
"Jadi, Tuan ... apa ada yang ingin Anda bicarakan?" tanya Cempaka yang berdiri di depan Caesar.
Laki-laki itu membawanya ke dalam kamar, agar pembicaraan mereka tak didengar sang ayah. Caesar mendongak, menatap wanita yang beberapa Minggu ini ia nikahi. Menelisik penampilan Cempaka yang tak jauh beda dengan para pelayan di rumahnya.
"Apa kau suka memakai pakaian itu?" tanya Caesar kemudian.
Cempaka mengernyit, lantas menjawab, "Maksud Tuan?"
Caesar mendesah, berpaling dari tatapan polos Cempaka. Selanjutnya berdiri dan berhadapan dengan wanita itu. Mata Cempaka berkedip-kedip tak beraturan, tubuhnya tegang waspada ketika langkah Caesar semakin mengikis jarak.
"Aku tanya sekali lagi, apa kau suka memakai pakaian itu? Pakaian yang akhir-akhir ini sangat merusak mataku ketika kau mengenakannya," tanya Caesar menekan setiap ucapannya.
Cempaka menunduk ketika manik hitam itu menghujam tajam korneanya. Gelisah, gugup, tangan yang memilin-milin ujung gaun pelayan itu menjadi tandanya.
"Katakan, siapa yang memintamu mengenakan pakaian itu? Aku tahu bukan inginmu mengenakannya, bukan?" tekan Caesar semakin membuat cempaka dilanda kegugupan.
"Aku tahu pasti Eva yang memintanya. Kau tidak perlu berkilah lagi, dan lepaskan pakaian sialan itu. Mataku sakit karenanya," titah Caesar mendekatkan wajahnya pada Cempaka.
Wanita itu memundurkan kepala, aroma khas udara yang menguar dari mulut laki-laki itu selalu membuatnya mabuk kepayang.
"Kau akan melepaskannya atau harus aku yang melakukannya?" Caesar menarik kasar kedua sisi pakaian itu, hingga terkoyak.
Bahu Cempaka terekspos bebas, hampir-hampir membuka bagian dada. Sigap kedua tangan Cempaka menutupinya, sambil menundukkan kepala malu.
"Aku akan melepaskannya, Tuan." Cempaka menghindar tatkala tangan Caesar hendak menggapai tubuhnya.
Caesar menggeram, menarik tubuh Cempaka dan melahap bibirnya. Liar dan sedikit kasar hingga Cempaka menitikan air mata saat punggungnya membentur dinding. Cukup lama laki-laki itu melakukannya sampai rasa emosi di dalam diri perlahan menguap dan pergi.
Caesar melepas pagutan, memburu udara rakus. Ia menempelkan dahi mereka, mengusap pipi Cempaka menyesal. Isak tangis wanita itu menguar lirih, membuat rasa sesal di hati Caesar semakin menumpuk.
"Maaf. Maafkan aku. Aku tidak berniat menyakitimu. Mulai besok aku tidak ingin melihatmu mengenakan pakaian ini. Kau mengerti?" ucap Caesar disela-sela helaan napasnya.
Cempaka mengangguk dengan pandangan yang tetap menunduk. Caesar menjauhkan dahinya, mengusap tengkuk Cempaka dan membuatnya mendongak. Pandang mereka bertemu, ketakutan jelas terpancar di kedua manik coklat itu.
__ADS_1
"Maafkan aku." Caesar mengecup lembut bibir Cempaka. Mengusapnya penuh penyesalan, tak tega melihat rasa takut di manik indahnya itu.
"Aku akan kembali ke kantor." Caesar berucap berharap sesuatu.
Namun, wanita itu hanya menganggukkan kepala tanpa memahami apa yang diinginkan sang suami.
"Hanya itu?" tanya Caesar sembari mengangkat salah satu alisnya.
Cempaka mengernyit bingung dan bertanya, "Maksud Anda, Tuan? Aku harus apa?" tanya Cempaka bingung.
Bibir laki-laki itu membentuk senyuman, ibu jarinya mengusap kedua sudut mata Cempaka.
"Aku membutuhkan sesuatu yang bisa membangkitkan semangatku dalam bekerja," ucapnya ambigu. Mata nakal itu tak henti menatap bibir ranum Cempaka meski tak dipoles gincu tebal seperti Eva.
"Butuh semangat? Seperti apa itu?" Cempaka semakin bingung karenanya.
Caesar mendesah, menunduk sambil tersenyum gemas. Tingkah polos istri keduanya itu membuat Caesar selalu tak dapat menahan diri.
Cempaka membelalak, sedikit mulutnya terbuka. Tak menduga laki-laki itu akan meminta hal tersebut darinya.
"Kau lama sekali." Caesar menyambarnya dengan lembut. Kali ini menghanyutkan Cempaka, kedua mata wanita itu terpejam, merasakan lembutnya sentuhan bibir sang suami.
Caesar melepas pagutan, mengusap bibir itu dengan perlahan.
"Lain kali aku ingin kau yang melakukannya," ucap Caesar seraya beranjak menjauh dari tubuh Cempaka.
"Mmm ... Tuan. Bagaimana nanti jika nyonya Eva bertanya. Aku harus menjawab apa?" tanya Cempaka tak terpikirkan jawaban untuk pertanyaan tak terduga itu.
Caesar berbalik, tersenyum lembut padanya.
"Katakan saja, aku merobek bajumu." Caesar berbalik lagi dan melanjutkan langkah menuju pintu, tapi kembali berbalik dan tak sengaja melihat pipi Cempaka merona malu.
Caesar mengernyit sambil tersenyum. Sadar diperhatikan, senyum Cempaka hilang seketika.
__ADS_1
"Tidak usah mengantar. Istirahat saja di kamarmu. Aku hanya ingin kau memasak untukku, tidak yang lain."
Cempaka menganggukkan kepala patuh, ia berdiri sambil menahan pakaian agar tidak jatuh. Caesar tersenyum senang seraya berlalu dari kamar Cempaka.
"Apa aku memang harus mengatakan itu? Bagaimana jika nyonya Eva semakin marah?" Cempaka bergumam setelah pintu kamarnya tertutup. Yang tak ia ketahui adalah Caesar masih ada di sana mendengar gumamannya.
Cempaka mengambil pakaian ganti, dan masuk ke kamar mandi. Menatap pakaian pelayan yang robek dan melemparnya ke dalam keranjang. Ia berendam di air hangat mengendurkan otot-otot tubuhnya yang sempet menegang.
"Jadi, Tuan menyukai masakanku? Argh ... rasanya aku tidak percaya. Beruntunglah dulu aku sering mencoba-coba masakan ditambah resep dari nyonya ... sepertinya cita-citaku membangun rumah makan akan terwujud." Cempaka memejamkan mata, membayangkan sebuah restoran miliknya sendiri.
****
"Nyonya, ada apa? Sepertinya Anda sedang gelisah hari ini," tanya salah satu rekan Eva yang memperhatikan wajahnya sepanjang acara pertemuan itu.
Eva mendengus, tak akan ia bercerita tentang Cempaka kepada mereka. Ia tersenyum membalas semua pandangan yang tertuju padanya.
"Bukan apa-apa, hanya saja aku sedikit merasa tak enak badan. Rasanya akhir-akhir ini sering merasa mual. Entahlah, aku sendiri tidak tahu," kilah Eva diakhiri helaan napasnya yang panjang.
"Oh ... Nyonya. Jangan-jangan Anda sedang mengandung. Sudah periksa ke dokter? Keluhan yang Anda ucapkan tadi biasanya terjadi pada wanita hamil di trimester pertama," cetus salah satu teman Eva yang diangguki yang lain.
Eva tercenung, bagaimana mungkin dia hamil? Sementara dokter memvonisnya mandul dan tak akan bisa memilik anak. Namun, sekali lagi, ia tak lupa bahwa sedang bersandiwara.
"Benarkah?" Senyum Eva terbit secerah mentari pagi. Memasang wajah terkejut yang bahagia.
"Benar, Nyonya. Coba Anda periksa ke dokter. Mungkin saja Anda memang sedang mengandung." Yang lain menimpali, memberi dukungan kepada Eva.
Eva tersenyum manis, selayaknya orang yang mendapatkan kejutan tak terduga.
"Ah, iya. Nanti aku akan periksakan ke dokter. Suamiku pasti bahagia mendengar ini. Memang akhir-akhir ini aku selalu merasa mual, terutama di pagi hari," ucap Eva melebih-lebihkan.
"Tidak salah lagi, Nyonya. Anda memang sedang mengandung. Dulu, saat aku mengandung anak pertama, aku juga merasakan hal yang sama." Antusias satu per satu dari rekan-rekan Eva mengatakan hal tersebut.
"Wah ... aku tidak sabar rasanya ingin memberitahu ini kepada suamiku." Eva beranjak. Berpamitan kepada semua teman-temannya seolah-olah memang merasa bahagia.
__ADS_1