hanya tidak ingin kalian menyesal di kemudian hari karena hal ini. Seperti yang terjadi pada Ayah," ungkap tuan Arya bertekad menyatukan kembali Cempaka dan Caesar.
Degup jantung Cempaka semakin tak beraturan. Ada rasa yang membuncah, tapi tak tahu apa.
"Pernikahan kami hanyalah sebuah pernikahan kontrak, Ayah. Caesar membeliku dengan harga yang mahal dari lelaki itu. Aku pergi sesuai kontrak yang dia buat," lirih Cempaka sembari berpaling ke kiri menghapus air yang hendak jatuh.
__ADS_1
Sungguh menyakitkan bila mengingat masa-masa itu. Masa di mana semua kepahitan dimulai. Tuan Arya sedikit terkejut mendengar hal itu. Kontrak?
"Terlepas pernikahan kalian kontrak ataupun tidak, tapi Ayah rasa Caesar mencintaimu, Nak. Jika kalian nanti bertemu, dan dia mengutarakan apa yang ada di hatinya, maka kau harus bersiap dengan jawabannya. Ayah melamarmu secara pribadi untuk anak Ayah itu, pikirkan dulu baik-baik. Jangan mengambil keputusan tanpa memikirkannya," tutur tuan Arya benar-benar ingin mereka menyatu secara utuh dan resmi.
Cempaka menunduk semakin dalam, ada yang berdenyut di dalam hatinya, tapi bukan rasa sakit.
"Tapi bagaimana dengan Eva? Bukankah mereka berdua saling melengkapi i? Rasanya mustahil Caesar mencintaiku, sedangkan dia sangat memuja istrinya itu." Cempaka mengangkat wajah, menatap tuan Arya yang sedang tersenyum ke arahnya.
Lelaki tua itu tahu di dalam hati Cempaka ada sedikit rasa untuk anaknya. Betapa dia mengerti akan hal itu. Perlahan, Cempaka pasti bisa menerima kenyataan bahwa mereka memang saling mencintai satu sama lain dan pastinya saling membutuhkan.
"Dulu, dia memang begitu mencintai Eva. Coba kau pikir, siapa yang sudi milikinya dinikmati orang lain? Caesar sudah melihat sendiri buktinya. Dia sakit sekarang. Sakit akibat pengkhianat yang dilakukan oleh orang yang begitu dia cintai." Tuan Arya menghela napas, memalingkan wajah dari Cempaka dan menatap hamparan hijau sayur mayur di hadapan mereka.
Mungkin dulu, itulah yang dirasakan mendiang istrinya. Sakit meski tidak berdarah.
"Baru-baru ini dia mengatakan kepada Ayah bahwa dia mencintaimu dan menyesal telah melepasmu. Kau tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Sampai saat ini pun, dia tidak tahu bahwa kau melahirkan anak kembar. Bagaimana jika ia tahu?" Tuan Arya kembali menoleh, dapat ia bayangkan kebahagiaan di wajah anaknya itu.
Cempaka bergeming, diam dan menunduk kemudian. Hatinya bertanya-tanya tentang kebenaran rasa yang dimiliki Caesar untuknya.
Ia menghela napas menyiapkan diri untuk membongkar semuanya.
"Dia lahir dari rahim seorang gadis muda yang dinodai dengan paksa oleh salah satu anggota keluarga Ayah, tapi laki-laki itu justru tidak mau bertanggungjawab sehingga membuatnya frustasi. Aku bertemu dengannya di rumah sakit, dia menceritakan semua kepadaku. Dia ingin mati bersama janin yang ada di dalam rahimnya." Kembali, Cempaka menghela napas.
"Jadi, aku memberikan jaminan kepadanya bahwa dia dan anaknya akan hidup layak dari harta keluarga Arya. Dia setuju memberikan bayinya kepadaku, tapi sayang. Dia gugur setelah melahirkan. Aku membawa anak itu dan memberikannya kepada Caesar agar dia bisa bertemu ayahnya," ungkap Cempaka sembari menoleh kepada tuan Arya.
Lelaki itu bungkam, mencari siapa pelaku yang dimaksud Cempaka. Geram, wajah tuan Arya perlahan mengeras mendengar kekejaman yang dilakukan keluarganya.
"Siapa yang telah melakukan itu?" tanya tuan Arya geram.
"Anak tiri Ayah, anak dari Lisa, Gyan. Ayah tidak melihat? Sedikitnya wajah itu mirip dengan Gyan." Akhirnya terbongkar sudah apa yang selama ini menjadi rahasia besar.
Tuan Arya kehilangan pasokan oksigen, sungguh tak menduga anak tiri yang dia beri kemewahan akan mempermalukan dirinya.
__ADS_1
"Seharusnya aku memberikan salah satu bayiku kepada Caesar, tapi aku tidak tega memisahkan mereka. Melihat matanya, aku selalu ingin ada di dekat mereka, tak sanggup rasanya bila harus menjauh dari salah satu anakku." Cempaka menggelengkan kepala, dia memang sudah salah karena menyalahi aturan kontrak, tapi sebagai ibu yang baru saja melahirkan ia tak rela kehilangan bayinya begitu saja.
"Ayah mengerti, Ayah sangat mengerti. Apa yang kau lakukan sudah benar. Biarlah Caesar mengetahuinya sendiri. Dia ada di sini, kau tidak ingin menemuinya?" Penuh harapan dalam pertanyaan itu.
Cempaka tersenyum, kepalanya menggeleng. Bukan dia tak ingin, tapi jauh di lubuk hatinya dia menginginkan Caesar yang datang mencarinya.
"Aku akan kembali esok pagi, tidak enak rasanya harus meninggalkan resort terlalu lama. Biarlah pertemuan kami terjadi karena suatu kebetulan, aku tidak akan menolaknya," ucap Cempaka disambut helaan napas kasar oleh tuan Arya.
"Baiklah, itu memang hakmu. Harus kau tahu, Nak, anak-anakmu itu perlu mengenal ayahnya. Jangan sampai anak orang lain mendapatkan kasih sayang dari Caesar yang seharusnya mereka dapatkan. Mereka yang paling berhak atas itu," ingat tuan Arya membuat kepala Cempaka mengangguk.
Dia pun ingin si Kembar mengenal ayahnya, tapi tidak sekarang. Cempaka ingin Caesar melihat sendiri bahwa tanpa dirinya, dia bisa hidup dengan layak dan mengurus kedua anaknya.
"Ya sudah, masuklah! Mungkin anak-anak membutuhkanmu," ucap tuan Arya sambil menepuk pundak Cempaka.
Wanita itu mendesah sebelum beranjak. Masuk ke dalam menemui kedua anaknya yang sedang asik bermain dengan Lucy.
"Kau sudah berbicara?" tanya Lucy ketika Cempaka bergabung dengan mereka.
"Sudah. Besok pagi kita akan kembali. Aku tidak ingin berlama-lama di sini," jawab Cempaka sembari mencium kepala dua anaknya.
"Ya, aku juga tidak ingin berlama-lama di sini. Terlebih setelah kejadian tadi," timpal Lucy tak senang dengan keributan yang ditimbulkan Eva dan gangnya.
"Aku akan bersiap!" Lucy beranjak untuk mengemas barang mereka. Memastikan tidak ada yang tertinggal, agar esok tidak perlu repot lagi.
****
Di rumah Caesar, tak ada lagi senyuman. Tak ada lagi canda tawa. Semua orang terlihat murung, utamanya dua wanita itu.
Siapa yang sudah menggantikan aku? Kurang ajar, awas saja aku akan menyingkirkannya.
Ani menggeram di dalam hati teringat pada pengasuh baru cucunya.
__ADS_1