
"Nyonya, kita akan pergi ke mana?" tanya Ani was-was karena jalanan yang mereka tempuh begitu asing baginya.
"Diam kau jika tidak ingin aku turunkan di sini!"
Bentakan Lisa membuat mulut Ani bungkam seribu bahasa. Dia terus diam sepanjang perjalanan meski hatinya merasa gelisah. Ada rasa takut muncul di dalam benak, takut mereka melemparnya ke laut atau ke dalam jurang.
Lindungi aku, Tuhan. Lindungi aku! Aku masih ingin bertemu dengan cucuku.
Hati Ani tak lepas dari untaian doa, kesepuluh jemarinya bertautan dalam lembab keringat. Berkali-kali pula Ani mengusap keringat di wajah meski angin AC dari mobil berhembus sejuk.
Mobil yang mereka tumpangi sampai pada tujuan, sebuah rumah sederhana yang dikelilingi pepohonan membuat Ani merasa takjub.
Di mana ini?
Mobil berhenti, mereka keluar dan memperhatikan sekitar. Tak ada kegiatan apapun di halaman rumah itu, selalu seperti itu. Sepi dan sunyi tak seperti saat pemiliknya masih hidup.
"Apa yang akan kau lakukan di sini?" tanya Lisa begitu mereka berdiri di depan gerbang dan tak ada sambutan.
"Ada hal yang harus Ibu ketahui, dan akan Ibu ketahui hari ini!" sahut Eva setelah hembusan napasnya keluar tanpa rela.
Berselang, orang-orang berseragam bermunculan dari balik pagar besi itu. Mereka berjajar membentuk barikade barisan yang menghalau jalan. Eva mengernyit tak senang, merasa perlu dihormati sebagai menantu keluarga Arya.
"Buka gerbangnya!" titah Eva sembari melengos angkuh.
Tak ada sahutan, Eva dibuat jengkel oleh mereka. Pandangan kembali, menghujam wajah-wajah kaku di balik pagar besi itu.
"Aku bilang buka gerbangnya!" Eva mulai meninggikan suara.
Masih sama. Mereka diam bagai patung, tak merespon permintaan Eva.
"Sial! Apa kalian ingin aku berteriak dan membuat kegaduhan?" Rahang Eva mengeras, kedua tangannya mengepal kuat.
Masih juga tak ada respon, mereka tetap sama diam membeku.
"Kurang ajar! Baiklah, jangan salahkan aku jika semua warga berdatangan ke sini," ancam Eva tetap tak mendapat tanggapan.
__ADS_1
Benar-benar sialan! Mereka tidak menghormatiku sama sekali. Awas kau, Caesar!
"Cempaka! Keluar kau! Aku tahu kau ada di dalam, keluar! Kau pasti menyembunyikan anakku! Kembalikan anakku, Cempaka!" teriak Eva. Hal itu benar-benar dia lakukan.
Sesuatu yang tak pernah dilakukan majikan mereka sebelumnya. Eva lupa siapa dia, apa statusnya? Sebagai wanita terhormat, seharusnya dia memiliki batasan-batasan.
Tak puas. Eva terus berteriak mengundang Cempaka keluar. Mengejutkan Lisa dan juga Gyan, begitu pula dengan Ani.
"CEMPAKA! Sialan! Kalian bekerjasama untuk mengkhianatiku. Keluar kau! Perempuan tidak tahu diri!" Suara tinggi Eva terus menggema di dalam rumah sederhana itu.
Cempaka yang baru saja menyusui kedua bayinya, terbangun dan keluar dari kamar. Di ruang tengah, Lucy berdiri di jendela mengintip keadaan di luar.
"Lucy! Siapa yang berteriak-teriak? Seperti suara Eva?" tanya Cempaka sembari terus melangkah mendekati Lucy.
"Mereka benar-benar datang, Manda. Dia berteriak-teriak menuduhmu mengambil anaknya. Lihat! Mereka ada di sana!" Lucy menunjuk halaman. Dia masih bisa melihat keempat orang di sana meski terhalang barisan para pengawal.
"Ada Ani juga di sana. Apa mereka pikir anak mereka ada di sini?" gumam Cempaka setelah melihat sosok Ani yang kebingungan di belakang mereka.
"Sepertinya memang begitu." Lucy menimpali sambil menghendikan bahu.
"Aku akan keluar menjelaskan," ucap Cempaka.
"Kenapa?" Bertanya bingung.
"Biar saya yang berbicara dengan mereka. Anda tunggu di sini saja," katanya seraya berjalan keluar dan menutup pintu rapat-rapat.
Di luar gerbang, Eva masih terus berteriak meminta Cempaka keluar. Hal tersebut membuat bingung Lisa dan Gyan. Mereka tidak mengerti apa sangkut paut Cempaka dengan hilangnya Evan juga Caesar. Juga rumah itu, yang mereka tahu Cempaka adalah istri Arjuna.
Barisan itu membelah diri, membentuk jalan ketika mendengar derap langkah berwibawa milik sang kepala pelayan.
"Kau!" tuding Eva penuh emosi.
"Tak perlu berteriak sedemikian kencangnya, Nyonya. Apa yang Anda cari tidak ada di sini. Tidak ada tuan Caesar ataupun anak yang Anda maksud," ucap laki-laki berusia lanjut itu dengan sopan dan ramah.
"Jangan membohongiku! Buka gerbangnya, aku ingin melihat sendiri ke dalam!" sentak Eva sembari mengguncang besi-besi kokoh itu.
__ADS_1
Sang kepala pelayan tersenyum, berjalan mendekati Eva. Menatapnya dengan dalam, menguliti kebusukan Eva.
"Sudah saya katakan, tidak ada tuan Caesar di sini. Pewaris rumah ini sudah datang, siapapun tidak dapat masuk tanpa izin darinya. Bahkan, tuan Caesar sekalipun." Dia menggelengkan kepala, membuat Eva bisa mengerti bahwa apa yang dikatakannya adalah benar.
"Saya tidak percaya. Bisa saja kalian berbohong karena ingin menutupi pengkhianatan mereka!" tuding Eva berapi-api.
Laki-laki itu diam, memandang Eva intens. Sudut bibirnya terangkat perlahan, mengintimidasi mereka.
"Siapa yang mengkhianati siapa? Bukankah kalian yang berkhianat?" Mata setajam elang itu berputar menatap ketiga wajah yang seketika memucat.
Eva terlihat gelisah setelah terkejut mendengar ujaran sang kepala pelayan.
"Jangan pikir bangkai yang selama ini kalian sembunyikan tak akan tercium baunya." Dia tersenyum lebih lebar, semakin membuat Eva tak berkutik.
Lisa memegang tangan anaknya dengan kuat, terus menghindari tatapan sang kepala pelayan yang benar-benar mengupas tuntas kebusukannya.
"Pergilah! Jangan membuat keributan di sini. Di rumah ini tidak pernah terjadi kegaduhan. Rumah ini selalu damai dan tentram, jauh dari keburukan. Pergi, sebelum mereka yang memaksa kalian pergi!" ancam sang kepala pelayan seraya berbalik hendak meninggalkan tempat itu.
Eva masih tidak terima, dia kembali berteriak memanggil nama Cempaka, memintanya untuk keluar. Sang kepala pelayan menghentikan langkah, menghirup napas dalam-dalam.
"Usir mereka dari sini!" titahnya pada mereka semua.
"Cempaka! Aku tidak akan pergi sebelum dia keluar dan memberikan anakku! Cempaka, keluar kau! Kembalikan anakku!" Eva kembali berteriak menuduh Cempaka mengambil anaknya.
Sementara Ani, merasa bingung dengan situasi saat ini. Dia pikir selama ini Cempaka tidaklah pergi, melainkan tinggal di rumah itu tanpa menampakkan diri di depan umum.
"Nyonya, saya rasa bukan nona yang mengambil anak Anda. Mungkin saja tuan Caesar tidak di sini," ucap Ani menyudahi orasi Eva.
"Diam kau!" bentak Eva dengan mata melotot merah.
Gerbang dibuka, orang-orang berseragam itu telah bersiap mengusir mereka. Namun, Eva bergeming, bersikap keras kepala dengan tetap berdiam diri di dekat pagar besi itu.
"Aku tidak akan pergi sebelum berhasil mengambil anakku!" tolak Eva memberontak saat pengawal itu hendak membawanya pergi.
"Lepaskan aku! Lepaskan aku, sialan! Aku tidak akan pergi! Aku tidak akan pergi! Aku harus bertemu anakku!" tolak Eva yang sebelah tangannya berpegangan pada besi pagar.
__ADS_1
"Lepaskan dia!"
Suara itu menyentak mereka semua.