(Tak) Sepahit Empedu

(Tak) Sepahit Empedu
Bagian 89


__ADS_3

Arjuna berdiri di balkon kamarnya, di villa itu dia memiliki kamar sendiri. Menatap langit yang dihiasi awan jingga kemerahan, perlahan matahari pun kembali ke peraduan. Sebuah bangunan yang puncaknya terpapar sinar itu, begitu menarik perhatiannya.


Arjuna membungkuk di penyanggah balkon, di tangannya memegang secangkir kopi yang ia buat sendiri. Apa yang menarik dari bangunan itu sehingga membuat pandangan enggan terlepas darinya?


"Ada apa di sana? Kenapa rasanya aku ingin sekali mendatangi tempat itu?" gumam Arjuna tak lepas pandangan dari puncak bangunan tersebut.


Lampu-lampu mulai dinyalakan tatkala sang mentari benar-benar tenggelam di peraduan. Siapa yang tak luput darinya, cahaya benderang di sana amat kontras dengan kegelapan malam.


Arjuna menyeruput kopi yang mulai terasa dingin. Rasa penasaran di hati membuatnya ingin mengunjungi tempat tersebut.


"Aku akan mendatangi tempat itu esok hari," gumamnya seraya menegakkan tubuh dan berbalik masuk ke dalam kamar.


Di kamar lain, Caesar melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Arjuna. Bedanya, kamar yang ia tempati menghadap tepat dengan bangunan tersebut.


"Kenapa bangunan itu begitu menarik perhatianku? Rasanya aku ingin mendatangi tempat itu. Ada apa di sana?" Caesar melipat bibir, kedua tangan saling bertumpu di perut.


Angin malam itu terasa lain, menerbangkan kerinduan di dalam hati pada seseorang yang entah di mana.


"Mungkinkah kau di sana? Seandainya saja takdir memihak kepadaku, kepada kita, tentu saja kita tidak akan sulit untuk bertemu. Di mana kau, Cempaka? Kau pergi sebelum aku dapat memohon," lirih Caesar sembari memindahkan tangan pada besi pembatas balkon.


Gemerlap lampu di bangunan itu tak membuatnya merasa jenuh. Bibirnya tersenyum tatkala wajah sederhana Cempaka membayang dalam pelupuk.


"Aku benar-benar merindukanmu, Cempaka." Ia mendekap tubuh sendiri, menghalau udara dingin yang menyentuh.


****


Semilir angin kerinduan yang dikirimkan Caesar, berhembus lembut menyapa wajah seorang wanita di teras rumahnya. Cempaka memejamkan mata, rasa yang ia pendam untuk seseorang secara tiba-tiba memuncak dan bergejolak.


Ia menghela napas panjang, menahannya sebentar sebelum dihembuskan secara perlahan. Cempaka memeluk tubuhnya sendiri, mengusap-usap kedua lengan untuk mendapatkan kehangatan.


"Apa sebenarnya yang aku lakukan di sini? Berharap dia akan datang menemuiku?" Cempaka mencibir dirinya sendiri.


"Bodoh! Kau hanya menyiksa dirimu sendiri, Cempaka. Dia sudah pasti melupakanmu. Mungkin sekarang dia sudah lebih berbahagia bersama wanita juga anak itu. Lupakan, Cempaka! Lupakan!" Cempaka menunduk, menyembunyikan kesedihan dari cahaya rembulan yang memperhatikan.


Tubuhnya terlonjak ketika sebuah tepukan mendarat di pundak.

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak beristirahat?" tegur Lucy yang datang seraya ikut berdiri bersisian dengan Cempaka.


Ibu dari sepasang anak kembar itu menghela napas, ia sendiri tidak tahu apa yang sedang dilakukannya di tempat itu.


"Aku sedang berpikir untuk mengunjungi makam ibu dan kedua adikku, Lucy. Mungkin besok pagi, aku akan pergi bersama kedua anakku," sahut Cempaka sambil menoleh kepada wanita di sampingnya.


Bola mata Lucy bergerak cepat, menelisik kedua netra milik Cempaka.


"Aku akan menemanimu. Kau tidak bisa pergi seorang diri ke kota itu. Rasanya ... entahlah. Aku merasakan sesuatu yang tidak baik," ucap Lucy dengan cemas.


Cempaka tersenyum, seperti itulah Lucy. Dia memiliki perasaan seperti seorang ibu terhadap anaknya.


"Iya, kita akan pergi ke sana dan mungkin akan menginap beberapa hari. Apa kau tidak keberatan?" Cempaka memaku tatapan pada wajah wanita itu.


"Tidak masalah."


Keduanya tersenyum, kemudian menghadap ke arah sang rembulan bersama-sama. Menikmati keindahan cahayanya yang menyebar menerangi langit kelam.


****


Di meja makan villa keluarga Arya, tak terdengar perbincangan. Hanya bunyi denting sendok yang beradu dengan piring memenuhi ruangan tersebut. Juga suara ibu yang begitu lembut menyuapi bayi Evan.


"Ayah, bangunan yang di sana sepertinya masih terlihat baru. Bangunan apa?" tanya Caesar usai menyelesaikan makannya.


"Memang masih baru, itu resort. Dibangun untuk menarik perhatian para wisatawan," jawab tuan Arya setelah menenggak air minumnya.


"Saya penasaran, Tuan. Rencananya esok pagi saya akan mengunjungi tempat itu," ucap Arjuna masuk ke dalam perbincangan mereka.


Tuan Arya terdiam, melirik Caesar kemudian. Dilihat dari riak wajah sang anak, dia pun berkeinginan untuk pergi. Mungkin sudah takdir mereka untuk bertemu. Seperti dirinya yang ditakdirkan untuk bertemu Cempaka di tempat itu.


"Yah, jika kalian ingin pergi. Pergilah! Ayah sudah mengunjungi tempat itu sekali dan memang nyaman." Tuan Arya tersenyum, menyembunyikan kecemasan hatinya.


Bagaimana jika Cempaka justru salah faham terhadapnya? Mengira jika tuan Arya yang sengaja mengundang Caesar untuk datang menemuinya. Oh, itu urusan nanti.


"Baiklah. Bagaimana dengan Anda, Tuan?" Arjuna menjatuhkan pandangan pada atasannya.

__ADS_1


Caesar menghendikan bahu, tak menjawab iya ataupun tidak. Menyerahkan pada esok hari.


"Ponselmu berdering. Kau tidak ingin mengangkatnya?" Tuan Arya melirik saku celana Caesar di mana ponselnya berbunyi.


"Eva. Aku sedang tidak ingin berbicara dengannya," jawab Caesar setelah melihat siapa yang menelpon. Dia menonaktifkan ponsel, dan meminta Arjuna untuk menyimpannya.


Tuan Arya menghela napas, tak ingin ikut campur di dalam urusan rumah tangga sang anak. Dia menatap Evan yang begitu lahap disuapi ibu. Pikirannya kembali kepada sosok bayi itu, siapa wanita yang melahirkannya?


"Mereka mendatangi rumah utama." Caesar tiba-tiba berujar setelah diam beberapa saat.


Tuan Arya menoleh, alisnya bertemu satu sama lain.


"Mereka? Siapa?" Ia bertanya, tapi sebenarnya mengerti siapa yang dimaksud mereka.


"Eva, Lisa dan Gyan." Caesar tetap menjawab.


"Untuk apa mereka pergi ke rumah ibumu?" Nada suara yang tak terdengar ramah. Tak suka ada orang lain datang mengunjungi rumah mendiang sang istri.


"Entahlah. Mungkin mereka pikir aku ada di sana. Mereka memaksa masuk, tapi pekerja di sana tidak mengizinkan," jawab Caesar lagi diakhiri helaan napas.


"Ah, syukurlah. Apa yang dipikirkan Lisa? Dia sudah semakin keterlaluan. Ayah menduga mereka bekerjasama untuk satu hal." Tuan Arya melirik Caesar juga Arjuna.


"Anda benar, Tuan. Sedikitnya saya mendapat bukti jika mereka sering mengadakan pertemuan. Baik di rumah nyonya Lisa ataupun di tempat lain." Arjuna menimpali masih sedikit informasi yang dia dapatkan.


"Tunggu!" Tuan Arya memanggil kepala pelayan villa, memintanya untuk datang.


"Tuan!" Ia membungkuk setelah tiba di samping sang tuan.


"Tunjukan pada mereka apa yang kau dapatkan dari orang-orang yang kau kirim," titah tuan Arya kepadanya.


"Baik."


Ia mengeluarkan ponsel dari saku seragamnya, kemudian mencari sesuatu dan memberikannya kepada Caesar.


"Itu dikirim oleh orang yang memata-matai rumah nyonya Lisa kemarin."

__ADS_1


Rahang Caesar mengeras setelah melihat sendiri pertemuan mereka. Jemari tangannya menutup perlahan, dan menjadi erat setelah berkumpul.


"Sial!"


__ADS_2